Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Transeksual di Iran: Sebuah Hukum Liberal di Negeri Mullah [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Desember 2015 08:28 8:28 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Desember 2015 08:28
Bagikan
Konsultasi operasi kelamin di Iran
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Stigma Sosial dan Kurangnya Pendidikan

Meskipun OPK sudah legal dan banyak dilakukan di Iran selama 30 tahun terakhir, masyarakat luas masih tidak familier dengan transeksualitas. Menurut Mahtaa, sebuah media online Iran yang menjadi suara bagi orang-orang transgender, banyak orang berpikir bahwa transeksualitas adalah sebuah kondisi yang dapat disembuhkan.

Mohammad, seorang perwakilan dari Mahtaa, menunjukkan bahwa, “Beberapa orang berpikir bahwa transeksual adalah hermaprodit yang memiliki kedua jenis kelamin, dan mereka berpikir bahwa operasi ditempuh untuk memperbaiki fisik. Mereka tidak menyadari bahwa tubuh seorang transeksual tidak bermasalah, tapi jiwanya tidak.”

Para ulama Syiah juga tidak memiliki kesepakatan mengenai hal ini, karena banyak dari mereka yang menolak OPK, kecuali organ reproduktifnya tidak jelas apakah laki-laki atau perempuan. Lebih lanjut, ada sejumlah psikiater yang percaya bahwa transeksualitas dapat disembuhkan dengan obat-obatan, kejut listrik atau dengan Islamo-therapy, sebuah terapi secara spiritual dan berdasar pada agama yang bertujuan pada pencegahan.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Problem yang sama mengenai kesalahpahaman atas transeksualitas juga dialami para transeksual sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Professor Afsaneh Najmabadi pada bukunya Professing Selves: Transsexuality and Same Sex Desire in Contemporary Iran (Pembuktian Diri: Transeksualitas dan Nafsu Sesama Jenis di Iran Kontemporer). Mereka sering berbicara mengenai ketakutan amat sangat yang mereka alami saat mereka mengira diri mereka homoseksual dan tidak mungkin mereka memberitahu keluarga mereka.

Karena konotasi yang negatif tersebut, transeksualitas sering disalahpahami dan ditempeli stigma. Mahtaa mencatat bahwa penghinaan tersebut, terutama secara verbal, sangatlah umum. Organisasi transeksual telah bekerja keras untuk mendapatkan pengakuan secara hukum, dan mereka secara resmi telah memisahkan diri dari segala hubungan dengan homoseksualitas. Apa yang di Barat dipandang sebagai bagian dari semua komunitas LGBTQ secara virtual tidak eksis di Iran yang konservatif.

Pada akhirnya, orang-orang homoseksual hidup dalam kerahasiaan, namun banyak dari mereka yang akhirnya melalui proses penyaringan untuk mendapatkan sertifikat transeksual dalam rangka memuaskan orang tua mereka atau untuk mendapatkan dokumen legal untuk ditunjukkan pada pihak kepolisian. Mendapatkan sertifikat tersebut tidak susah, karena pertanyaan-pertanyaannya sering diulang dan jawaban yang diharapkan sangat condong kepada gender stereotype yang sudah ada. Meski begitu, seperti yang dijelaskan Mohammed, orang-orang homo yang mendapatkan sertifikat jarang ada yang melakukan operasi.

Problem yang muncul bagi para transeksual tidak hanya terbatas kepada stigma sosial. Operasinya sendiri adalah yang paling susah dari rangkaian pengobatan tersebut, karena tidak ada bantuan yang diberikan selama dan setelah operasi. Jika operasinya gagal, maka tidak ada yang bisa dikomplain. “Tidak ada yang mau mendengarkan kami,” kata Heydar. “Harusnya ada bantuan setelah operasi, juga secara psikologis.”

Menurut Mahtaa, kualitas para dokter bedah di rumah sakit negeri sangat rendah dan organ seksual mereka setelah operasi tidak bekerja seperti yang diharapkan. Pada saat seperti ini, dukungan keluarga sangatlah penting, namun pada mereka yang ditolak oleh keluarganya, proses tersebut dirasa amat sangat menyakitkan. Banyak transeksual yang akhirnya bekerja sebagai tuna susila.

Dengan mengacu pada patokan bahwa di Iran organ seksual yang berfungsi dipandang penting bagi sebuah pernikahan yang langgeng, dan pernikahan itu sendiri dipandang sebagai ukuran hidup yang “lengkap”, orang-orang transeksual seringnya menghadapi masalah tambahan. Bahkan jika mereka dapat menikah, fakta bahwa mereka tidak dapat memiliki keturunan membuat keluarga tersebut dipandang tidak sempurna.

Memilih Sembunyi

Heydar dan Leila mengaku telah bahagia berdua. Mereka baru-baru ini mengunjungi sebuah panti asuhan di daerah mereka dan berencana mengadopsi seorang anak. Seminggu setelah kami berjumpa dengan Leila, dia mulai mengejar gelar di bidang pekerjaan sosial.

Teman mereka Nima menempuh operasi tiga bulan lalu. Saat situs middleeasteyes.com mewawancarainya tentang bagian paling susah, dia mengatakan bahwa dia baru saja putus dengan wanita yang ditemuinya sebelum operasi. Sekarang, hal ini adalah yang paling disesalinya. Ia telah kawin, tapi dia mengunjunginya di rumah sakit dengan pasangannya,  Sebuah hal yang mengejutkan di Negeri kaum Mullah.

Menurut Mahtaa, pengetahuan tentang komunitas tersebut telah meningkat, dan meski jalan masih panjang, situasinya kini lebih baik daripada 10 tahun yang lalu. Meski ada masalah yang jelas, banyak orang-orang transeksual di Iran bisa bebas melaksanakan operasi kelamin.

“Usiaku setahun dan aku kini tahu rasanya kebebasan. Aku bebas dari penjaraku,” ujar Leila.

Dibawah pemerintahan Reza Pahlavi, homoseksualitas ditoleransi dan mendapat tempat. Beberapa berita mengabarkanya perkawinan kaum hombreng ini.

Pada akhir 1970-an, beberapa warga Iran bahkan mulai berani berbicara tentang memulai sebuah organisasi hak-hak kaum homo, mirip dengan Gay Liberation Movement. Pelaku homoseksual atau LGBT di Iran bisa dihukum berat. Namun sampai hari ini, aktivitas mereka masih bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:homosesksualiranlgbtoperasi kelaminperkakawinan sejenissyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Putin Pernah Dideportasi dari Turki terkait Aktivitas Mata-Mata
Tulisan selanjutnya Haniyah Ajak Saudi dan Turki Dukung Intifada Al-Quds

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Berita
18 Juli 2026 09:49
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Terbaru

  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?