DI usianya yang sudah kepala tujuh, nenek itu bukannya banyak beristirahat. Nenek dengan 12 cucu ini justru semakin sibuk belakangan ini. Selain rutinitas harian, ia juga mulai sibuk membuat kue. Juga sibuk memilah bantal terbaik, dibungkus kain terbaik, lengkap dengan tulisan namanya.
Ummu Zakiyah. Usianya sudah 70 tahun lebih. Ia sedang sibuk menyambut puluhan ribu tamu yang akan datang ke kampungnya di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Mereka adalah para dai daiyah beserta keluarga masing-masing dari berbagai daerah se-Indonesia yang akan bersilaturahim di kampung Nenek, demikian dikenal.
Hari ini, Kamis, 15 November 2018, dua bantal pilihan dan sebuah ambal sudah disiapkan di rumah Nenek. Barang-barang itu lalu dibawa oleh sang menantu ke tetangganya untuk dikumpulkan.
Bantal-bantal itu nantinya digabung dengan bantal-bantal dari rumah tangga lain, lalu dibawa ke penginapan para tamu.
Ya, setiap rumah tangga di kampus Hidayatullah Gunung tembak berswadaya, bergotong royong, bersinergi, dan berjibaku dalam memuliakan dan melayani para peserta Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang akan digelar pada tanggal 20-25 November ini.
Menurut Nenek, setiap rumah tangga minimal menyetor dua bantal. “Mau banyak-banyak enda apa-apa. Tapi saya dua aja, banyak juga tamuku nanti,” ujarnya Muslimah asal Toli-Toli, Sulawesi Tengah ini.
Tentu bantal-bantal itu sudah melalui proses seleksi dan pembersihan, plus ditulisi nama pemiliknya. Biar tak tertukar dan gampang dikembalikan nanti, itu maksudnya.
Sebenarnya bisa saja mungkin penyelenggara mengadakan bantal/ambal baru khusus untuk puluhan ribu tamu. Tapi -selain efesiensi anggaran- jiwa swadaya masyarakat dan warga setempat tak bisa dibendung, bagian dari ukhuwah Islamiyah yang tertanam bagi mereka sejak lama.
Bukan hanya perlengkapan istirahat. Warga juga mengumpulkan kue dan menyiapkan rumah masing-masing untuk ditinggali tamu, selain memang telah disiapkan fasilitas penginapan di gedung-gedung yang tersebar di kampus pesantren.
Baca: Gubernur Kaltim Sambut Baik Silatnas Hidayatullah 2018
Hari ini Nenek mulai sibuk buat kue khas lebaran. Perkakas pembuatan kuenya, seperti oven dan talang besi, kembali dikeluarkan dari lemari khusus. Kue-kue itu sebagian untuk dikumpulkan ke panitia Silatnas guna dihidangkan ke para tamu, juga untuk tamu-tamu di rumahnya.
Sebenarnya lansia empat anak yang hijrah ke Balikpapan tahun 1980-an ini tak punya tenaga banyak untuk membuat kue. Maklum usianya sudah begitu senja. Kesehatannya pun semakin menurun. Sudah sering sakit-sakitnya kambuh. Tapi demi suksesnya perhelatan lima tahunan Silatnas, sisa-sisa tenaganya ia kerahkan untuk tetap membuat kue.
“Enda enak perasaanku (kalau enda buat kue),” ujarnya sambil membuat adonan kue ditemani anak, menantu, dan dua cucunya yang ikutan buat kue.
Sudah menjadi tradisi dan kebahagiaan tersendiri baginya membuatkan kue dan memberikan pelayanan lainnya untuk para tamu, baik saat acara besar maupun acara-acara lainnya.
Lembur
Bukan cuma ibu-ibu yang sibuk. Bapak-bapak tak ketinggalan, termasuk para santri dan mahasiswa.
Lima hari menjelang Silatnas Hidayatullah, berbagai persiapan terus dilakukan. Kerja bakti terutama. Bahkan warga dan mahasiswa lembur sampai malam hari, termasuk saat pengecoran jalan khusus kaum difabel di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, dan pemasangan umbul-umbul, Rabu (14/11/2018).
Sementara para panitia semakin sibuk mempersiapkan ini itu, bergerak, berkoordinasi, dan rapat sana sini, baik lewat kopdar maupun online, secara internal dan eksternal pesantren. Apalagi, berdasarkan informasi yang saya terima, sebagian tamu Silatnas mulai berdatangan per hari ini.
Bahkan sejak kemarin para jamaah dan kader Hidayatullah dan Muslimat Hidayatullah dari Papua sudah mulai berangkat dengan kapal milik Pelni.
Baca: Silatnas, Menyegarkan lagi Spirit Kebangsaan, Keagamaan, Keormasan
Di Masjid Ar-Riyadh, nyaris setiap selesai shalat berjamaah, arahan-arahan terkait Silatnas terus digencarkan. Bukan cuma mengenai hal-hal fisik dan teknis, tapi juga menyangkut kesiapan ruhiyah bagi para jamaah, termasuk dalam ber-Qur’an, berhalaqah, dan ibadah-ibadah lainnya.
Tuan rumah siap untuk berkhidmat bagi para tamu, sementara para tamu diharapkan juga siap berkhidmat kepada sesama Muslim wabilkhusus jamaah Hidayatullah, paling minimal berkhidmat untuk diri sendiri, demikian harapan saya sebagai bagian dari ormas yang telah berusia 45 tahun itu, sebagaimana spirit dari tema besar Silatnas, “45 Tahun Hidayatullah Berkhidmat untuk NKRI Bermartabat”.* SKR
Baca: Silatnas Hidayatullah 2018, ’45 Tahun Berkhidmat untuk NKRI’