Hidayatullah.com – Petugas gali kubur Palestina, Yousef Abu Hatab, menjadi saksi hidup dari tragedi terburuk dalam sejarah Palestina. Bahkan dengan tubuhnya yang renta, ia telah menguburkan 18.000 orang syuhada selama 2 tahun genosida ‘Israel’ di Gaza.
Satu per satu jenazah yang datang ia kuburkan di salah satu pemakaman kota Khan Younis hingga pemakaman tersebut penuh sesak. Seringkali Yousef hanya menguburkan sisa-sisa jenazah yang hancur berkeping akibat pemboman brutal ‘Israel’.
“Kami menguburkan jenazah dalam kondisi yang sulit, di kuburan massal, kuburan individu, dan di dalam rumah sakit, di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan jumlah kematian yang tinggi,” katanya kepada Anadolu.
Menguburkan jenazah tanpa nama juga sudah tidak lagi aneh baginya, pun menguburkan belasan jenazah dalam satu lubang karena dahsyatnya pemboman ‘Israel’. Yousef mengakui genosida terbaru zionis ini menjadi momen terberat dalam pekerjaan yang digelutinya
“Selama perang, saya mengawasi penguburan antara 17.000 dan 18.000 jenazah warga Palestina,” katanya.
Tentara ‘Israel’ telah membunuh hampir 71.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 171.000 orang sejak Oktober 2023 dalam perang brutal yang telah menghancurkan wilayah tersebut.20 tahun lalu.
Serangan tersebut terhenti di bawah kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober. Namun, ‘Israel’ telah berulang kali melanggar perjanjian tersebut.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, tentara ‘Israel’ telah membunuh sedikitnya 405 warga Palestina dan melukai 1.108 lainnya dalam serangan sejak gencatan senjata.
Beratnya jadi tukang gali kubur di Gaza
Yousef memulai pekerjaannya pukul 6 pagi dan terkadang berlanjut hingga setelah matahari terbenam.
Blokade penjajah terhadap Gaza semakin mempersulit pekerjaannya. Ia terkadang harus menggali dengan tangannya dan mengumpulkan sisa-sisa reruntuhan bangunan untuk dijadikan nisan.
“Situasinya telah menjadi tak tertahankan. Tidak ada bahan untuk membangun makam, tidak ada kain kafan, dan tidak ada alat karena blokade Israel.”
Meskipun jumlah pemakaman telah menurun akhir-akhir ini di bawah kesepakatan gencatan senjata dibandingkan dengan bulan-bulan pertama perang Israel, Abu Hatab masih menguburkan beberapa jenazah setiap hari.
“Selama perang, kami biasa menguburkan antara 50 dan 100 jenazah Palestina setiap hari. Meskipun angkanya sekarang telah menurun, pemakaman masih menerima jenazah.”
Ia mengisahkan pernah menguburkan sekitar 550 jenazah di dalam kuburan darurat di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis selama pengepungan Israel terhadap fasilitas tersebut tahun lalu.
Selama dua tahun serangan ‘Israel’, warga Palestina di Gaza terpaksa membuat kuburan massal dan individual darurat di lingkungan perumahan, halaman, gedung pernikahan, dan lapangan olahraga untuk menguburkan korban mereka.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, tentara ‘Israel’ menghancurkan 40 dari 60 pemakaman di wilayah tersebut dan mencuri jenazah lebih dari 1.000 warga Palestina.
Kantor tersebut juga mengatakan bahwa 529 warga Palestina yang tewas dalam serangan ‘Israel’ digali dari kuburan massal di dalam rumah sakit, di samping lebih dari 10.000 jenazah yang masih berada di bawah reruntuhan bangunan yang hancur.
Penjajah ‘Israel’ masih menutup semua penyeberangan Gaza, mencegah masuknya bantuan kemanusiaan dan material yang dibutuhkan untuk rekonstruksi wilayah tersebut meskipun ada gencatan senjata.*




