Hidayatullah.com – Begitu buruknya pandangan Maria Anastasia kepada Islam. Nabinya tukang kawin, Tuhannya tuli, ibadahnya teriak-teriak. Begitulah Islam di mata Maria. “Makanya saya benci Islam. Mendengar azan dada saya terasa sesak,” katanya. Itu dulu, sebelum ia masuk Islam. Bagaimana mungkin orang yang begitu benci pada Islam justru masuk Islam? Menyamar? Panjang ceritanya.
Maria lahir dan dibesarkan dari keluarga Katolik di Yogyakarta. Semua keluarganya penganut Katolik taat. Bahkan ayahnya adalah salah seorang tokoh di gereja. “Ayah menggantikan memimpin missa jika Romo berhalangan,” kata Maria menjelaskan peran ayahnya. Seluruh pendidikannya ditempuh di sekolah Katolik, mulai dari TK hingga perguruan tinggi. “Saat kuliah saya mendapat beasiswa,” katanya.
Tak heran juga kemudian Maria menjadi aktivis gereja. Hari-harinya tak lepas dari gereja. “Pulang sekolah saya ke gereja. Entah itu sekedar main atau ikut bantu-bantu di dapur,” katanya. Ia merasa nyaman di gereja. Tak heran jika kemudian ia menjadi ketua pemuda gereja. Pernah juga bergabung dengan laskar Kristus.
Anehnya, sebagai aktivis gereja ternyata ia menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Kekhawatiran itu menyangkut doktrin fundamental dalam ajaran Katolik, juga Kristen. Yaitu siapa percaya Yesus sebagai juru selamat dijamin masuk surga. “Apa benar begitu, saya tak terlalu percaya,” kata Maria meragukan doktrin itu. “Kalau pendosa dan orang baik sama-sama dijamin masuk surga karena yakin Yesus juru selamat, rasanya itu tidak adil,” jelas Maria kemudian.
Untuk menutupi kekhawatiran itu terbersit dalam pikiran Maria menjadi suster atau biarawati. “Suster itu istri Tuhan dijamin masuk surga,” kata Maria saat wawancara untuk channel Hidayatullah Mualaf di sebuah masjid dekat rumahnya di Yogyakarta, pertengahan Mei lalu. Seorang suster harus hidup selibat (tidak menikah), waktu sepenuhnya untuk melayani Tuhan. Maria sudah siap untuk itu semua. Ia pun sudah berada lembaga kesusteran di Semarang.
Endingnya, bukan menjadi suster justru Maria kemudian masuk Islam. Sebuah buku kecil telah mengguncang keimanan Katoliknya. Perjalanan mencari kebenaran pun dimulai Maria. Kisah spiritual yang sangat menarik dan mendebarkan.*




