Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Cerita dari Dieng dan Selembar Doa ”Palestina” [1]

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 24 Oktober 2015 08:40 8:40 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 24 Oktober 2015 08:40
Bagikan
Pemandangan pagi di Puncak Gunung Prau, Dieng, Wonosobo (18/10/2015).
Bagikan

JUMAT sore, 16 Oktober 2015. Para anggota Tim Ekspedisi BMH melingkar di depan kantornya, Kalibata Office Park, nomor 21 blok H, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Direktur Operasional I BMH Pusat, M Chofadz melepas mereka dengan doa.

“Tujuan kita bukan sampai ke gunung, tapi semoga kita kembali ke Jakarta dengan kondisi yang lebih sehat lagi,” Firjun Zaenal, Manager SDM BMH Pusat, selaku pimpinan rombongan mengingatkan anggotanya.

Sekitar pukul 17.30 WIB, tim sudah bergerak ke Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat dengan mikrolet. Usai shalat Maghrib jamak Isya di mushalla stasiun, kami meninggalkan Ibukota. Kereta Api Serayu Malam melaju membawa para petualang. Di atas gerbong 1 kelas ekonomi, rupanya banyak rombongan calon pendaki lain. Tampak bagasi kereta dipenuhi tas-tas gunung berbagai ukuran.

Esok pagi, Sabtu sekitar pukul 8, Serayu Malam tiba di Stasiun Purwokerto, Jawa Tengah. Semua kelompok pendaki turun di stasiun terdekat dengan Dieng jika dari Jakarta ini. Meski tak semua satu tujuan dengan kami, Gunung Prau, Dieng.

Ngeteng

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Dua tahun ini, Tim Ekspedisi BMH Pusat rutin melakukan pendakian gunung. Di antaranya bertujuan meningkatkan kekompakan karyawan demi menunjang kinerja kantor. Pendakian pertama ke Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat, berlangsung pada September 2014. Mendaki Prau adalah agenda kedua.

Dari Stasiun Purwokerto, 12 petualang itu –termasuk diriku– bergeser ke Terminal Purwokerto dengan dua mobil angkutan kota 144. Sejak awal kami memang berniat ngeteng alias melakukan perjalanan ala backpacker. Biayanya lebih murah.

Angkotan kota dari Stasiun Purwokerto ke Terminal Purwokerto. [Foto: Syakur]
Angkotan kota dari Stasiun Purwokerto ke Terminal Purwokerto. [Foto: Syakur]
Setibanya di terminal, sejumlah karnet dan calo menyambut kami, menawari jasa angkutan. Sambil rehat, makan-minum, ganti pakaian, MCK, dan sebagainya, kami melakukan tawar-menawar harga jasa transportasi.

Dipilihlah sebuah mini bus yang langsung ke Dieng. Harganya terjangkau; jika dibagi 12, hanya Rp 50 ribu perorang dengan jarak tempuh ratusan kilometer. Sekitar pukul 09.25 WIB, bus ramping itu berangkat.

Dieng berada di dataran tinggi Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Perjalanan ke sini kami tempuh sekitar 3,5 jam, melintasi Kabupaten Banyumas dan Banjarnegara. Begitu memasuki kawasan wisata Dieng, suasana khas pegunungan mulai terasa. Udara yang segar dan perkebunan nan indah. Bus mini yang membawa kami agak terseok menaklukkan tanjakan.

Hampir pukul 13.00 WIB, kami tiba di Jl Dieng km 24, Desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar. Dari sinilah terdapat salah satu Pos Pendakian Gunung Prau. Usai shalat Zhuhur jamak Ashar di masjid terdekat, kami mengatur barisan. Firjun memberi arahan singkat sekaligus memimpin doa syafar.

Pria berbadan atletis ini berpesan agar menjaga kekompakan tim, “Hilangkan semua kesombongan-kesombongan yang ada, jangan merasa hebat sendiri.”

Bismillah! Tim kami pun mulai melakukan pendakian sekitar pukul 15.26 WIB dalam catatan kamera DSLR-ku. Kujejakkan sepatu gunungku dengan mantap ke jalan semen menanjak. Kuatur irama nafas sesantai mungkin. Pendakian pertama ini membuatku agak deg-degan.

Satu, dua, tiga… Beberapa puluh meter baru terlewati. Tapi tahu-tahu kondisiku berubah drastis; nafas agak sesak, langkah jadi lemah. Beban di punggung seakan makin berat. “Hosh, hosh, hosh!” Ngos-ngosan. Rupanya begini rasanya mendaki gunung.

Akhirnya, saya dan sejumlah rekan yang bernasib serupa –dan sama-sama pendaki pemula– memilih rehat sejenak. Beberapa lainnya tetap naik. Sekian menit kemudian, kami lanjut, sebagian masih bertahan.

Dilema

Sinar matahari terasa hangat saat menyatu dengan udara dingin Patakbanteng. Sabtu (17/10/2015) siang itu, trek yang kami lewati cukup ramai dilalui para pendaki lain. Tiba di Pos I Sikut Dewo, pukul 15.47 WIB, rombongan pertama kami beristirahat sejenak. Saya ikut. Selain memang tenaga cukup terkuras, juga mesti menunggu rombongan terakhir. Tiket masuk Gunung Prau, sebagai syarat melewati Pos I, dipegang mereka.

Di pos ini saya mendapat tambahan ilmu. Kata petugas, sebaiknya jaket parasut yang kami pakai dilepas saja. “Sebab nanti keringatnya jadi dingin pas berhenti atau istirahat,” ujarnya. Saya pun teringat saran sobatku, Zainal A, yang sudah sering mendaki, “Kalau lagi jalan, pakai kaos aja, soalnya keringatan.”

Tanpa pikir panjang, saran tersebut kuturuti, diikuti beberapa kawan lain. Pendakian pun dilanjutkan. Dua pos lagi menunggu. Dari Pos I, trek pendakian mulai ekstrem. Selain agak terjal, jalurnya tak lagi semen atau bebatuan, melainkan jalan tanah nan kering. Musim kemarau berkepanjangan menyebabkan debu berhamburan saat kaki menjejak tanah.

Muncul dilema. Saat debu beterbangan, masker Buff yang melilit di leher mesti kupakai. Tapi begitu mulut dan hidung tertutup masker, pasokan oksigen terhambat. Dada pun agak sesak dan mengganggu pendakian. Tapi jika tak bermasker, debu yang terhirup.

Menariknya, di sepanjang jalur pendakian terdapat banyak kios dan pondokan untuk istirahat, bahkan tempat shalat dan MCK. Jaraknya berjauhan. Mirip rest area di jalan tol. Beberapa kios bambu itu sempat saya singgahi. Sekadar untuk melepas lelah dan mengatur nafas. Plus menyuplai energi dengan semangka dingin nan segar yang dijual Rp 1000-2000 per iris.

Suasana di jalur pendakian Gunung Prau sebelum Pos I. [Foto: Syakur]
Suasana di jalur pendakian Gunung Prau sebelum Pos I. [Foto: Syakur]
Dilema lainnya dalam pendakian ini, beban di punggungku begitu berat. Cukup untuk menjungkalkan tubuh langsingku jika miring ke belakang. Tas gunung berukuran 55 liter terisi penuh oleh sejumlah pakaian –termasuk jaket tebal dan baju berbendera Palestina, makanan, serta perlengkapan lain seperti headlamp.

Di bagian atas carrier merah yang kugendong itu, nangkring segulung matras hitam. Di kantong kanannya ada tripod, di sisi kirinya air minum sebotol gede.

Meski berat, semua itu mesti kubawa. Selain dibutuhkan, sebuah rencana tengah kurancang sejak sebelum berangkat. Hari pertama pendakian ini harus memberi kesan lebih bagiku dan orang lain. Semoga tercapai besok!*/Bersambung

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Peduli Palestina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Saat TNI Shalat Istisqa’
Tulisan selanjutnya Tokoh Islam Singkil: Misionaris Bangun Gereja, Datangkan Pekerja Non Muslim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?