Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Corona, Membawaku Mencicipi ‘Dakwah’ di Pedalaman Halmahera

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Agustus 2021 05:47 5:47 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Agustus 2021 05:47
Bagikan
Nashirul Haq saat menuju lokasi Suku Togutil (ISTIMEWA)
Bagikan

Hidayatullah.com | TEPAT di bulan Ramadhan ini, sudah setahun aku mengabdikan diri berdakwah di pedalaman Halmahera. Tepatnya wilayah dimana Suku Tugotil berada.

Aku yang berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah, memilih jalan ini, atas dasar keterpanggilan diri. Meski sejatinya meyakini kemampuan belum mumpuni. Tapi sekali lagi, panggilan hati dan kehendak Allah  jua yang menggerakkan.

Sebelum ini, para senior sudah banyak mengabdi di sana. Dari cerita yang aku dengar, banyak dibutuhkan tenaga dai untuk membina mualaf di daerah pedalaman. Para dai dibutuhkan mengenalkan Islam,  mengajarkan mereka al-Qur’an, sholat, dan kehidupan yang normal lazimnya masyarakat biasa.

Kehidupan normal?

Ya. Mungkin Anda kaget, para dai perlu membangu kaum suku nomaden yang belum mengenal peradaban ini untuk bisa hidup seperti kita. Mereka adalah suku yang masih sangat ‘lugu.’ Jangankan HP, gagdet, dan benda-benda elektronik lainnya. Bahkan cara berpakaian dan menjaga kebersihan badan saja masih belum bisa.

Baca Juga

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi
Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam
Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’
Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

Mereka sudah terbiasa tidak mandi berhari-hari di hutan. Juga tak mengganti baju meski sudah menempel debu dan tanah di seluh badannya. Hal itu tak membuat rishi, karena begitu sejak lahir kehidupannya.

Kelompok inilah yang menjadi objek utama dakwah.

Eh, ada lagi kebiasaan suku ini yang benar-benar menguji nyali setiap dai. Mereka tak sungkan menombak orang asing yang kurang mereka sukai, khususnya dianggap mengancam mereka.

Sebaliknya, jika sudah percaya dengan orang yang memberi rasa aman, tak segan berkorban untuknya. Contohnya, adalah seorang senior, yang kini menjadip mereka.

Sebuh saja Abdullah, beliau sudah ada di hati mereka. Bahkan selalu dinanti kedatangannya. Bila ada kabar kunjungan, mereka tidak segan turun gunung untuk menjumpainya.

Baca: Puluhan Warga Suku Toguti Masuk Islam, Butuh Sentuhan Dai

Hikmah Pandemi

Aku sebenarnya masih berstatus mahasiswa di kampus STAI Luqman al-Hakim Surabaya. Biasanya, setiap tahun, kampusku punya acara tersendiri untuk mengirim mahasiswa ke berbagai tempat untuk melakukan Safari Dakwah.

Tapi, karena pandemi Covid-19, program tahunan itu ditiadakan.Yang menyedihkan,  para mahasiswa dipulangkan semua, karena aturan pemerintah harus mengadakan perkuliahan secara on line.

Kondisi ini membuatku bingung.  Alhasil, aku memilih jalur berbeda dari teman-teman lain. Khawatir di rumah tidak melakukan aktivitas, aku tertarik ajakan seniorku, yang telah mengabdil dan menjadi pembina muallaf Suku Togutil.

Dengan izin Allah, akhirnya aku berangkat ke sana. Sampai di lokasi, ternyata kondisi lapangan jauh dari yang aku bayangan. Lokasi yang sangan sukar untuk ditaklukkan, terutama bagian pegunungan.

Betapa tidak. Selain berupa lumuran lumpur, wilayah tujuan dikenal dengan krikil dan batu, juga berada di antara himpitan gundukan gunung yang menjulang tinggi, lagi rawan longsor. Di sisi lain, jurang yang curam seolah menunggu kita jika kepleset.

Bahkan, ada bagian ruas jalan yang lebarnya hanya selebar roda motor. Posisinya pas di bibir jurang lagi. Terang aku dan teman yang tak  terbiasa dengan medan demikian serasa ciut juga nyali untuk melintasi. Tapi karena sudah membawa amanah para dermawan, tetap harus dikirim dan ditunaikan.

Suatu ketika, rombongan kami kesulitan menembus medan. Sambil mencari-cari alternatif, akhirnya ketemu cara. Kami mungkin bisa aman dengan cara mengangkat sepeda motor untuk melewati ‘jalur maut’ itu. Terpaksa harus menyewa empat tenaga warga setempat.

Alhamdulillah, kami semua selamat.  Sambil merenung, aku yakin, ini semua doa orangtua dan jamaahlah, yang memberi kelancaran kami mengabdikan diri di pedalaman ini.

Baca: Ramadhan Bersama Suku Togutil

Disambut Dingin

Pertama kali rombongan kami datang menjumpai warga Suku Tugotil tidak lah manis. Wajah-wajah mereka rupanya tidak menyambutku dengan ramah. Hal ini terbaca dari respon yang ditunjukkan.

Kami memilih balik kanan,  menunggu seorang ustad senior, yang memang telah menjalin hubungan akrab dengan warga suku. Selang tiga hari, sang ustadz  datang. Dan benar saja, respon warga akhirnya sangat positif.

Setelah beberapa hari tinggal bersama mereka, kebekuan pun mulai mencair. Masyarakat mulai aktif mengaji. Dari anak-anak sampai orang dewasa rela belajar.

Pertama kali aku mengajar sempat kaget. Aroma tidak sedap memenuhi selueuh ruangan. Maklum, mereka adalah orang-orang yang baru belajar kebersihan.

Jalan menuru lokasi masih alami

Aku mengajarkan ilmu-ilmu yang sederhana, yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Hanya mengajarkan bagaimana cara memakai sarung, cara mandi dan bersuci,  dan rupanya sangat bermanfaat bagi mereka. Alhamdulillah.

Meski pengalaman ini hanya beberapa hari, sungguh sangat berarti bagiku. Mohon terus didoakan agar kami terus berada di tempat perjuangan.

Aku sendiri akan masih tetap tinggal di sini, minimal selesai puasa tahun ini. Maklum, karena masih berstatus mahasiswa, jadi aku harus menyelesaikan studi.

Penyebaran hewan qurban Idul Adha untuk warga Suku Togutil di pedalaman Halmahera Timur, Maluku Utara, September 2017

Bagaimanapun, ada banyak pelajaran berarti. Bahwa untuk terjun di masyarakat,  sekalipun di pedalaman, tidaklah cukup dengan modal mental saja. Tapi, berdakwah juga harus ditopang dengan ilmu yang matang dan ruhiah yang kuat.

Pedalaman Halmahera, telah membawaku berbeda. Setidaknya, saya semakin merasakan pentingnya dakwah. Itulah azam yang aku tancapkan pada hati, setidaknya, nanti kalau telah kembali ke kampus.

Insya Allah, aku akan meminta doa kepada orangtua, dan saudara sesama muslim, semoga Allah mengabulkan segala hajat dan urusan. Aamiin.*

Sebagaimana yang dikisahkan oleh M Nashirul Haq kepada Hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:coronadakwahHalmaheraPedalaman HalmaheraSuku Togutil
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya kelab malam Pemerintah Lagos Haramkan Pengemis Jalanan
Tulisan selanjutnya Perumpamaan Dunia dan Akhirat seperti Air Laut dan Jari

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Buka Bersama di Dam Square: Tikar Persaudaraan di Jantung Amsterdam

15 Maret 2026 16:19
Feature

South Lakes Islamic Centre Sambut Ramadhan dengan Buka Pintu bagi Jamaah dan Warga Non-Muslim

27 Februari 2026 07:00
Cermin

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta

3 Januari 2026 19:57
Feature

Mas Jazir: Dari Romo Mangun Sampai Masjidil Aqsha (bagian kedua)

26 Desember 2025 17:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?