sambungan dari ARTIKEL pertama
Goes to Campus
Ririn mengatakan, selain SPNI, nantinya APWA akan dikembangkan sebagai wedding organizer. Tidak hanya sekadar menggelar resepi, tapi juga menawarkan jasa konsultasi resepsi pernikahan sesuai syariah. Bahkan jika diperlukan, pihak APWA akan membantu mengkomunikasikannya pada keluarga.
APWA sudah mulai merintisnya dari kalangan internal manajemen. Tahun 2012 lalu, pernikahan Daus dan Rina yang diselenggarakan di markas besar AQL di Tebet, merupakan hasil kerjasama dengan APWA.
Hanya selang sehari, APWA kembali menangani pernikahan Tommy dan Elly. Kedua pasangan itu sampai kini masih aktif bergabung di sana.
Tidak menutup kemungkinan APWA akan goes to campus. Kebutuhan seminar dan perkuliahan semacam ini dinilai begitu besar. Permintaan dari berbagai daerah tinggi. Mereka kini sedang menyiapkan infrastruktur untuk melayani permintaan tersebut.
APWA juga berhasil menggulirkan Majelis Malam Ahad (MMA). Acara itu sejenis kajian yang mengetengahkan tema-tema popular tentang pernikahan.
Di antara yang sudah pernah diselenggarakan adalah; “Sudah Siapkah Aku Menikah?, “Di Jalan Allah Aku Menikah”, “Bukan Pernikahan Cinderella”, merupakan beberapa judul MMA.
Menurut Ririn, MMA ini diadakan untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat yang belum punya kesempatan mengikuti KPNI. Diharapkan, seminar yang diadakan setiap bulannya itu menggugah peserta memiliki visi pernikahan islami.
Menautkan Hati yang Terpisah
Salah satu keberkahan KPNI adalah menjadi ajang ta’aruf diantara pesertanya. Contohnya adalah Ririn sendiri dan suaminya, Fajri Al Kautsar.
Mereka merupakan dua sejoli yang merasakan manfaatnya mengikuti kursus tersebut. Keduanya sama-sama peserta angkatan pertama dan merupakan jamaah Ustadz Bachtiar ketika lokasi AQLIC masih di Jalan Karangasem, Kuningan, Jakarta Selatan.
Mengenang pertemuannya dengan sang suami, mantan Apoteker itu bercerita, “Aku tuh padahal gak pernah ngelihat dia di kelas. Karena aku kerja kantor sesuai jam shifting. Kalau di kelas, aku datang paling telat, pulang paling duluan,”tuturnya sambil tergelak. Hal yang kontras terjadi dengan Fajri. Pria yang memiliki usia yang sama dengan isterinya itu dikenal paling rajin di kelas.
“Iya, mbak. Kata para senior, dia datang sebelum kelas dimulai. Malah dia ikutan gotong-gotong kursi, mberesin meja,”ucapnya sambil tergelak.
Ketika memutuskan untuk mengikuti KPNI, Ririn sudah berniat menikah dalam waktu dekat.
“Tapi baru kejadiannya setahun kemudian,”ulasnya. Itulah yang menurutnya, pernikahan memerlukan ilmu dan kesabaran.
Pertemuan keduanya yang pertama kali saat silaturahim bersama alumni KPNI di rumah Ustadz Bachtiar tahun 2011. Saat itu kelas batch I sudah berakhir.
“Waktu itu saya ngomel-ngomel sama mas Made,”ulasnya. Kemudian lulusan Farmasi Unair, Surabaya itu melanjutkan, “Iya, ngomel-ngomel karena saya enggak diikutkan kepanitiaan buka puasa.”
Made yang disebutkan Ririn adalah asisten Ustadz Bachtiar. Akhirnya Made mengenalkan Fajri selaku ketua panitia, pada Ririn.
“Dia juga ikut saya omelin. Tapi dia cuma diam saja,”kembali perempuan ini tertawa kecil.
Kenangan manis itu melekat dalam ingatan dalam dirinya. Kenangan itu menghantarkan keduanya sampai ke pelaminan.
Sudah dua tahun belakangan pasangan ini menjadi panitia KPNI. Kebersamaan mereka makin terasa ketika Fajri terpilih menjadi Ketua APWA sejak tahun 2012. Kemana-mana selalu berdua, hilir mudik keluar masuk ruangan kelas KPNI. Hampir bisa dikatakan, setiap ada Fajri, pasti ada Ririn. Begitu juga sebaliknya, kalau ada Ririn pasti ada Fajri.
Ririn yang tidak mau dipublikasikan proses ta’arufnya itu memang terlihat sangat aktif di APWA. Bersama alumni KPNI dan pengurus inti APWA, Ia dan Fajri ikut membidani SPNI lalu yang menargetkan 2000 orang peserta.
“Waktu itu kami minder dan bingung. Banyak seminar pra nikah diadakan sama yang lain. Apa mereka masih mau ikutan SPNI?” katanya.
Tapi kemudian mereka semua diingatkan oleh Ustadz Bachtiar. “Lihat di Tanah Abang sana! Ada berapa lantai dan berapa ratus toko kain? Tapi apakah mereka tutup?”Ririn menirukan kembali ucapan gurunya itu. Nasihat Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) itu meningkatkan adrenalin mereka untuk terus menggiatkan semua channel sosial media untuk pemasaran dan memberikan pelayanan prima.*/Rias Andriati