Hidayatullah.com | SENIN, 13 April lalu, pukul 23.30 WIB saya dibangunkan istri. Ia memberitahu bahwa Kang Dadi meninggal dunia.
Istri, saat itu baru selesai mengedit beberapa tulisan untuk penerbit buku.
Deg. Saya terkejut.
Saya hidupkan handphone (HP), lalu buka beberapa grup WhatsApp (WA).
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
Beberapa nama muncul. Mencoba menghubungi nomor HP saya.
Seakan tak percaya. Sebab, 27 Maret lalu, Kang Dadi memberitahu saya melalui WA. “Masa kritis sudah lewat. Sekarang lagi pemulihan. Baru bisa makan dan aktivitas lain yang ringan.”
Pada 31 Maret, saya terima lagi pesan via WA dari Kang Dadi. “Mohon doanya dari kawan-kawan semua.”
Saya balas, ”Insya Allah Kang, banyak kawan-kawan yang mendoakan agar Kang Dadi kembali sehat, diberi kesabaran dan ridha atas ujian-Nya.”
Setelah itu, lost contact.
Jam menunjukan pukul 01.00 WIB dini hari. Saya teringat sekian puluh tahun yang lalu.
Suatu hari di tahun 1991, seorang lelaki kurus berkacamata itu beruluk salam. Saat itu, saya dan Ustadz Ainur Rofiq (alm), pimpinan Yayasan Hayatan Thayyibah Pesantren Hidayatullah Bandung mempersilakan masuk.
Rumah kontrakan yang dijadikan pesantren itu terletak di Jl. Melong 1B/104, Cikawao, Karapitan, Bandung, Jawa Barat. Dan baru beberapa bulan saja tercatat dalam akta notaris.
Pria kalem itu duduk di sudut kursi ruang tamu berukuran 4×5 meter. Sambil memegang majalah Suara Hidayatullah, ia memperkenalkan diri.
Namanya Dadi Purwadi. Lulusan Pesantren Gontor tahun 1988.
Kini, sosok pria kelahiran Bandung, 22 November 1968 itu telah tiada. Kang Dadi, begitu saya memanggilnya, wafat di RS Boromeus Bandung, Senin, 13 April 2020, pukul 18.20 WIB setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya.
Penulis mengenal Kang Dadi sebagai sosok yang baik. Penampilannya sederhana. Senang membantu dan berbagi ilmu. Tegas dan juga pandai bergaul.
Sejak bergabung dengan Pesantren Hidayatullah Bandung, ia diamanahi membantu administrasi keuangan pesantren dan mengajar bahasa Arab untuk para santri.
Dalam waktu yang sama, ia kuliah di STIE YPKP Bandung dan aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK).
Sepekan tiga kali, Kang Dadi ke pesantren. Naik sepeda balap. Semua tugas dilaksanakan dengan totalitas. Ikhlas tanpa pamrih.
“Dulu saya dikasih majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 1992 oleh Pak Dadi. Sejak itu, saya mengenal Hidayatullah dan aktif di LDK,” ujar Rahmat Hidayat, Kepala Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Jawa Barat.
Jejak Kebaikan
Tahun 1995, Kang Dadi ditugaskan di kantor Majalah Suara Hidayatullah Jakarta sebagai staf keuangan.
Di sini sejarah kembali mencatat jejaknya.
Anda tahu merek kosmetik Wardah yang terkenal itu? Ternyata Kang Dadi menjadi salah satu sosok penting di baliknya.
“Pak Dadi memberi saya tiga nama merek, salah satunya Wardah yang artinya bunga mawar. Saya pilih Wardah, lalu saya urus ke kantor yang ngurus merek dagang. Hingga akhirnya saya memproduksi Wardah,” ujar Nurhayati Subakat, Presiden Komisaris PT Paragon Technology and Innovation, yang menaungi merek Wardah.
Kang Dadi juga dekat dengan Tuan Haji Ismail bin Haji Ahmad, pendiri sekaligus pemilik Herba Penawar al-Wahida (HPA) International yang bermarkas di Malaysia.
Seperti dituturkan oleh Agus Hidayat, sahabat dekatnya. Tahun 2001 Kang Dadi mengikuti kegiatan HPA di Jakarta. Sejak pertemuan itu, Tuan Haji Ismail “jatuh cinta”, sehingga meminta Agus dan Kang Dadi membuat acara serupa di Bandung.
Agus dan Dadi terus merintis HPA di Bandung. Mereka sering bolak-balik ke Malaysia. Berbagai acara HPAI pun telah digelar di berbagai kota di Indonesia. Di antaranya, Pelatihan Perubatan Jawi pada Desember 2005 di Lembang, Bandung, yang diikuti lebih dari 700 peserta.
Berbagai buku tentang pengobatan telah ditulisnya bersama Tuan Haji Ismail, seperti Perubahan Jawi: Teknik Diagnosa dan Rawatan, dan Pembentukan Tulang Belakang: Kaidah Perubahan Jawi.
“Ibarat mata uang, tidak bisa dipisahkan, saya dan Pak Dadi aktif di Hidayatullah lalu di HPA. Ia orangnya senang menolong dan berbagi ilmu,” kata Agus Hidayat.
Kang Dadi juga aktif di Forum Bisnis IKPM Gontor (Forbis) wilayah Bandung. Teman seangkatan Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) sewaktu nyantri di Pesantren Gontor ini sering mengadakan kegiatan coaching, khususnya dalam bidang industri kreatif seperti gantungan kunci, plakat, dan bermacam souvenir. Workshop-nya, di wilayah Cibeunying, Bandung.
Ayah tiga anak (Zahra Amaturrahman, Salma, dan Abdul Malik) ini dikenal sebagai sosok suami dan ayah yang ideal.
“Saya kemana-mana sama beliau. Ke pasar pun diantar, juga jalan-jalan bersama keluarga setiap Ahad di Car Free Day,” kata Irma Savitri, istrinya.
“Semoga almarhum husnul khatimah. Kita kehilangan orang yang baik,” ujar Nurhayati Subakat.
Selamat jalan sahabatku. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wafu ‘anhu.
Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan menempatkannya di Surga bersama orang-orang yang shaleh. Aamiin.* Dadang Kusmayadi