BELANDA (atau Netherlands) adalah negeri dengan seribu pesona di Eropa bagian Barat. Nama Netherlands sendiri bermakna negeri dengan dataran rendah, hal ini dikarenakan hanya sekitar 50 persen dari daratannya yang berada satu meter diatas permukaan laut.
Hampir 17 persen dari total kawasan daratannya dibuat melalui reklamasi dari laut dan danau. Dengan angka 407 orang per km2, Belanda merupakan Negara terpadat penduduknya di Eropa barat.
Kesan pertama yang menghinggapi saya ketika memasuki bandara Schiphol Amsterdam adalah memasuki kawasan transportasi serba lengkap dan multi koneksi. Betapa tidak bandara Schiphol ini terhubung dengan segala kota dengan sistem kereta cepat bawah tanah.
Dengan membeli tiket di Tickets and Service counter Anda dapat berangkat ke seluruh penjuru Belanda bahkan kota-kota di negara-negara tetangga. Koneksi Wireless internet pun langsung dapat anda nikmati ketika hape atau laptop anda nyalakan. Sebuah pelayanan yang cukup penting bagi turis dan orang yang musafir di zaman sekarang. Tidak hanya di bandara, layanan wireless internet ini pun dapat dinikmati didalam kereta ekspress di sepanjang perjalanan anda ke luar kota.
Keluar dari bandara, Anda akan melihat kota Amsterdam yang dipenuhi dengan kanal-kanal air kecil dengan jembatan-jembatan kecilnya. Yang sangat menakjubkan adalah tidak ada satupun sampah berserakan di kanal-kanal air tersebut.

Sebaliknya, kanal-kanal ini telah menjadi objek wisata paling menarik bagi turis-turis dari luar kota dan luar negeri untuk menaiki kapal-kapal kecil dan menjelajahi kota Amsterdam dari sungai-sungai kecil tersebut.
Konon pula kabarnya, dam-dam atau kanal-kanal (saluran) air yang dibangun di kota Jakarta dahulu (atau Jayakarta, Batavia) adalah hasil karya para arsitek Belanda yang masih bertahan hingga sekarang. Sayang sekali namun, sangat sulit mendapati satu saluran air di Jakarta yang bersih dari sampah dan kotoran yang dibuang warga kota Jakarta. Dalam hal ini, umat Islam seharusnya malu terlebih lagi di dalam ajaran kita disebutkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari Iman.
Namun alangkah sulit melihat sebuah lokasi kecil di ibukota yang bersih dari sampah!
Selain itu, kota Amsterdam dikenal sebagai salah-satu kota yang paling banyak pengguna sepedanya.
Tampak di tengah-tengah kota sekalipun jalur-jalur pesepeda berdampingan dengan jalur-jalur bus kota dan trem (semacam kereta kecil). Para pesepeda dengan mudah menelusuri ibu kota tanpa harus khawatir dengan keselamatan mereka, karena jalur-jalur mereka sudah disediakan dan terdapat kesadaran yang tinggi diantara pengendara kendaraan bermotor untuk memberi kesempatan pada para pesepeda dan pejalan kaki. Penulis sendiri merasakan bagaimana ramahnya pengendara mobil di Belanda yang selalu menyetop mobilnya sebelum zebra cross bila kita hendak melaluinya sebelum mereka melaju ke Bundaran-bundaran tengah kota.
Sebuah tradisi berkendara yang sangat baik yang patut dicontoh oleh tanah air kita. Terlebih lagi bahwa negeri kita memiliki sejarah erat dengan Belanda yang pernah menduduki selama tiga setengah (3 ½) abad lamanya. Sampai saat ini, ibukota masih belum mampu menyediakan transportasi massal yang ramah bagi jutaan pengguna transportasi, pejalan kaki ataupun pesepeda yang lalu lalang setiap harinya!
Pelajaran lainnya dari negeri ‘kompeni’ ini adalah pemerintahnya berhasil menjadikan negara Belanda sebagai salah satu negara pengekspor produk makanan terbesar di dunia setelah Amerika Serikat, padahal tanah hijau yang dimilikinya tentulah tidak sebanding dengan kesuburan tanah Indonesia yang dikatakan ‘bak tanah surga’? Lantas mengapa hingga saat ini Indonesia menjadi pengimpor utama produk-produk makanan dan sayuran dari luar negeri? Kesalahan urus tidak mesti dibiarkan berlarut bukan?*/Ady C. Effendy, Sekretaris Umum Asosiasi Muslim Indonesia di Qatar