Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Menjenguk Saksi Bisu Perang Dunia II

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 27 April 2014 19:39 7:39 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 27 April 2014 19:38
Bagikan
Tugu Makam Jepang di Lamaru, Balikpapan
Bagikan

MATAHARI menyembul takut-takut di balik awan putih agak mendung. Sinarnya setengah sempurna menerangi kawasan timur Kota Balikpapan. Di Jalan Mulawarman,  Lamaru, sebuah kendaraan roda dua melintas membelah siang. Jumat (28/03/2014) itu, di atas sepeda motor keluaran Jepang, saya dan Syakir masih membicarakan kejadian sehari sebelumnya.

Selepas diburu sepasang anjing galak, Frangky-Brazil, pada Kamis kemarin, saya tetap bertekad mengunjungi Makam Jepang. Sesuai niatan awal sejak dari Jakarta. Pada kedatangan kedua ini, misi tidak boleh gagal. Usai shalat Jumat di kampung, saya dan Syakir bergegas menuju Lamaru. Kami tinggal di Kelurahan Teritip, berbatasan dengan Desa Amburawang Laut, Kabupaten Kutai Kartanegara. Jarak Teritip-Lamaru sekitar 7 kilometer.

Tiba di jalan paving samping Pantai Lamaru, Syakir tampak masih agak was-was. Jangan-jangan kedua anjing yang mengejar kami kemarin masih menunggu ‘mangsanya’. Saya meyakinkan tetangga saya ini kalau keadaan akan baik-baik saja.

Rupanya kekhawatirkan Syakir tidak berlebihan. Saat mendekati kompleks ‘perumahan’ awal kami dikejar Frangky-Brazil, tampak seekor di antaranya tengah berada di kawasan rerumputan. Jaraknya hanya sekitar 50 meter di sebelah kiri. Begitu motor kami melintas, anjing itu mendongak. Dia awas, menengok ke arah sumber suara kendaraan. Saya mengawasinya. Syakir fokus ke jalanan.

“Itu anjingnya ada di sebelah kiri. Tapi jalan santai aja, nggak usah dilihatin. Pura-pura aja nggak tahu,” ujar saya, tampaknya membuat Syakir kembali was-was. Beruntung tak terjadi apa-apa lagi.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Sebelum tiba di jalan masuk menuju kompleks ‘perumahan’, rupanya ada jalan kecil ke kanan. Jalan tanah setapak ini tidak terlihat oleh kami kemarin. Inilah jalur utama ke tempat tujuan. Dari segi fisik, sama sekali tak ada kesan jika jalan ini menuju Makam Jepang Perang Dunia II. Jalan itu dikelilingi belukar yang kemarin kami terabas. Sebenarnya makam tersebut berada tepat di samping kompleks ‘perumahan’. Cuma untuk ke situ itu harus memutar dengan jarak 30 meteran.

Begitu tiba di depan gerbang makam, saya teringat saat pertama kali ke tempat ini puluhan tahun silam. Kondisinya kini tidak jauh berbeda. Pemandangan pertama yang menarik perhatian adalah sebuah gerbang tinggi besar di depan kompleks makam. Gerbang kayu bercat merah tua itu berkhas Jepang. Di bawahnya, terdapat gerbang kecil berpintu yang “dikunci” dengan ikatan tali. Makam itu dikelilingi pagar kayu rendah.

Pintu gerbang Makam Jepang di Lamaru, Balikpapan (Muh. Abdus Syakur)
Pintu gerbang Makam Jepang di Lamaru, Balikpapan (Muh. Abdus Syakur)

Di kanan kiri gerbang terdapat dua buah papan keterangan. Tertulis, makam ini dilindungi Undang-undang No. 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya, di bawah Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). Siang jelang sore itu, suasananya sangat sepi. Di samping makam ada sebuah perkebunan. Di situ terlihat seseorang sedang berkebun. Rupanya dia sang penjaga makam.

Yatikem, penjaga tersebut, menyambut kami dengan dingin. Wanita yang tak tahu tanggal dan tahun kelahirannya ini tidak menarik tarif masuk. Cuma, dia bilang, “Ada untuk uang kebersihan ya?!” ujarnya sebelum membukakan pintu gerbang.

Persahabatan RI – Jepang di Atas Makam

Luas kompleks makam ini sekitar dua kali lapangan futsal. Dilengkapi taman-taman, pepohonan kelapa, dan pinus. Terdapat sebuah aula, sejumlah gazebo, dua buah prasasti. Bangunan utamanya sebuah tugu beton berundak, setinggi 3 meter. Tugu ini bertuliskan huruf kanji dengan ukuran besar.

“Makam Warga Jepang. Kami senantiasa berdoa untuk perdamaian dunia dan kesejahteraan segenap rakyat Indonesia. Juli 1990,” demikian tulisan pada prasasti beton di sebelah selatan tugu. Tulisan itu berbahasa Indonesia dengan huruf kapital semua, tampaknya terjemahan dari tiga deret tulisan kanji di atasnya.

Pada prasasti satunya, tulisannya sudah kurang jelas, ditutupi oleh cat hitam tebal. Saya ingat, pada kunjungan pertama puluhan tahun lalu, tulisan itu masih terlihat jelas.

Yang juga berbeda dengan kunjungan kedua saya ini, di atas tugu peringatan itu terdapat tambahan bendera Republik Indonesia dan Kekaisaran Jepang. Bendera-bendera yang digantung berdampingan ini seakan pertanda persahabatan kedua negara yang pernah “dijajah-menjajah”.

Dalam berbagai literatur yang pernah saya baca, disebutkan, makam tersebut dibangun pada tahun 1990 sebagai peringatan gugurnya tentara Jepang pada Perang Dunia II. Puluhan prajurit Jepang juga telah dimakamkan di tempat ini. Para serdadu itu meninggal saat melawan tentara sekutu pimpinan Australia, yang masuk ke Balikpapan lewat jalur laut pada sekitar 26 Juni 1945 – 15 Juli 1945. Tentara Jepang kala itu dipimpin Shizuo Sakaguchi, yang pada 23 Januari 1942 mendarat di kawasan ini dan merebutnya dari tentara Belanda.

“Yang bangun (makam) dulu tuh Jepang. Tapi sekarang kan yang kuasai pemerintah (RI). Jepangnya masih sering ke sini. Kalau yang masang bendera tuh setahun sekali ke sini. Kadang-kadang bulan 8, nggak nentu,” terang Yatikem, wanita asal Jawa Timur ini.

Di belakang Yatikem, tampak dua buah balok putih bertuliskan huruf kanji (Muh. Abdus Syakur)
Di belakang Yatikem, tampak dua buah balok putih bertuliskan huruf kanji (Muh. Abdus Syakur)

Sebuah media nasional pernah menulis bahwa pada 30 Mei 2013 sedikitnya lima nasionalis Jepang datang ke makam tersebut. Mereka membersihkan daerah tugu peringatan dan berdoa, serta meletakkan papan nama mereka (ukuran tipis tinggi seperti yang ditaruh di kuburan Jepang). Papan itu bertuliskan beberapa yayasan yang ada di Negeri Sakura, semisal Yayasan Kenkyusho Jepang.

Kami juga melihat, di aula makam itu terdapat dua balok putih pipih yang bertuliskan kanji. Balok-balok berpita itu ditempel pada dua tiang, di atas tangga masuk aula.

Menurut Yatikem, awalnya kuburan tentara Jepang itu ditemukan oleh suaminya, Buniran (70-an tahun, hampir seusia istrinya). Buniran yang hijrah ke Balikpapan bersama Yatikem sekitar tahun 1979 ini lalu didatangi pihak Jepang. Makam tersebut pun dipagari.

“(Suami dan saya) disuruh jaga sekalian. Jadi seumur-umur ini yang jaga (makam) aku,” ujar wanita beranak 4 yang mengaku buta huruf ini.

Dalam kunjungan tersebut, sedikit banyak rasa penasaran saya dengan makam itu terobati. Salah satu alasan saya ke sini ingin tahu langsung dari saksi hidup cagar budaya tersebut. Saya dan Syakir sempat menanyakan perihal kompleks ‘perumahan’ di samping Makam Jepang. Menurut Yatikem, penghuni kompleks tersebut non-Muslim. Kedua anjingnya memang kerap ‘mengganggu’.

“Saya aja pernah (diganggu). Pukul aja anjingnya, Mas!” ujarnya mungkin bergurau, membuat kami tertawa.

Usai mengobrol dengan wanita lanjut usia itu, kami undur diri. Tak lupa menyelipkan selembar uang Rp 10 ribu untuknya. Yatikem menerima dengan senang hati. Jelang waktu shalat Ashar, kami segera meninggalkan Makam Jepang.

Begitu melewati ‘markas’ Frangky dan Brazil, saya dan Syakir tertawa mengingat kejadian kemarin. Semoga di tempat tujuan selanjutnya, tak ada kejadian buruk lagi. Makam Keramat Pulau Tukung menari-nari dalam benak saya.* Bersambung

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:makam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya KPAI: Indonesia jadi Surga Predator Kekerasan Seksual Anak
Tulisan selanjutnya Reuters Amerika: Suriah masih punya Senjata Kimia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?