Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Malam Romantis, Saat Gaza Gelap Gulita

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Januari 2010 12:24
Bagikan
Bagikan


Hidayatullah. com–BEBERAPA pekan terakhir, wilayah Jalur Gaza semakin gelap. Pekan lalu pihak pengelola satu-satunya pembangkit listrik di Gaza mengatakan, mereka tidak lagi dapat bertahan. Selain karena pembangkit listrik rusak berat akibat sering dihantam rudal-rudal Israel, bahan bakar pun tidak lagi tersedia, karena blokade Israel.

Sameeha Elwan seorang pelajar Gaza, mencoba tegar menghadapi segala tekanan yang dilakukan Israel kepada mereka. “Makan malam yang romantis,” katanya mengambil sisi terang dari suramnya malam yang mendera mereka, ketika Gaza semakin gelap gulita.

***

Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, kami menggelar candlelight dinner yang romantis. Tentu saja, terima kasih kepada Israel yang menjadikan keadaan demikian.

Menyalakan lilin di atas meja, bukan karena kami mempunyai acara spesial, tidak ada yang berulang tahun. Lilin, sudah menjadi kebutuhan pokok bagi kami penduduk Gaza. Lilin, menjadi satu-satunya sumber cahaya, karena kini tidak ada lagi aliran listrik.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Lampu-lampu padam. Ayah seperti biasanya bertanya jika ruangan tampak gelap, “Apakah listrik padam?”

Tertawa mendengar pertanyaannya, serentak kami menjawab–seperti biasanya, “Ya.”

Ibu mempersiapkan sesuatu di dapur. Ia agak kesal melihat peralatan dapurnya kini tak berdaya. Ia mulai mengutuk Israel, seperti sejak hari pertama mereka menginjakkan kakinya di tanah kami. Sadar peralatannya tidak lagi berguna sekarang, ia mulai mempersiapkan makan malam dengan “tangan kosong”.

Adik perempuanku, yang mengeluhkan membaca buku dalam keadaan gelap membuat kepalanya sakit, mencoba pergi ke kamar untuk segera tidur. Tapi matanya tidak dapat terpejam, maka ia pun mendekati ibu, yang kemudian menceritakan kisah perjalannya di masa lampau, ketika ia pergi ke Tepi Barat.

Kasihan Israel! Mereka tidak tahu, bahwa apapun yang mereka lakukan terhadap kami, tindakan mereka hanya menambah erat ikatan batin kami dengan tanah air tercinta.

Adik kecilku yang laki-laki, seorang penggemar klub sepakbola Barcelona, gusar karena ia lagi-lagi tidak bisa menyaksikan pertandingan klub kesayangannya. Tidak lagi bisa berteriak seru ketika para pemain andalannya melesakkan gol ke kandang lawan.

Sebenarnya, aku suka belajar dengan diterangi cahaya lilin. Rasanya romantis, dan perhatian tidak lagi terpecah dengan hal-hal yang bisa membuang waktu percuma, terutama saat musim ujian sekolah.

Sayangnya, tidak banyak orang yang memiliki perasaan dan pikiran yang sama. Banyak orang yang tidak bisa belajar hanya dengan sedikit cahaya dari lilin. Sebagian, karena memilki masalah dengan penglihatannya.

Ibu yang mulai kedinginan, meminta agar penghangat ruangan segera dinyalakan. Beliau lupa jika alat itu hanya bisa bekerja dengan tenaga listrik.

Aku jadi merinding, membayangkan banyak orang–dalam keadaan dingin yang mengigit seperti ini–tidak lagi memiliki tempat bernaung, karena rumah mereka rusak atau bahkan hancur lebur dihantam senjata-senjata Israel yang menyerang Gaza.

Berita yang dulu hanya rumor, kini menjadi kenyataan: Al-Dardasawi, direktur humas perusahaan listrik satu-satunya di Gaza, Sabtu pekan lalu mengumumkan bahwa mereka mulai kehabisan bahan bakar. Tidak ada alasan lain yang disampaikan, kecuali karena Israel memblokade masukknya bahan bakar ke Gaza.

Satu kebenaran yang lucu, tetapi pahit adalah, bahwa kami orang-orang Gaza sanggup bertahan dalam keadaan yang sangat buruk sekalipun. Kehidupan dalam kurungan blokade brutal Israel selama tiga tahun ini, yang mengajarkan kami untuk tetap bertahan.

Israel sedikit demi sedikit melucuti hak-hak asasi kami, hingga kami tak memiliki apa-apa lagi. Sebelumnya, mereka mengurangi jumlah bahan bakar yang boleh masuk ke Gaza, sehingga kami terpaksa harus hidup dalam kegelapan selama delapan jam setiap beberapa hari. Kami pun berusaha menyesuaikan diri, dan berpikir, “Baiklah, delapan jam setiap beberapa hari lebih baik daripada delapan jam setiap hari.”

Kemudian, persediaan bahan bakar pun semakin dikurangi oleh Israel. Hingga kami harus hidup tanpa listrik 8 hingga 10 jam setiap harinya. Kami pun berpikir, “Baiklah, kami sanggup mengatasinya. Kami masih ada listrik, meskipun sedikit. Bukankah separuh potong roti lebih baik daripada tidak ada sama sekali?”

Keadaan seperti ini sudah lama berlangsung. Tidak hanya dengan listrik, tapi juga dengan barang-barang kebutuhan dasar lainnya; makanan, bahan bakar, dan bahkan susu untuk anak-anak.

Israel melucuti hak-hak asasi kami, dan mereka ingin kami berterima kasih karena mereka mengembalikannya sedikit kepada kami. Sedikit dari banyak yang telah mereka ambil dari kami.

Apakah Israel dan seluruh dunia pikir, dengan mengembalikan sedikit dari apa yang sebenarnya menjadi milik kami, akan membuat kami lupa dengan kepungan yang tidak manusiawi ini, lupa dengan para pengungsi, lupa dengan hak untuk kembali ke tanah air, tanah kami yang dijajah, dengan Yerusalem?

Apakah mereka pikir kami akan berterima kasih, jika mereka mengembalikan apa yang sebenarnya memang milik kami?

Wahai Israel, kami tidak akan berterima kasih. Karena apa yang kalian beri, adalah memang sesungguhnya milik kami. Kami punya hak sebagai manusia. Kami punya hak sebagai orang Palestina.

Dan apakah setelah semua yang telah kalian perbuat kepada kami, kalian akan bertanya; “Mengapa orang Palestina marah?” [di/plt/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya “Begadang Jangan Begadang..”
Tulisan selanjutnya Janji Perubahan Obama Masih Sebatas “Mimpi”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP

Berita
21 Juli 2026 19:48
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade

Terbaru

  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
  • Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?