HATI orangtua mana yang tidak terabik-cabik mendapati anak terjerembab pada pergaulan bebas. Kondisi itulah yang kualami beberapa tahun silam. Peristiwa nahas itu terjadi ketika anak sulungku itu telah duduk di kelas 3 di sebuah SMU Negeri di daerah tempat kakeknya tinggal.
Salah pergaulan menjadi biangnya. Apalagi sudah menjadi rahasia umum, berbagai jenis penyakit masyarakat seperti judi, perkelahian, mabuk-mabukan, bahkan membegal hingga membunuh, kerap terjadi. Dan itu bukan hal tabu lagi.
Putraku terjerat. Judi, berkelahi, memalak dan membolos sekolah menjadi gaya hidupnya. Konsekuensinya, ia kerap berbohong demi memenuhi dahaga keburukannya itu. Sanak keluarganya pun tak lepas ditipu daya.
Saya ambil contoh satu kejadian. Pernah satu ketika seorang pamannya hendak bersilaturahim ke mertuanya yang berada di luar pulau. Tinggallah putraku beserta kakeknya. Di rumah itu ada sebuah sepeda motor.
Baca: Digugat Anaknya Rp 1,8 M, Rokayah Doakan Kebaikan Sang Buah Hati
Entah iblis apa yang menguasai pikiran dan hati putraku. Tidak lama dari keberangkatan si paman, putraku membuat kehebohan keluarga besar. Pasalnya, ia mengaku baru saja kehilangan sepeda motor (milik pamannya itu) ketika tengah bercengkrama dengan teman-temannya di sebuah warung.
Terang semua kaget, terutama paman-pamannya, yang tinggal tak jauh dari kediaman si kakek. Mungkin karena mereka telah mengerti karakter buruk putraku itu, mereka tidak gegabah mengambil sikap. Secara diam-diam, mereka mencoba menyelidiki kebenaran perihal hilangnya sepeda motor itu.
Setelah bertanya ke sana ke mari, dapatlah kesimpulan, bahwa sepeda motor itu bukan hilang. Tapi digadaikan ke seseorang. Uangnya ludes dipakai judi. Karena takut dimarahi, putraku menyusun sandiwara kehilangan itu.
Mendengar kejadian itu, hati saya benar-benar terasa remuk. Tapi saya masih bisa menguasai diri. Akhirnya, setelah meminjam uang ke sana ke mari, sepeda motor bisa ditebus. Nasihat demi nasihat pun disampaikan, mulai dari yang lebut sampai yang bernada ancaman.
“Kalau kamu masih belum berubah, biar ibu bunuh diri saja sekarang,” sengatku dalam rangka menakut-akutinya. Ia pun dengan sesenggukkan mencegahku.
Tapi ternyata ini bukan akhir dari segala sikap buruknya. Di sekolah, ia membuat kerusuhan. Akhirnya, pihak sekolah mengeluarkan putraku itu dengan berbagai pertimbangan, termasuk jebloknya hasil rangkaian ujian yang diikuti.
Kembali, dengan jurus meminjam uang, proses pembiayaan perpindahan sekolah putraku bisa diselesaikan. Akhirnya ia dipindahkan ke sekolah baru. Tapi ternyata masih belum ada perubahan.
Doa dan Ikhtiar
Dalam menghadapi situasi seperti ini, tidak ada tempatku bersimpuh kecuali Allah Ta’ala. Apa lagi kudapati kenyataan, tidak sedikit sanak saudara yang sudah lepas tangan dalam menangani putraku. Mereka seperti sudah hapis upaya dalam memberikan arahan.
Tapi saya tidak. Sama sekali tidak ada rasa putus asa. Saya yakin seratus persen, bahwa bila Allah telah berkehendak, sudah pasti tidak ada yang bisa menghalangi apa yang telah menjadi keputusan-Nya.
Inilah keyakinanku yang tak pernah pudar, sehingga senantiasa menggerakkanku untuk senantiasa bersimpuh di hadapan-Nya, merengek, memohon agar Allah berkenan memberikan petunjuk kepada putraku.
Setiap shalat, terutama tahajud, kupanjatkan doa keselamatannya. Amal-amalan yang lain, seperti puasa sunnah, kerap kulakukan demi terkabulnya doa. Selain itu, tentu nasihat demi nasihat tetap kuberikan sebagai bentuk ikhtiar.
Asa itu semakin menguat, ketika saya sering bermimpi, yang kutafsirkan mengandung makna kebaikan bagi putraku di masa mendatang.
Saya ambil contoh. Suatu malam, saya bermimpi putraku itu menaiki anak tangga yang begitu tinggi. Di atas sana tampak cahaya yang terang benderang. Saya sebagai seorang ibu, sangat mengkhawatirkannya. Takut kalau jatuh. Namun, ia menenangkan diriku, dengan mengatakan akan baik-baik saja.
“Tidak usah khawatir, Bu. Saya akan baik-baik saja,” ucapnya.
Alhamdulillah, ternyata harapan itu berwujud nyata. Berkat wasilah seorang pamannya yang lulusan pesantren, putraku dimasukkan ke pesantren tahfidz di seberang pulau. Dari sinilah, sedikit demi sedikit keburukannya terkikis dan berubah menjadi kebaikan.
Putraku itu kini tak pernah lagi meninggalkan shalat lima waktu. Bahkan shalat tahajud dan dhuha, sering juga dilaksanakan. Ia juga sudah hafal beberapa juz dari al-Qur’an. Lebih dari itu, kini ia justru sering mengingatkan kami sekeluarga agar jangan sampai meninggalkan kewajiban kepada Allah, seperti shalat.
Alhamdulillah. mudah-mudahan sekelumit kisahku ini bisa memberikan manfaat bagi segenap pembaca. Dan mari kita doakan, semoga putra-putri kita senantiasa dinaungi rahmat-Nya, sampai akhir hayat mereka, sehingga keridhaan Allah pun senantiasa tercurah kepada keluarga kita. Amiin.* Sebagaimana yang dikisahkan Ibu Aminah, asal Lampung, kepada Khairul Hibri