Hidayatullah.com–Melihat bentrokan pemuda dari Kamp Pengungsi Aida, Bethlehem melawan pasukan penjajah Israel bukanlah pemandangan yang luar biasa. Tapi bentrokan yang menewaskan seorang pelajar 13 tahun, Abdulrahman Shadi Obeidallah atau lebih dikenal dengan Abdo, termasuk seranga bagi penduduk setempat dalam beberapa tahun terakhir.
Beberapa jam setelah pemakaman Abdo pada hari Selasa (06/10/2015), siapa saja yang memasuki kamp tersebut harus menyebrang melewati ‘awan’ gas air mata yang ditembakkan oleh tentara penjajah Israel.
Pemuda setempat yang mengenal Abdo, terlihat mengumpulkan batu dan ban untuk persiapan kerusuhan berikutnya.
Duka dan amarah yang mendalam selalu terasa ketika ada seorang Palestina yang ‘syahid’. Tempat ini lebih dari sekedar kamp pengungsi, di mana satu sama lain saling terikat dalam semangat perlawanan dan keinginan untuk kembali ke kampung halaman mereka.
Satu-satunya taman di Aida di mana Abdo teman-temannya sering bermain di Laji (dari bahasa Arab yang berarti pengungsi ), seolah-olah ia sebagai pengingat dari mana asal anak-anak tersebut.
Keluarga Abdo adalah mengungsi dari al-Qabo, sebuah desa dekat Bayt Lahm yang diserang oleh tentara Zionis selama Nakba, sebuah gerakan pembersihan etnis Palestina pada tahun 1948.
Dalam usianya yang masih muda, Abdo sangat menyadari pembatasan yang diterapkan kepada warga Palestina. Ia terus menutup mata terhadap berita yang dating dari Yerusalem, sebuah kota yang letaknya hanya 5 mil dari Bethlehem, kota yang diberi batasan oleh Israel.
“Dia punya bibi di Yerusalem yang selalu ingin dia kunjungi, ujar ibunya, Dalal. Tapi, Anda tahu, bahwa kami dilarang mengunjungi Yerusalem,” tambah Dalal dikutip electronicintifada.net.
Tak Percaya
Dalal masih merasa tak percaya bahwa satu dari kelima anaknya telah direnggut darinya secara kejam. Ia masih ingat Abdo meninggalkan rumah pada jam 07.30, Senin pagi untuk berangkat sekolah. Abdo meminta ibunya untuk membangunkannya lebih awal.
Jam setengah dua siang, Dalal menerima telpon bahwa Abdo sedang terluka.
“Saya tak tahu bagaimana saya bisa mengumpulkan kekuatan untuk bisa sampai ke rumah sakit di dekat Beit Jala, “ tambahnya.
“Awalnya mereka mengatakan bahwa Abdo hanya tertembak di bagian kaki agar saya tidak khawatir, “ kata Dalal. Namun kemudian saya sadar bahwa ia tertembak di bagian dada dan saya langsung tahu bahwa anak saya tidak bisa selamat dari ini.
Pihak militer penjajah Israel melaporkan bahwa insiden penembakan tersebut tak disengaja.
Tembakan tersebut dimaksudkan untuk orang dewasa yang berada di dekat Abdo, demikian menurut Koran Tel Aviv, Ha’aretz.*/Karina Chaffinch