PAGI menjelang siang. Saya dan beberapa kawan asyik menyandarkan punggung ke dinding rumah salah seorang warga sambil menjulurkan kedua kaki. Peluh di dahi kami pun tampak bercucuran dan perlahan diikuti basahnya kaos yang kami kenakan.
Kala itu, kami baru saja menyelesaikan permainan sepakbola di lapangan Desa Delegan, Gresik, Jawa Timur. Sebuah lapangan hijau yang jaraknya kira-kira sekitar tujuh kilometer dari asrama kampus pesantren kami. Tempat kedua kami dalam menimba ilmu selama satu tahun ke depan (semester 1 dan 2), sebelum akhirnya kami bisa bergeser ke kampus utama di Kota Surabaya hingga wisuda.
Dari asrama kampus tersebut untuk bisa sampai tiba di lapangan itu, kami terlebih dahulu harus menempuh rute perjalanan yang cukup menguras energi.
Maklum, asrama kampus kami berada di atas gunung berkapur, yang gersang dan dikenal oleh masyarakat dengan nama Gunung Kukusan. Sementara, tanah lapang yang hendak kami tuju itu berada di daerah dataran rendah, sekitar 50 meter dari pesisir pantai Utara Jawa yakni Pantai Delegan. [Baca: Tiga Musim di Bukit Kukusan Panceng]
Ahad pagi, adalah waktu di mana kami harus turun dari asrama kampus untuk menuju tanah lapang itu. Sebab, Ketua asrama kampus telah menjadwalkan agenda kami dengan olahraga. Untuk menempuh perjalanan itu, bukan naik kendaraan bermesin seperti sepeda motor, mobil ataupun angkutan umum tetapi kami harus berlari kecil dengan membentuk barisan memanjang ke belakang.
Setelah beberapa menit beristirahat, akhirnya kami semua beranjak untuk kembali ke asrama kampus. Meskipun kami tak lagi berlari kecil membentuk barisan yang memanjang seperti saat berangkat dari atas gunung Kukusan.
Hari itu, ternyata menjadi hari pertama yang cukup melelahkan bagiku setelah selama bermukin seminggu di asrama kampus itu. Sebab, saya sendiri sudah hampir berbulan-bulan tidak pernah berolah raga. Nafas saya pun menjadi ngos-ngosan ketika mulai berlari kecil menuruni rute pegunungan Kukusan hingga tiba di lapangan Desa Delegan.
Semua itu, tak lain juga karena akibat dari kebiasaan buruk saya di masa lalu yakni klepas-klepus mengisap ‘barang haram yang berasap’. Dan belum lama itu kutinggalkan, sesaat setelah status sebagai mahasiswa Perguruan Tinggi di salah satu pesantren yang saya sandang.
Saat itu, saya benar-benar berazam untuk meninggalkan kebiasaan buruk saya yang namanya menghisap benda beracun alias rokok. Sebab, saya merasakan betul akibat buruk dari kebiasaan merokok kala itu.
Maka, tak heran jika saya pun berada di posisi belakang dari kawan-kawan saat perjalanan pulang ke asrama. Kala itu, saya merasa benar-benar letih, dan bahkan nafas di dada terasa kembang kempis.
“Wuah, sepertinya tenaga ini sudah benar-benar habis. Tetapi saya nggak boleh menyerah. Inilah yang namanya perjuangan dan pengorbanan untuk menjadi yang lebih baik,” batin saya seraya menguatkan diri sendiri.
Setelah sekitar 500 meteran berjalan, saya jumpai rute jalan yang menanjak dan tentu harus saya lewati untuk bisa sampai ke asrama. Padahal, rasanya tenaga saya sudah benar-benar habis dan nggak kuat lagi untuk membawa tubuh dengan berat 80 kilogram itu.
Saya nggak ingin memaksakan diri untuk melampaui jalan tanjakan itu. Akhirnya saya putuskan beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga. Seraya sambil berdoa kepada Allah untuk meminta diberikan kekuatan dan pertolongan.
Namun, belum ada sekitar lima menitan, tiba-tiba muncul seorang bapak tua dari arah belakang saya dengan menuntun sepeda tua dengan tumpukan rumput hijau yang tinggi di boncengan belakangnya.
Sontak, perhatian mata saya arahkan ke bapak itu. Rasa iba dan kasihan pun muncul dalam benak. Keinginan untuk menolong bapak tua itu terasa muncul begitu kuat, tetapi daya tubuh rasanya berat sekali meskipun hanya sekadar untuk bisa bangkit berdiri.
“Bismillah..!” seru saya sambil bangkit dari keletihan itu.
Perlahan tubuh saya yang kelelahan bangkit dan menghampiri bapak tua itu. “Assalamualaikum, Pak. Angsal kulo bantu nggih (boleh saya bantu)?”
Tanpa basa-basi bapak itu mengiyakan dan dengan rasa senang saya sambar seketika sepeda tuanya itu. Ternyata, lelah yang saya rasakan entah hilang begitu saja. Tiada beban sama sekali yang saya rasakan ketika itu. Sambil menuntun sepeda tua untuk menaiki tanjakan jalanan tersebut, saya pun berbincang ringan dengan bapak tua itu hingga sampai atas tanjakan.
Alhamdulillah, sebelum bapak itu pergi dan berpamitan, ia menitipkan sebuah do’a kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk saya. Entah doa apa yang dibacanya yang pasti saya yakini jika itu sebuah do’a kebaikan untuk saya.
“Matursuwun yo, Mas (terimakasih ya mas).”
“Nggih Pak, sami-sami (iya pak, sama-sama).”
Dan sesaat setelah bapak itu hilang dari pandangan, tubuh saya kembali terasa lelah sekali. Namun, karena hari sudah semakin siang, mau nggak mau saya harus tetap untuk meneruskan perjalanan pulang ke asrama kampus.
Tetapi, belum ada lima kali melangkah tiba-tiba dari arah belakang, seorang lelaki dengan mengendarai sepeda motor berhenti tepat di samping kanan saya dan menawari tumpangan.
“Mas, arep ning ndi? Bareng aku wae kene, aku arep ning Gresik Kota (Mas, mau ke mana? Sama saya saja, saya mau ke Gresik Kota).”
Mendengar tawaran itu, karena merasa lelah sekali saya pun mengiyakannya, “Nggih, Pak. Ajeng ing pondok niki (iya pak, saya mau ke pondok ini.”
“O.. Ora opo-opo, tekan prapatan wae nek ngono (O.. Nggak apa-apa, sampai perempatan saja kalau gitu).”
Alhamdulillah, meskipun cuma sampai simpang empat lampu merah depan, saya diboncengkan seorang lelaki yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Tetapi, cukup menolong saya untuk menempuh perjalanan pulang menuju asrama kampus.
Dan dari perempatan lampu merah itu kira-kira masih ada jarak sekitar 1,5 kilometer lagi yang harus saya tempuh supaya saya tiba di asrama kampus. Namun, Subhanallah, sekali lagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan keajaibannya. Allah mengirimkan hamba-Nya yang baik hati pada saya. Dan untuk yang kedua kalinya, muncul orang yang berbeda menghampiri saya dan menawarkan tumpangan gratis.
Bahkan, orang yang kedua ini bersedia mengantarkan saya sampai di asrama kampus. Subhanahllah.. Janji Allah tak pernah salah dan selalu nyata terbukti bagi hamba-Nya yang tulus ikhlas mau berbuat kebaikan serta saling tolong menolong dengan sesama manusia.*