Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Belajar Bahasa Arab: Buang rasa Malu, Bunuh Rasa Takut!

Ahmad
Terakhir diupdate: 19 Maret 2014 12:52 12:52 pm
Ahmad
Dipublikasikan 8 Maret 2014 09:16
Bagikan
Bagikan

MALAM itu, Putut Prabowo memutuskan menyudahi kelas bahasa Arabnya. Padahal itu kelas perdananya di sebuah lembaga pengajaran Bahasa Arab. Akhirnya ia berusaha mencari lembaga lainnya yang membuat salah satu bahasa yang terbanyak dipakai penduduk dunia itu bisa dipelajari dengan lebih menyenangkan.

Hasil pencariannya di Google membawanya pada Indonesia Arabic Center (IAC) di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Kebayoran Baru, Jakarta. Di sana, pengajaran kursus dikemas dengan ringan dan menyenangkan. Suami dari Wahyu Puspitarini itu terdaftar sebagai murid kelas Dasar I. Sudah sebulan ia belajar di sana.

“Materi Dasar I lebih banyak tentang percakapan. Kami dilatih untuk ngomong dan terus ngomong,” jelasnya. Praktis, sederhana,  mudah dipahami, namun sangat komprehensif, merupakan metode yang diunggulkan. Menurut Putut, IAC menargetkan peserta terbiasa bercakap-cakap Bahasa Arab dalam kurun waktu enam bulan. Kelas Dasar I akan dilanjutkan dengan Dasar II. Setelah itu jika memenuhi syarat, peserta bisa melanjutkan ke kelas Mustadaqili I, II dan III.

Belajar dengan menyenangkan. Hal inilah yang sering diharapkan para pemburu ilmu yang ingin menguasai bahasa Al-Quran ini. Yang sering ada, banyak lembaga Bahasa Arab dirasakan susah. Ada lagi hambatan lain, perbedaan usia teman sekelas membuat orang sering hengkang. Ada juga baru kursus sebulan sudah hengkang karena kurang sreg dengan metode pengajarannya.

“Kurang interaktif dan pembawaan pengajarnya serius,” ungkap Putut.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Membandingkan materi pengajaran yang ia dapatkan  di IAC dengan beberapa lembaga tempatnya dahulu kursus, lulusan Teknik Informatika Universitas Gunadharma, Jakarta itu mengatakan,  hal lainnya yang membuatnya kini lebih enjoy dan nyaman kursus Bahasa Arab adalah cara pengelolahan kelas.

Bagi pengusaha kedelai itu, teman sekelas, pengajar dan cara penyampaian materi merupakan beberapa faktor yang menurutnya membuat nyaman seseorang belajar Bahasa Arab.

Lain lagi dengan Rini Deliana. Pemilik kursus bahasa Arab, LAZIM ini  membenarkan tentang masih adanya pandangan tentang belajar Bahasa Arab yang membosankan. Perempuan yang sudah mengajar Bahasa Arab belasan tahun itu banyak menemui orang-orang yang jemu saat belajar bahasa para penghuni surga itu.

Menurut Deliana, harus diakui, di Indonesia Bahasa Arab bukanlah bahasa yang diprioritaskan untuk dipelajari. Padahal di sinilah umat Muslim terbesar di dunia berasal. Pada beberapa orang, hidayatullah.com pernah menanyakan tentang kemungkinan suatu saat belajar bahasa tersebut.

Namun kebanyakan mereka justru balik bertanya, “Untuk apa saya harus belajar? Mau jadi TKW?” Anggapan itu tentu saja dengan sendirinya membentengi diri untuk berinteraksi lebih dalam dengan Bahasa Arab.

Padahal dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara di Timur Tengah menunjukkan performa ekonomi yang moncer. Di saat keseimbangan kekuatan ekonomi tengah bergeser, terlihat negara-negara di Timur dengan cadangan kas yang besar berinvestasi di kawasan-kawasan tertentu pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mereka banyak melakukan ekspansi dan investasi. Dengan begitu peluang penyerapan tenaga kerja terbuka lebar. Akhirnya tren saat ini mulai menunjukkan Bahasa Arab tidak hanya dipelajari oleh umat Muslim, tapi juga non Muslim.

Konstelasi politik di Timur Tengah yang makin bergejolak, turut mendorong suburnya peminatan bahasa Arab. Bahasa ini suatu saat akan berperan dalam ekonomi dan politik dunia. Akhirnya, tidak hanya anak-anak lulusan pesantren saja yang ingin memperdalamnya, tapi juga mereka yang lulusan sekolah umum, pegawai perkantoran dan bahkan ibu rumah tangga. Fenomena ini juga diakui Putut. Menurutnya, di kelasnya ada satu peserta non Muslim.

“Di kelas ada satu peserta non Muslim. Dia ikut belajar karena ada kemungkinan dikirim perusahaannya ke Arab,” ujar Putut membenarkan fenomena ini.

Buang rasa malu dan Takut

Berbagai tanggapan miring tentang susahnya belajar Bahasa Arab perlu segera ditanggulangi. Menurut Rini, kata kunci keberhasilan dalam berbahasa adalah terus aktif menggunakannya.

“Banyak lulusan jurusan Bahasa Arab dan bahkan mereka yang sudah lulus kelas syari’ah, tapi ketika diajak ngomong Bahasa Arab, kaku. Itu karena tidak terbiasa menggunakannya secara aktif,” ungkap lulusan Pendidikan Guru Bahasa Arab (PGBA) Ash-Shahwah dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab Jakarta (LIPIA), Jakarta, itu.

Pada setiap muridnya Rini selalu menekankan untuk membuang jauh-jauh rasa malu dan sungkan berbahasa Arab secara aktif.

“Buang rasa malu, bunuh rasa takut!” jargon itulah yang selalu didengungkannya. Salah mengucapkan adalah hal biasa. Tidak perlu menjadi momok menakutkan.

Rini mengakui bahwa perkembangan bahasa Arab tidak signifikan di Indonesia. Di berbagai universitas yang di dalamnya terdapat jurusan Bahasa Arab juga jarang yang mengadakan kegiatan yang membuat bahasa Arab terlihat menarik dan menyenangkan.

Ketika rasa suka itu sudah ada, apalagi ditambah kedekatan interpersonal antara guru dengan murid, maka Bahasa Arab menjadi bahasa yang menyenangkan.

Sama seperti Rini. Perempuan berdarah Padang, itu sudah termotivasi berbahasa Arab sejak kecil. Kecintaannya terbangun karena sering melihat neneknya mengajar majelis taklim dengan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya.

Karena itulah mantan pengajar SD Islam Plus, Cibinong, Bogor dan SDIT IQRO, Pondok Gede, Bekasi, itu berusaha mencari metode yang pas bagi pembelajaran Bahasa Arab. Ibu dengan lima anak itu berusaha menempatkan dirinya sebagai siswa. Apalagi berdasarkan pengalamannya, Ia juga pernah mengalami kesulitan dalam mempelajarinya.

Tidak bosan-bosannya ia mendatangi setiap pameran buku. Dengan melihat puluhan ribu buku yang dipamerkan, Ia berharap bisa mendapatkan inspirasi dalam pengembangan pengajaran.

“Saya banyak mengadopsi metode pengajaran dari bahasa Inggris,” ulasnya. Agar murid memiliki gambaran, Ia seringkali menggunakan grammar Bahasa Inggris sebagai pembandingnya. Aturan penggunaan kalimat dalam Bahasa Arab banyak kemiripan dengan Bahasa Inggris.

Selain itu, Bahasa Inggris lebih beragam menggunakan alat peraga ketimbang Bahasa Arab.

“Sayangnya hal itu tidak banyak diadopsi untuk pengajaran Bahasa Arab, terutama di Indonesia. Akhirnya saya membuat alat peraga sendiri,”ulasnya. Kartu kwartet, ular tangga, balok kayu, merupakan beberapa alat peraga yang ia buat sendiri. Bahkan untuk memudahkan mengingat kosa kata dan perubahan fi’il, Rini menciptakan lagu.

“Pokoknya bagaimana supaya mereka dengan sendirinya bilang “I love Arabic”,” ulasnya sembari tersenyum.

Selain alat peraga, seorang pengajar juga memerlukan pendekatan yang menyesuaikan dengan karakter anak didik.

“Kalau murid kita anak-anak, kita harus tahu dunia mereka. Bercerita, banyak menggunakan gambar, bernyanyi dan diselingi permainan adalah cara belajar yang mereka sukai,” jelas perempuan yang pernah mengajar di Gita Islamic Montessori School, Kemang-Jakarta, itu.

Bahkan untuk menghidupkan cerita, boneka tangan digunakannya sebagai maskot. Jika boneka tangan berbagai suara itu membuat mereka bosan, Rini akan beralih menggunakan lagu. Jika kejenuhan mulai terlihat, ular tangga, kartu kwartet, serta puzzle, akan bergantian dimainkannya. Bahkan sesekali, Ia bersama muridnya menonton film berbahasa Arab. Dengan begitu, selama dua jam, perhatian anak-anak tetap tertuju padanya.

Begitu juga pengajaran untuk orang dewasa, tetap harus menyenangkan dan membuat mereka merasa membutuhkan bahasa yang satu ini. Rini mencontohkan materi yang disampaikannya pada ibu rumah tangga.

“Untuk mereka, saya tidak mengadakan ujian dan lebih memasukkan nilai-nilai Islam di dalamnya,”jelas perempuan yang sering dipanggil “Umi Rini Bahasa Arab” oleh para tetangga di rumahnya itu.

Bacaan dalam sholat dan Al-Qur’an sangat bersentuhan dengan bahasa Arab. Mengaitkannya dengan materi keislaman, akan terasa aplikatif. Ibadah Umroh dan Haji menjadi tema menarik dikalangan pegawai perkantoran. Menurut Rini, mereka terlihat lebih senang jika materi dikaitkan dengan kedua ibadah itu.

Hal yang sama juga terus memotivasi Putut. Anggota Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA), Jakarta, itu tergerak mempelajarinya semata karena nilai ibadahnya.

“Gimana bisa memahami Al-Qur’an, kalau alat bantunya saja kita tidak punya?”Putut menegaskan. Ia berharap bisa konsisten mengikuti pelajaran sampai jenjang terakhir.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Arab
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Siksa TKI di Malaysia Fong Kong Meng dan Istri Divonis Hukuman Gantung
Tulisan selanjutnya Din Syamsuddin Minta tak bawa kepentingan partai ke Muhammadiyah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?