Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Mapan Tapi Kok Tidak Tenteram?

Bambang S
Terakhir diupdate: 14 November 2020 08:54 8:54 am
Bambang S
Dipublikasikan 14 November 2020 08:54
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | SEMENJAK saya kuliah semester 3, saya sudah terbiasa bekerja. Ya, bekerja untuk bisa bertahan hidup, dan membayar SPP tiap semester. Karena saat itu bapak saya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga (Rahimahullah) telah menghadap Sang Khaliq, sedangkan ibu saya tidak bekerja. Maka kuliah sambil bekerjapun harus dilakukan selama 3 tahun sampai saya lulus.

Sambil kuliah, saya bekerja di Unit Pelaksana Teknis Komputer dan Laboratorium Komputer terpadu di kampus. Alhamdulillah semuanya dimudahkan Allah SWT, hingga saya bisa lulus kuliah dengan predikat terbaik di Jurusan Teknik Mesin.

Tak lama setelah selesai wisuda, saya melamar di perusahaan rokok. Akhirnya diterima di perusahaan itu sebagai Junior Supervisor. Imbalan gajinya berlipat-lipat dibandingkan gaji saat masih bekerja di kampus. Alhamdulillah, saat itu sungguh senang rasanya.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun ke tahun saya lalui, saya terus belajar dan bekerja keras. Saya meniti karir dan mengejar prestasi selama 9 tahun di perusahaan itu.

Prestasi demi prestasi berhasil saya raih. Terakhir saya berposisi sebagai kepala teknik maintenance, dan tentunya dengan gaji dan fasilitas yang sangat baik.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Namun entah mengapa, selama 9 tahun ini hidup saya kurang tenang dan bahagia. Dengan mengandalkan gaji besar yang saya dapat, pola hidup sudah mulai berubah. Misalnya tertarik akan kredit ini dan itu. Akhirnya gaji sebulan pun tidak cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Singkatnya, gaji tinggi itu seolah lewat begitu saja tak berbekas. Saya tidak bisa menabung, bahkan justru nambah utang semisal di koperasi karyawan. Saya pun mulai terjerat utang dan riba.

Semakin hari rasanya tidak semakin tenang hidup ini. Masalah demi masalah berdatangan silih berganti. Kenapa semua bisa menjadi seperti ini, ya Rabb?

Saat itu saya banyak merenung, terus minta petunjuk dan pertolongan Allah SWT, agar bisa diberikan kemudahan untuk menghadapi ini semua.

Suatu saat saya mengikuti sebuah kajian. Ada jamaah yang bertanya, “Ustadz, bagaimana hukumnya bekerja di perusahaan rokok?”

Ustadz tersebut lantas menjelaskan panjang lebar tentang mudharatnya rokok, bekerja di perusahaan rokok, hingga hal-hal lainnya. Kesimpulannya, pekerjaan itu harus dihindari.

“Kalau Anda punya anak kecil, apakah Anda perbolehkan dan rela dia merokok?” tanya ustadz itu kepada jamaah.

Jleb! Saya lantas teringat anak-anak saya yang masih kecil.

Saya merasa tertohok, tapi tetap berusaha membela diri. Toh saya niatkan pekerjaan itu untuk memberi nafkah keluarga. Saya sendiri tidak merokok, meski setiap hari bergelut dengan dunia rokok.

Sempat ada teman yang mengatakan, “Kalau nyemplung (mencebur) di laut itu ya harus merasakan air asin. Bekerja di perusahaan rokok kok tidak merokok, itu namanya tidak nyemplung.”

Akhirnya saya berusaha “belajar” merokok supaya bisa “menjiwai” pekerjaan. Namun ternyata tidak ada nikmatnya. Saya pun tetap tidak merokok, meskipun di kantor mendapat fasilitas bisa merokok sepuasnya.

Beratnya Ujian

Nah, pesan ustadz itu terasa menggelisahkan. Apalagi jika mengingat kehidupan saya sehari-hari yang tidak kunjung merasakan kenyamanan dan ketenangan. Inikah yang namanya hidup kurang berkah?

Saya kemudian memutuskan untuk resign. Atasan saya berusaha mencegah, dengan mengatakan, “Apa gaji kamu kurang? Akan saya siapkan dan uruskan kenaikkan gaji dan grade kamu.”

Proses resign sempat ditunda-tunda. Akhirnya saya melamar bekerja di perusahaan lain. Setelah diterima, barulah saya bisa lepas dari perusahaan rokok itu. Alhamdulillah.

Namun di perusahaan baru itu hanya saya jalani sekitar empat bulan, karena memang itu hanya strategi agar bisa lepas dari perusahaan rokok. Selanjutnya, saya memulai usaha sendiri.

Awalnya merintis usaha bersama istri tercinta dengan jualan busana Muslimah. Ternyata tidak mudah juga, karena perlu ilmu dan pengalaman.

Akhirnya usaha ini tidak jalan. Sisa barangnya saya bagi-bagi ke siapapun yang berminat. Saya niatkan untuk sedekah, semoga bisa membersihkan riba dan harta haram yang selama ini saya peroleh.

Kemudian saya mencoba usaha lain dengan jualan sprei waterproof dan sari kedelai. Awalnya berjalan baik, namun lama-lama tersendat karena ketatnya persaingan. Usaha ini pun akhirnya berhenti.

Ekonomi keluarga jadi morat-marit. Uang tabungan yang berasal dari pesangon perusahaan akhirnya habis. Masya’Allah, betapa berat ujian ini.

Namun saya berusaha untuk terus maju, tidak ingin kembali ke kehidupan kelam masa lalu. Beruntung saya kenal dengan teman-teman yang juga hijrah dari gelimang riba dan berbagai aktivitas negatif lainnya. Mereka terus memotivasi sehingga bisa menguatkan hati.

Memang inilah salah satu titik cobaan terberat bagi teman-teman yang hijrah. Bermula dari kehidupan mapan (secara ekonomi), ada gaji bulanan, gaya hidup serba ada, lantas tidak memiliki penghasilan yang jelas. Tidak semua teman mampu menjalaninya.

Alhamdulillah, saya bersama beberapa teman kini berlabuh di sebuah perusahaan yang kondusif untuk mensinergikan antara aktivitas ibadah dan muamalah. Di perusahaan ini, saya bisa leluasa beribadah, mengaji, ta’lim, dan sebagainya, dengan tetap beraktivitas secara profesional.

Satu hal yang lebih membahagiakan, perusahaan kami juga sering berbagi kepada sesama. Misalnya menyalurkan bantuan ke daerah bencana dan melaksanakan berbagai aktivitas sosial.

Saya kemudian ingat sabda Nabi ﷺ, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (Riwayat Ahmad dan ath-Thabrani).

Kini saya merasakan hidup ini lebih nyaman dan bermakna. Semoga bisa istiqamah. Amin.*/Diceritakan  Yulianto kepada Majalah Suara Hidayatullah

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gaji tinggihidup damaikaya rayaMapanpabrik rokokTentram
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Obat Mata dari Nabi
Tulisan selanjutnya PBB: Perahu Migran Karam di Lepas Pantai Libya, Hanya 3 Selamat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?