Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Perjuangan Hidup Korban Erupsi Merapi

Ahmad
Terakhir diupdate:
Ahmad
Dipublikasikan 4 April 2011 20:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Jalan beraspal menuju ujung Dukuh Kinahrejo itu ditutup portal besi. Portal itu diberi dua warna, hitam, dan putih. Di tengahnya diberi piringan bulat dengan garis merah. Itu berarti, setiap pengunjung dilarang masuk dengan membawa kendaraan pribadi.

“Enggak boleh masuk bawa motor mas. Harus sewa ojek,” kata Warsito, salah satu petugas pos kepada hidayatullah.com.

Kebijakan itu, kata Warsito, dibuat untuk membantu perekonomian warga Kinahrejo pascaerupsi. Sebab, warga tak lagi memiliki harta benda. Harta mereka banyak yang ludes dilahap wedhus gembel. “Jasa ojek sekali antar bolak-balik 20- 30 ribu. Boleh lebih kalau mau sedekah,” paparnya.

Kendati cukup mahal, tapi banyak pengunjung yang menggunakan jasa tersebut. Saat itu saja, banyak yang menggunakannya. “Saya mau naik ke atas pak, ke bekas rumah Mbah Maridjan,” kata salah satu pengunjung.

Dengan pengeras suara, Warsito kemudian memanggil tukang ojek yang sejak tadi mangkal tak jauh dari situ. Jumlah mereka cukup banyak.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

“Ojek dua orang,” katanya. Hanya dalam hitungan menit, dua orang ojek langsung datang dan membawa keduanya. Tak lama kemudian, mereka hilang di tikungan jalan hingga akhirnya sampai ke ujung jalan Kinahrejo.

Pascaerupsi, Kinahrejo memang tak sepi pengunjung. Apalagi di hari Sabtu-Minggu, pengunjung mencapai 1500 lebih. Mereka datang dari berbagai tempat, baik lokal maupun luar daerah. Tapi, menurut Warsito, lebih banyak pengunjung domestik.

Ketertarikan masyarakat terhadap Kinahrejo dimanfaatkan masyakat Kinahrejo dijadikan kawasan wisata. Seperti di atas portal itu dipasang spanduk bertuliskan: “Mohon doa restu atas dibukanya wisata alam jelajah Kinahrejo”.

Di situ juga ditulis beberapa fasilitas: kuda lumping, motor trail, souvenir, penanaman pohon, dan resto Kinahrejo. Bagi pengunjung yang berminat salah satunya, tinggal merogoh kocek saja.

Warsito mengatakan, pascaerupsi Merapi, warga Kinahrejo kehilangan harta benda. Bahkan, tak jarang yang hanya punya baju di badan. Sekarang mereka tinggal di shelter penampungan. Karena itu, katanya, masyarakat sebisa mungkin memanfaatkan sarana yang ada.

Warga Kinahrejo boleh dibilang kreatif. Mereka melakukan inovasi menarik dalam mengais rezeki untuk memperjuangkan hidup mereka. Kini, mereka membuka warung kecil-kecilan di sepanjang jalan Kinahrejo. Mereka menjual aneka makanan khas Kinahrejo dan beberapa souvenir.

Bahkan, ada yang melakukan trobosan baru: membuat menu dengan nama erupsi. Seperti yang dilakukan sebuah resto Kinahrejo yang terletak berhadapan dengan pos masuk itu. Resto yang di desain natural ini menyediakan menu nyeleneh. Ada nasi goreng vulkanik, gudeg kinah, soto awan panas, dan kopi poci gembel. Pokoknya semuanya bernuansa kegunungan.

Setelah tahu wartawan, akhirnya Warsito mengizinkan penulis masuk dengan gratis. Tapi, penulis memilih berjalan kaki sambil mengambil foto dan mewawancarai para pedagang yang mangkal di sepanjang jalan.

Menyusuri jalan Kinahrejo memberi kesan tersendiri. Apalagi ditemani udara dingin yang menusuk kulit. Kabut tipis juga sesekali turun. Selain itu, kendati erupsi terjadi November lalu, tapi bekasnya masih tampak jelas.

Bukit yang berderet menjulang kini gundul. Pepohonan yang dulu rindang dan hijau yang  membuat sejuk Kinahrejo, kini tak ada lagi. Berganti tanah gundul yang ditutupi sebagian pasir. Karena itu, sejauh pandangan mata, hanya gerombolan bukit tanpa pohon.

Begitu juga jika melihat rumah-rumah di sepanjang jalan menuju Kinahrejo, rusak parah. Bahkan tidak sedikit tinggal puing-puing pondasi saja. Hampir semuanya rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Karena itu, sejak erupsi, warga meninggalkan rumah mereka dan memilih tinggal di shelter pengungsian. Tak heran, jika melintasi Kinahrejo sepintas seperti desa mati. Tak ada kehidupan masyarakat.

Beberapa menit kemudian, di sebuah tikungan jalan penulis menjumpai Ngatiyah. Warga asal Pangokrejo, Cangkringan ini sedang menunggu pengunjung yang membeli barang dagangannya. Agar terlindungi dari hujan dan panas, Ngatiyah memakai taping. Payung juga ia siapkan jika hujan tiba-tiba datang.

“Mari mas, mampir,” pintanya. Ngatiyah menjual minuman mineral dan suplemen. Ada juga makanan ringan dan CD erupsi merapi. “Untuk menyambung hidup, sehari-hari saya berjualan ini,” katanya.

Hal itu dilakukan perempuan berkulit gelap ini karena tidak punya pilihan lagi. “Saya tak punya apa-apa lagi. Enam sapi dan lainnya habis kena erupsi,” paparnya. Jika ditotal seluruhnya, kata Ngatiyah, ludesnya ratusan juta rupiah. Ngatiyah sendiri kini tinggal di shelter bersama pengungsi lainnya.

Dari jualan itu, ia kadang meraup untung Rp 20 ribu per harinya. “Ya sedikit asal bisa buat makan,” tutur ibu dua anak ini.

Ia pun harus berjuang sendiri. Pasalnya, suami dan kedua anaknya hingga kini masih nganggur. “Mereka belum dapat kerja,” paparnya.

Meski erupsi sudah berlalu, tapi perasaan trauma masih ada. Ia pun kerap takut jika ada getaran lagi. Kendati demikian, ia ingin membangun kembali rumahnya yang rusak. “Enggak betah tinggal di shelter mas. Susah kalau mau ngapa-ngapain,” jelasnya. Karena itu, ia minta agar dibangunkan rumah. “Mas mau bantu bikin rumah, ta?” katanya bercanda.

Penulis hanya diam sambil mendoakan. “Insya Allah rezeki Allah luas,” jawab penulis sambil berkata dalam hati: “Andai saya punya rezeki melimpah, insya Allah ibu ini akan saya bantu membangun rumahnya kembali”.* 

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kepala BNPT Himbau Aparat Lebih Proaktif Terhadap Ormas Islam
Tulisan selanjutnya Amerika Ubah Pendirian Soal Yaman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Berita
18 Juli 2026 10:12
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?