Hidayatullah.com | Siang bakda shalat zhuhur, beberapa pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Panceng, nampak sangat sibuk. Mereka tengah mendata pemilik dan mengecek semua fitur puluhan handphone yang tergeletak di hadapan mereka. Semuanya milik mahasantri, yang tengah menuntut ilmu di pesantren.
“Ini ada chatingan WA dengan seorang akhwat. Siapa dia?” tanya ustadz Arifin, kepala kepengasuhan.
“Itu adik kandung saya, Ustadz!” jawab si santri, berkulit sawo matang.
“Benar, ini adik kandungnya?” kejar sang ustadz, untuk memastikan sang santri tidak berbohong.
“Benar, Ustadz. Saya tidak berbohong!” tegas santri, tanpa ragu.
Memeriksa konten HP para mahasantri secara berkala, telah menjadi rutinitas yang dilakukan oleh pihak pengurus Pesantren Hidayatullah Panceng.
Hal itu dilakukan, ujar Arifin, untuk mencegah para mahasantri tak terjerumus ke dalam perilaku yang merusak. Termasuk hubungan dengan lawan jenis.
“Kalau para santri itu sudah menjalin hubungan pacaran, selain telah melanggar syariah, sudah dipastikan mereka tidak akan fokus belajar. Bahkan cenderung indisipliner,” terang ustadz asal Bandung ini.
Karena itu, ujar lulusan STAI Luqman al-Hakim, Surabaya ini, pihak pengurus mengatur sedemikian ketat masalah penggunaan gawai. Mulanya sehari-semalam dalam dua minggu. Selebihnya dikumpulkan di pengasuh. Bahkan baru-baru ini peraturan semakin diperketat.
“Melihat dampak buruk HP, pihak pengurus memutuskan untuk melarang penggunaan HP secara total. Alternatifnya, kalau mereka hendak menghubungi keluarga, bisa menggunakan HP/telepon pesantren,” jelasnya.
Selain dengan mengondisikan HP, pihak pesantren senantiasa memberi pemahaman kepada santri, tentang bahaya hubungan dengan lawan jenis, baik ditinjau dari segi budaya dan agama. Buahnya, tidak sedikit para santri yang menginsafi kekeliruannya.
Ada kejadian menggelitik. Dikisahkan oleh Abu Anis. Dalam sebuah kegiatan latihan ceramah, ada seorang mahasantri yang dengan jujur mengakui pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Hubungan itu terus belanjut sampai masuk ke pesantren. Berkat pencerahan dari para ustadz, atas kehendak Allah, mahasantri tadi dapat hidayah. Dalam ceramahnya itu ia kemudian mengaku telah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya.
“Ia bahkan berseru kepada teman-temannya, untuk mengikuti langkahnya; tidak pacaran,” kisah kepala pengkaderan ini.
Meski baru diterapkan pelarangan HP secara total, dampak positif lain dari larangan ini sudah bisa dirasakan. Para mahasantri jadi lebih fokus belajar. Minat membaca buku mereka pun semakin tinggi. Hal itu diungkapkan oleh Aulia, pengurus lainnya.
“Dalam mengisi waktu kosong, sekarang mahasantri banyak memanfaatkan dengan membaca buku. Pinjam di perpustakaan. Diskusi mereka pun topiknya kini beralih kepada tema buku yang mereka baca,” ujar lulusan al-Azhar, Mesir ini.
Selain soal pacaran yang berusaha dicegah, Pesantren Hidayatullah, Panceng juga, berupaya membiasakan para mahasantri untuk menegakkan sunnah-sunnah. Ini dilakukan, kata Abu Anis, agar mereka akrab dengan nilai-nilai Islam. Pada akhirnya menjadi gaya hidup mereka.
“Selain tahajud, para mahasantri juga dibiasakan untuk puasa Senin-Kamis, dan juga dituntun untuk sering membaca al-Qur’an dan menghafalnya,” terang Abu Anis.
Mahasantri di pesantren Hidayatullah, Panceng, merupakan mahasiswa STAI Luqman al-Hakim, Surabaya. Selama setahun, mereka dibina spiritualitas, intelektualitas, dan life skil mereka. Setelah lulus studi, mereka akan disebar ke masyarakat, di seluruh pelosok Indonesia, untuk mengemban amanah dakwah.
“Jumlah mahasantri kita yang telah diterjunkan ke daerah-daerah sudah ratusan. Di antaranya membina suku pedalaman Tugotil, di Halmahera. Ada juga yang mengabdikan diri di komunitas mualaf Hindu, Senduro, Lumajang,” ujar Damanhuri, pimpinan pesantren.
Merasa Beruntung
Sementara itu. Ketika ditanya kesan dengan pola pendidikan yang diterapkan di Pesantren Hidayatullah Panceng, Ari, mahasantri asal Halmahera, merasa sangat bersyukur dan beruntung.
Diakuinya, perantara pendidikan di pesantren tempatnya menuntut ilmu inilah, ia bisa memperbaiki diri. Khususnya dalam bidang akhlak dan bacaan al-Qur’an.
Ia bertutur, di pesantren yang beralamat Jl Daenles, Bukit Kukusan, Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur inilah untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mampu mengkhatamkan al-Qur’an.
Ia mengisahkan. Ketika awal masuk, pihak pesantren menggulirkan gerakan satu juz satu hari, pada program ‘idad (persiapan).
“Alhamdulillah, saya berhasil khatam dalam satu juz. Sangat terharu. Sehingga saya sampai menghadap kepada seorang ustadz, dan mengungkapkan kebahagiaan bisa mengkhatamkan bacaan al-Qur’an,” ungkapnya.* (Khairul Hibri)