Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Kecil-kecil Jadi “Abdurrahman bin Auf”

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 25 Februari 2024 16:30 4:30 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 25 Februari 2024 14:30
Bagikan
Market Day santri-santri MI RM Putra di Gunung Tembak, Balikpapan, Sabtu (24/2/2024).* [Foto: Muh. Abdus Syakur/Hidayatullah.com]
Bagikan

Hidayatullah.com | PAGI yang tampak tenang dipecahkan oleh keriuhan di dekat jalan raya. Sejumlah pria dewasa pun mencoba menenangkan situasi.

Keriuhan di Gunung Tembak itu tidak mengkhawatirkan sebenarnya. Karena yang terjadi bukan jual beli pukulan maupun tembakan, melainkan jual beli yang sebenarnya.

Hari itu, Sabtu, 14 Sya’ban 1445 H (24/2/2024), sedang berlangsung Market Day Santri Madrasah Ibtidaiyah Raadhiyatan Mardhiyyah (MI RM) Putra.

Ini adalah kegiatan jual beli laksana pasar. Saban pekan, para santri difasilitasi untuk berjualan makanan dan minuman. Mereka digilir per kelas per pekan, setiap Sabtu pagi.

Hari itu, sekitar pukul 09.00 WITA, usai pembelajaran di ruang-ruang kelas, para santri mulai meramaikan halaman madrasah. Saatnya bermain.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Sementara santri yang kena giliran berjualan, mulai menyiapkan stan masing-masing. Stannya berupa meja-meja belajar yang dikeluarkan dari ruang kelas. Sejumlah guru pun turut membantu penyiapan barisan “tenant” jualan.

Deretan pedagang cilik kini sudah bersiap. Para santri lainnya sudah duduk manis di depan mereka. Pada sesi pertama, santri berbelanja secara bergiliran per kelas.

Singkat kemudian, seorang guru memberikan aba-aba.

“Kelas 1 (maju terlebih dahulu),” ujar salah seorang ustadz bernama Perdamaian, melalui pengeras suara.

Santri-santri kelas 1 pun berdiri dan maju untuk mulai berbelanja. Secara tertib mereka memilih satu per satu jualan yang dijajakan sesuai selera masing-masing.

“Ini berapa harganya?” “Beli 1!”
“Ada uang kembaliannya kah?”
“Bla! Bla! Bla!”

Transaksi demi transaksi pun berlangsung dengan uang tunai Rupiah.

Sabtu pagi itu giliran kelas 3 yang berjualan. Ibrahim, misalnya, menjual es kelapa seharga Rp 5.000 per bungkus. Ia menjajakan setermos besar yang dibawakan bapaknya jelang dibukanya lapak tersebut.

Temannya, Fawwaz, menjual sate mi telor herbal, seharga Rp 2.000 per item dan minuman manis yang dibekukan seharga sama.

Ada beragam jenis jajajan makanan dan minuman lainnya. Mulai dari nasi kuning, kue basah, roti, hingga buah elai. Semua itu dibawa oleh setiap pedagang dari rumah masing-masing. Ada yang memproduksi di rumah sendiri oleh orang tuanya, ada pula yang membelinya di tempat lain lalu dijual kembali.

Usai kelas 1, giliran kelas 2 yang maju. Begitu seterusnya. Setelah kelas 6 mendapatkan giliran, saatnya sesi belanja bebas. Pada sesi ini, semua santri dipersilakan berbelanja, tanpa peduli kelas berapa.

Tak pelak, mereka berbondong-bondong memborong makanan dan minuman kesukaan masing-masing.

Tetap tertib, pesan para guru.

Bukan cuma para murid yang boleh berbelanja. Guru-guru juga tak ketinggalan. Sebagian guru pun ikut mempromosikan jualan murid-muridnya. Ada juga yang membantu menghitungkan uang jualan santri.

“Berapa harganya ini?” tanya ustadz lainnya, Salman Alfarisi, kepada salah seorang santri pedagang cilik. Lalu sang guru berteriak-teriak layaknya pedagang di pasar betulan.

“Brownies, brownies!”

Saat itu hadir juga beberapa wali murid, tampaknya penasaran dengan suasana market day yang diprakarsai oleh MI RM Putra itu.

Seorang wali murid pun tak ketinggalan membeli sejumlah makanan dan minuman.

Abdullah, santri kelas 3, terlihat riang gembira setelah jualannya, nasi goreng, ludes diborong pembeli.

Kepala MI RM Putra, Arifuddin Syafar, ikut serta meramaikan suasana.

“Market day di MI RM Putra sudah dimulai sejak semester 1 tahun 2023,” ujar Arifuddin kepada hidayatullah.com yang menyaksikan bazar mini di dekat Jl Mulawarman, Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kota Balikpapan itu.

Benih yang Tumbuh

Detik-detik jelang berakhirnya market day, sempat terjadi kehebohan. Yang bikin heboh ketika seorang santri “memborong” sebagian kue yang masih tersisa, lalu membagikan ke teman-temannya. Sontak saja, santri lainnya mengerumuni santri senior yang baik hati berbagi kue tersebut. Santri itu diketahui merupakan putra dari salah seorang pengusaha muda setempat.

Pemandangan ini mengingatkan kita sosok Abdurrahman bin Auf, Sahabat Rasulullah yang kaya raya sekaligus dermawan.

Rupanya masih ada beberapa kue yang belum terbeli. Kali ini Perdamaian turun tangan lagi.

“Yang mau risol gratis, merapat! Ayo merapat! Merapat!” ujarnya dengan suara agak lantang. Kue salah satu santrinya ia bayarin.

Santri-santri pun kembali berkerumun, ditraktir gitu loh….

“Makan minum sambil duduk yah!” Terdengar suara guru mengingatkan peserta didiknya agar terus menjaga adab makan dan minum.

Sekitar sejam berlangsung, market day berangsur selesai. Meja-meja yang telah usai dipakai, segera dibersihkan dan dikembalikan ke tempat semula. Sampah-sampah sejak tadi dikumpulkan di tempat yang telah ditentukan.

Sementara santri, guru, dan wali murid mulai pulang. Begitu pula Kepala MI tersebut. Ia patut berbahagia atas berjalan lancarnya market day itu, dengan harapan tujuannya bisa tercapai. Mencetak kader-kader pengusaha.

“Salah satu tujuannya adalah untuk menanamkan jiwa entrepreneurship kepada siswa sejak dini, membangun pengalaman siswa yang positif, melatih keberanian, komunikasi, kejujuran, dan mengenalkan nilai mata uang kepada peserta didik,” urai Arifuddin kepada hidayatullah.com usai kegiatan itu.

Benih harapan yang dipupuk itu perlahan mulai tumbuh. Seperti yang dirasakan Farida, ibunya Fawwaz. Ia gembira menyaksikan market day tersebut meskipun lebih banyak memantau dari jarak agak jauh. Kegembiraannya bertambah setelah mengetahui putranya, kelas 3 A MI RM Putra, sukses berbisnis hari itu. Semua jualan Fawwaz ludes tak tersisa.

“Ini keuntungannya, ditabung yah!” ujar Farida setelah menghitung laba yang diperoleh anak sulungnya itu. Beberapa lembar uang Rp 2.000-an ia sisihkan.

“Ini modalnya disimpan, diputar lagi, nanti dipakai modalnya (oleh) Musyawir,” tambah sang ibu laksana seorang manajer, menyisihkan uang lainnya. Nama terakhir yang disebut adalah adiknya Fawwaz.

Sabtu pekan depan, katanya, giliran Musyawir dan teman-temannya santri kelas 2 MI RM Putra, untuk berjualan di arena market day yang sama. Musyawir sudah bersiap-siap jadi pengusaha cilik berikutnya.

Mau jualan apa?

“Sama kayak Abang (Fawwaz)”, katanya sambil bermain, Sabtu siang.

Laksana Abdurrahman bin Auf, semoga kelak para santri kita itu menjadi pengusaha-pengusaha Muslim yang sukses dunia akhirat. Aamiin!*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abdurrahman bin AufbisnisHeadlineHidayatullah Balikpapanpengusahasantri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jerman Melegalkan Ganja Rekreasi Tapi akan Sulit Didapat
Tulisan selanjutnya Dukung Palestina Pria Berseragam Bakar Diri di Depan Kedutaan Israel di Washington DC

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?