Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Cerita dari Dieng dan Selembar Doa ”Palestina” [2]

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 24 Oktober 2015 10:37 10:37 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 24 Oktober 2015 10:37
Bagikan
Telaga Warna dan pedesaan di dataran tinggi Dieng tampak dari puncak Prau (18/10/2015).
Bagikan

Sambungan dari tulisan pertama

PETAK-petak kebun masih memamerkan kemolekannya, saat awan tipis mulai memeluk mesra punggung perbukitan. Di ufuk barat, matahari sedang bersiap. Tak lama lagi sinarnya dilumat senja.

Pemandangan indah itu terlihat dari jalur pendakian Gunung Prau. Di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah ini, saya tengah rehat sejenak.

Berhenti sesaat saat mendaki gunung adalah keniscayaan. Semua pendaki yang saya lihat, siang hingga sore, Sabtu (17/10/2015) itu, pasti begitu. Sejak mulai menjejaki Gunung Prau, sekitar pukul 15.26 WIB, sudah berkali-kali saya istirahat.

Saya mendaki bersama 11 anggota Tim Ekspedisi Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Pusat yang terbagi beberapa rombongan. Saya kebagian rombongan kedua. Di trek Patakbanteng yang kami pilih, terdapat 3 pos, ditandai plang nama berwarna hijau.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Pos I kulalui dengan agak tertatih. Jalur setelah pos ini mengitari lereng anak Gunung Prau. Jalannya cukup sempit, mengular di antara perkebunan kentang yang dibatasi pagar bambu. Para pendaki mesti antrian melintasinya.

Pos II Canggal Walangan, baru kulewati pada pukul 16.26 WIB. Memasuki pos ini, treknya berubah. Hutan pinus menghadang. Jalannya pun lebih lebar, dengan tanah berlubang dan berundak-undak tak karuan. Di sini para pendaki bisa saling menyalip. Tapi target tim kami bukan tiba dengan cepat, melainkan dengan selamat.

Selain itu, saat naik ke gunung, sebenarnya tak perlu buru-buru apalagi berlari. Cukup melangkah dengan santai dan teratur. Jika sudah lemas, berhentilah sejenak, jangan terlalu lama. Teori-teori itu saya dapatkan dari pengamatan terhadap para pendaki lain. Meski sudah punya banyak referensi soal pendakian, namun lebih banyak referensi baru yang kudapatkan di lapangan.

Selepas rehat, badan terasa segar dan bertenaga lagi. Tapi baru beberapa langkah, kembali lemas. Saat begini, yang paling dibutuhkan adalah semangat. Begitulah tampaknya yang dirasakan setiap pendaki. Tampak mereka saling menyemangati. Saya pun turut menyemangati pendaki lain. Pun sebaliknya, mereka menyemangatiku, “Ayo, Bang!”

Rupanya, cukup banyak pendaki dari kalangan anak-anak, jauh lebih muda dariku. Tak sedikit pula dari kaum hawa, termasuk yang berjilbab. Sempat saya berpikir nyeleneh, kok ada cewek mau naik gunung?

Jelang ujung trek Pos II, ada spirit tambahan. Pada batang sebuah pohon terlihat tulisan dari spidol, “Semangat, 5 menit lagi.” Entah siapa penulisnya. Saya pun memperlihatkannya kepada sejumlah rekan setimku untuk menyemangatinya.

Pukul 17.01 WIB. Akhirnya kujumpai Pos III, namanya Cacingan, membuatku agak tergelitik. Seperti Pos II, Pos III juga tak ada penjaganya. Di sini para pendaki beristirahat sejenak sembari duduk dan minum.

Debu menjadi tantangan tersendiri dalam pendakian ke Prau. [Foto: Syakur]
Debu menjadi tantangan tersendiri dalam pendakian ke Prau. [Foto: Syakur]
Mengikis Sombong

Langkah demi langkah kuayun. Jelang puncak, treknya makin terjal. Di sini kudapati tiga pria pendaki yang berjalan kompak dan teratur. “Jalan lima langkah, ngasonya (berhenti) lima detik. Ini pesanan dari orangtua,” terang pemimpinnya tanpa menjelaskan lebih jauh saat kusamperi.

Trik itu sempat kupraktekkan. Memang agak nyaman jika melangkah teratur. Hingga akhirnya, setelah berjam-jam mendaki, saya pun tiba di puncak Gunung Prau sekitar pukul 17.37 WIB. Suatu kebahagiaan tak terhingga menghampiri. Segala kepenatan menguap, terbayar oleh indahnya pemandangan di sekeliling kami.

Puncak Prau berketinggian 2.565 mdpl, disebut-sebut sebagai puncak dengan pemandangan sunrise terindah se-Asia Tenggara. Dari sini tersaji indahnya Telaga Warna Dieng yang dikelilingi sawah dan pedesaan. Juga keindahan puncak gunung-gunung lain, seperti Gunung Lawu, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, dan Gunung Sumbing. Masya Allah!

Begitu semua anggota Tim Ekspedisi BMH sudah tiba di puncak, kami segera memasang tenda-tenda. Lanjut masak, santap malam, dan shalat Maghrib jamak Isya.

Suhu puncak sangat dingin. Tanganku selalu bergetar saat memegang sesuatu. Karena tak sanggup menyentuh air, terpaksa bertayammum saja untuk shalat. Syukurnya, jaket tebal mampu menghangatkan tubuhku.

Malam itu, kami dihampiri seorang pendaki dari tenda sebelah. Sofyan, pria 40 tahun asal Tegal itu, mengaku sudah berpengalaman mendaki. Bermula saat masih SMA. Beberapa bulan sebelum ke Prau, ia mendaki Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat. Darinya kutahu bahwa trek Patakbanteng, meski tergolong pendek tapi paling ekstrem dan terjal dibanding trek lain ke Prau.

Baginya, selain olahraga, mendaki adalah ajang mengikis kesombongan dan mentadabburi ciptaan Allah. “Saat di puncak, kita akan merasa bahwa kita tak pantas untuk sombong,” ujarnya. Dalam pendakiannya ke Prau, ia mengajak anaknya, kelas 4 SD, untuk menanamkan padanya akan hakikat mendaki.

Ia mengaku, istrinya sempat tak suka ia naik gunung. Tapi ia bilang, “Daripada saya main perempuan lebih baik saya main ke gunung.” Sebelum kami terlelap bersama sleeping bag masing-masing, kurenungi nasihat Sofyan.

Untuk Palestina

Esoknya, Ahad (18/10/2015), tepat 5 Muharram 1437 H. Usai shalat Shubuh berjamaah, kami menyambut keindahan sunrise. Lagi-lagi hanya kepada Allah kami memuji. Detik-detik terbitnya mentari tak luput dari bidikan kamera para pendaki.

Ada tradisi unik pendaki di puncak, yaitu menulis salam atau doa di atas kertas untuk yang dicintainya. Kertas itu difoto dengan latar belakang pemandangan, dan biasanya dikirim ke media sosial. Entah dari mana asal tradisi ini.

Seorang sobat pernah mengirim salam untukku dari Puncak Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat. Saat melihat foto kirimannya, saya senang banget. Mungkin itu cara pendaki membahagiakan orang yang ia cintai.

Atas dasar itu, saya menuliskan pesan cinta untuk keluarga di kampung halaman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Juga buat kawan-kawan di Jakarta. Tapi ada yang lebih penting kurasa. Bekerjasama dengan Syukur Sudani Hulu, staf BMH, saya menulis sebait doa berikut:

“Untuk kalian umat Islam dan para Mujahidin di Palestina, Suriah, Yaman, serta seluruh dunia. Doa dan dukungan kami selalu menyertai kalian. Salam perjuangan dari Tim BMH dan Hidayatullah media. (Munas IV Hidayatullah).”

Syukur (kiri) - Syakur dan lembaran doa untuk Palestina. [Foto: self timer]
Syukur (kiri) – Syakur dan lembaran doa untuk Palestina. [Foto: self timer]
Saat menuliskannya, kucoba resapi perjuangan mereka yang tengah menghadapi tirani dan penjajah di negeri masing-masing. Dingin, letih, lapar, haus, dan secuil susah yang kami rasa dalam pendakian, jauh belum sebanding dengan derita mereka.

Melengkapi kampanye itu, saya mengenakan ikat kepala “Save Gaza” dan baju kaos berbentuk bendera Palestina. Hingga kami turun dari gunung, atribut itu tetap melekat di badan. Berharap kampanye ini mengingatkan para pendaki akan Palestina dan negara Islam lainnya. Di sisi lain, hati kecilku merasa baru segini yang bisa kami perbuat.

Dalam perjalanan turun gunung, saya melangkah cepat, kadang berlari kecil. Selain trik ini disarankan oleh Sofyan, sebuah semangat baru tertanam dalam diriku. Pendakian perdanaku memang memberi kesan mendalam. Kesan buruknya, saat turun, debunya jauh lebih banyak daripada saat naik.

Oya, dulu saya pernah bertanya-tanya, ngapaian sih capek-capek mendaki gunung? Ternyata, mendaki itu bikin ketagihan. Ibarat guyonan pengantin baru, “Lebih baik ketagihan daripada penasaran”. Ke gunung yuk!*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Peduli Palestina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemerintah Mesir Tuduh Pengusaha Ikhwan Selundupkan Uang Asing ke Luar Negeri
Tulisan selanjutnya Warga Kota Bandung Bubarkan Acara Asyuro di Stadion Persib

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?