Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Tinggal di Gua, Keluarga Afghanistan Berjuang Hidup di Musim Dingin Terparah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Februari 2023 21:20 9:20 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Februari 2023 21:18
Bagikan
Keluarga Afghanistan bertahan hidup dalam kemiskinan dan musim dingin (UNHCR)
Bagikan

Gua sempit, menawarkan perlindungan dari musim dingin yang menggigit. Fatima berjuang bertahan hidup selama delapan bulan terakhir

Hidayatullah.com—Seorang ibu, sebut saja namanya Fatima. Ia sedang memangku anak bungsunya, sementara dua anaknya yang lain berlarian di sebuah ruang gua yang sempit, tempat mereka tinggal.

Fatima diam saja, tak bereaksi sama sekali, sebab fisiknya terlalu lemah. Fatima hidup sendirian dengan anak-anaknya itu, kutip laman UNHCR.

Adapun kerabatnya mengungsi ke distrik lain sekitar 100 kilometer jauhnya, ketika konflik meningkat di provinsi Bamyan di wilayah pegunungan tengah dataran tinggi Afghanistan (tahun 2020). Fatima pun telah bercerai dengan suaminya, yang menjadi pecandu narkoba. Sedangkan ibu dan saudara laki-lakinya mengungsi di wilayah Iran.

Fatima terus berjuang untuk hidup di daerah itu selama delapan bulan terakhir. Tempat itu berada di daerah gua berusia berabad-abad di lereng bukit, dekat tempat bersejarah yang dulunya ada patung Budha, patung monumental abad keenam yang telah dihancurkan pada tahun 2001.

Baca Juga

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Kisah Mualaf Big Frank, Influencer Penuh Tato asal Inggris
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Gua ini sempit, tetapi menawarkan perlindungan dari musim dingin yang menggigit.  “Kami tidak punya tempat lain untuk tinggal, Kami tidak mampu membayar sewa rumah,” ujarnya kepada tim pemantau Badan Pengungsi PBB (UNHCR).

Fatima berusaha membuat tempat itu nyaman dengan bantal, karpet pemberian tetangga yang mengungsi, dan kompor kecil. Tentu saja tinnggal di tempat semacam itu “tidak mudah”.

“Jika musim panas, ada banyak kalajengking. Saya takut hewan itu menggigit anak-anak, sebab ada terus di siang maupun malam,” katanya.

Cuaca dingin ekstrim

Pada bulan Juli 2022, tim pemantau UNHCR menemukan keluarga Fatima yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Tim kemudian memberikan bantuan uang tunai untuk kebutuhan yang mendesak.

Baru-baru ini, Fatima menerima bantuan hibah lagi untuk membantunya melewati musim dingin dan beberapa selimut. “Semua yang Anda lihat di sini, saya beli dengan uang dari UNHCR,” kata Fatima sambil menunjuk ke sekelilingnya. “Jika saya tidak mendapatkan bantuan, situasi saya akan sangat buruk.”

Tetapi bantuan semacam itu tidak bisa diterima secara rutin atau menjadi penghasilan. Seringkali Fatima harus membuat beberapa keputusan darurat untuk memastikan kelangsungan hidup keluarganya.

Pada salah satu momen tersulitnya –sebelum menerima bantuan UNHCR– dia memutuskan untuk memberikan salah satu putra bungsunya (yang lahir kembar) kepada saudara laki-lakinya yang tidak memiliki anak dan sekarang tinggal di Iran.

“Saat itu, saya berada dalam situasi yang buruk; sulit memberi makan anak-anak dan anak-anak sakit. Saya pikir ini adalah satu-satunya solusi. Tapi sekarang, sebagai seorang ibu, saya tidak bisa memberitahu Anda betapa saya menderita. Itu adalah keputusan terburuk yang pernah saya buat,” katanya.

“Mungkin anak saya memiliki kesempatan yang lebih baik, masa depan yang lebih baik dengan saudara laki-laki saya … tapi itu sangat menyakitkan saya,” lanjutnya.

Keputusan sulit semacam itu tidak hanya dialami Fatima dan keluarganya. Orang-orang yang tinggal di provinsi Bamyan –wilayah tertinggi di Afghanistan dan salah satu yang terdingin– terbiasa dengan musim dingin yang ekstrim.

Tapi tahun ini adalah yang terdingin dalam lebih dari satu dekade. Cuaca yang brutal itu telah menghantam wilayah paling miskin dan keluarga rentan seperti Fatima, serta membuat jutaan warga Afghanistan menderita.

Menurut catatan badan bantuan kemanusiaan, diperkirakan ada 28,3 juta orang –sekitar dua pertiga dari total populasi–amat membutuhkan bantuan kemanusiaan pada tahun 2023 ini. Sedangkan 6 juta di antaranya sudah sangat dekat dengan kelaparan.

Bergantung bantuan

Kondisi ekonomi Afghanistan saat ini terjun bebas. Harga makanan meroket. Banyak keluarga yang putus asa.

Untuk bertahan hidup, mereka akhirnya utang kepada tetangga atau siapapun. Kesulitan sekecil apapun dapat menjerumuskan mereka ke dalam jeratan utang.

Di desa Surkhqul, ada ibu enam anak yang terjerat utang 600.000 Afghani (US$6.730) untuk perawatan rumah sakit ayah mertuanya di Kabul. Sang ayah akhirnya meninggal.

Mereka juga harus utang ke pemilik toko roti. Sedangkan suaminya seorang buruh lepas dan sering kesulitan mencari pekerjaan, terutama selama musim dingin yang keras.

“Saya sangat khawatir karena kami memiliki pinjaman besar dan saya tidak tahu bagaimana dapat membayarnya kembali,” katanya.

Dua bulan lalu, keluarga tersebut menerima bantuan tunai dari UNHCR. Namun prioritas utama mereka adalah membeli makanan. “Kami bisa makan. Itu juga membantu kami membeli bahan pemanas seperti batu bara dan kayu. Itu sangat penting bagi kami. Tapi sekarang uangnya sudah habis,” katanya.

“Saya tidak akan pernah memaksa anak perempuan saya untuk menikah muda … tetapi kami mungkin harus mulai berpikir untuk mengirim anak-anak untuk bekerja, meskipun saat ini mereka masih terlalu muda.”

“Sekarang, anak perempuan saya mengumpulkan kotoran hewan untuk dibakar agar kami tetap hangat. Terkadang kami makan, tetapi terkadang kami kelaparan dan harus melewatkan waktu makan. Kami sedang berjuang.”

Hal serupa dialami Sara, seorang ibu lima anak. Ia sedang hamil dua bulan ketika suaminya meninggal 1,5 tahun yang lalu. Mereka sekarang bergantung pada bantuan amal dan UNHCR untuk kelangsungan hidup keluarganya.

Bantuan insidental itu digunakan untuk kebutuhan mendesak, seperti membeli kompor kayu bakar yang digunakan untuk memasak dan sebagai pemanas ruangan. Sara sekeluarga tidur berhimpitan dalam satu kamar.

“Musim dingin ini lebih dingin dari musim dingin biasanya. Tapi sekarang kami punya kompor, punya arang dan kayu sehingga kami semua lebih hangat,” ujarnya.

“Kalau bantuan dari UNHCR tidak kunjung datang, akan sangat sulit. Saya harus mengemis untuk bertahan hidup,” pungkasnya.*/Abu Raiyan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AfghanistanHeadlinekeluarga afghanistanmusim dinginPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya RI Kirim 65 Tenaga Medis dan 2,5 Ton Logistik Kesehatan untuk Korban Gempa Turki-Suriah
Tulisan selanjutnya Agama adalah Pandu

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negara-Negara Muslim Sambut Keputusan 12 Negara Barat Mensanksi ‘Israel’

Berita
10 September 2026 05:00
Penasihat Trump Khawatir Perang Iran Berlangsung Bertahun-tahun
11 Negara Eropa dan Kanada Sepakati Larangan Dagang dengan Permukiman Ilegal ‘Israel’
Silver Economy, Cara Turki Hadapi Naiknya Populasi Lansia
Turki akan Mengebor Minyak di Laut Hitam

Terbaru

  • Pameran Kaligrafi Internasional 2026 di Semarang Hadirkan 250 Karya dari 50 Negara
  • MUI Tegaskan Peringatan Maulid Nabi Tak Semestinya Bernuansa Satanic
  • Hidayatullah: Umat Islam Harus Berpolitik dengan Tauhid
  • Al-‘Aqabah: Jalan Terjal Menuju Peradaban Fitrah
  • Erdogan: Pakta Pertahanan Makkah adalah Sinyal Persatuan bagi Dunia Islam
  • Publik Amerika Lebih Pilih Dukung Palestina daripada ‘Israel’
  • Norwegia Ancam Penjara 3 Tahun bagi Perusahaan yang Berdagang dengan Permukiman Israel
  • Teror Bandit Merebak di Nigeria, Enam Imam Diculik
  • 900 Tahun Islam di Maladewa, Presiden Muizzu Resmikan Lembaga Investasi Wakaf untuk Makmurkan Rakyat
  • Maladewa Peringati 900 Tahun Memeluk Islam

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

30 Juni 2026 16:15
Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

30 Mei 2026 17:30
Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?