“KATA dokter, kita tunggu sampai empat jam ke depan, Bapak. Kalau tidak ada perkembangan signifikan, maka operasi caesar harus dilakukan demi keselamatan ibu dan bayi.
Bidan di sebuah rumah sakit di Lamongan, Jawa Timur, itu berujar, saat menangani istriku ketika hendak melahirkan anak kedua kami.
“Empat jam,” ujarku membatin, mengulang pernyataan bidan.
Kuhadapkan kepala ke dinding bagian pintu utama rumah sakit. Kutajamkan pandangan untuk melihat jam. Ternyata pukul enam petang. Berarti hanya sampai jam sepuluh malam, jatah waktu yang diberikan dokter untuk menetukan tindak lanjut proses persalinan.
“Baik, Bu. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan,” jawabku kepada bidan.
Tak lama berselang, aku langsung memberi tahu istri untuk ke masjid terlebih dahulu, guna melaksanakan shalat maghrib.
Selesai shalat, kulanjutkan dzikir dan disambung dengan bermunajat kepada Allah, agar diberi kemudahan dalam proses kelahiran. Tidak harus dioperasi caesar. Itulah pintaku kepada-Nya. Dan tentu demikian pula harapan istri.
Jauh sebelumnya, ketika kelahiran anak pertama, aku dan istri telah diingatkan oleh dokter yang menangani proses persalinan secara caesar, untuk menunda kehamilan anak kedua.
“Minimal tiga tahun, Pak. Sangat beresiko bila kurang dari itu. Harus di-caesar lagi. Karena dikhawatirkan terjadi sobekan bekas òperasi pertama. Dan itu bisa mengancam keselamatan jiwa si ibu dan bayi bila tidak segera mendapat penanganan,” ulas sang dokter panjang lebar.
Sempat KB, Tapi…
Selaku orang awam persoalan medis, kami hanya mengangguki petuah sang dokter. Ketika mambaca artikel-artikel di internet, atau diskusi dengan kawan-kawan, para senior yang istri mereka pernah mengalami hal serupa, ya memang begitulah ‘resiko’ yang diterima oleh pasangan yang istrinya melahirkan secara caesar.
Sebagai wasilah menghindar dari hal yang mengancam keselamatan jiwa secara medis, akhirnya aku dan istri bersepakat untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB).
Setelah berdiskusi dengan seorang dokter lainnya, jalur yang kami pilih dengan konsumsi pil KB. Alasan yang diberikan dokter waktu itu; lebih aman untuk ibu menyusui. Selain itu, lebih mudah untuk berganti program bila kiranya tidak cocok.
Qadarullah. Ketika usia putri kami baru beranjak 1 tahun 9 bulan, istri terlambat datang bulan. Setelah dicek dengan alat pendeteksi kehamilan, hasilnya positif.
“Ya sudah, enggak apa-apa. Bismillah,” balasku santai, ketika istri mengonfirmasikan kepadaku tentang kehamilannya.
Untuk menghilangkan rasa kekhawatiran atau pikiran negatif lainnya terkait dengan keselamatan istri dan janin di kemudian hari, aku bersandar pada ayat al-Qur’an di akhir-akhir surat Al-Baqarah;
“Allah tidak akan pernah menguji hamba-Nya, di atas kemampuan mereka.”
Selain itu, dalil-dalil baik itu dari al-Qur’an maupun Hadits yang menyatakan anak adalah anugerah terbesar dari Allah untuk pasangan suami-istri, juga menjadi pijakanku. Sehingga bulat mengambil kesimpulan;
“Kehamilan itu bukan musibah. Tapi berkah/anugerah.”
Meski tahu resiko medis sangat besar, istri bersikukuh hendak berupaya melahirkan secara normal. Sebagai suami aku mendukung harapan itu, meski sebenarnya digelayuti kecemasan.
Semua perasaan itu aku sembunyikan, agar tidak menjadi kecemasan istri. Inginku ia fokus berusaha melahirkan secara normal.
Kami pun sempat berdiskusi dengan seorang ustadz tentang hukum memaksakan kehendak melahirkan secara normal, sedangkan vonis dokter itu sangat beresiko.
Khawatir, kalau-kalau apa yang kami pilih bertentangan dengan hukum dasar syariat.
“Pada dasarnya, dilarang membahayakan diri sendiri. Itu haram hukumnya. Tapi cobalah cari plan B, C, D. Cari mereka yang siap untuk mengusahakan lahir secara formal terlebih dahulu,” pesan ustadz.
Sudah sering kami berkeliling menemui bidan, dokter, klinik persalinan, rumah sakit, yang kiranya siap mengusahakan lahir secara normal.
Namun hasilnya nihil. Semua pada angkat tangan. Bahkan ada seorang dokter merinci resiko bahaya yang membayangi bila diambil tindakan lahiran normal.
“Kalau sampai mengalami sobekan bekas operasi awal, kemudian dalam hitungan detik tidak segera ditangani, ibu dan bayi bisa dalam bahaya. Kami tidak siap mengambil resiko,” ujarnya, yang membuat kepala tambah puyeng.
Hingga akhirnya ada sebuah rumah sakit di Lamongan, siap mengupayakan terlebih dahulu untuk kelahiran normal istri saya. Tapi bila memang tidak memungkinkan, maka operasi akan dilakukan.
Di samping mencari tempat yang bersedia menangani, selain memperbanyak doa, kudapati istri sangat sering berselancar di dunia maya, untuk mengetahui tips-tips melahirkan secara normal bagi mereka yang pernah operasi caesar.
Ia juga mengikuti komunitas serupa yang terjaring di media sosial. Selain itu, ia juga sering mengunduh senam-senam untuk kesehatan/kekuatan ibu hamil pasca caesar.
Obat-obatan herbal yang direkomendasikan dari artikel-artikel yang dibaca, juga dibeli dan rutin diminumnya.
Baca: Tak Disangka, Bayi Kami Lahir di Usia 72 Tahun Republik Indonesia
Kekuatan Doa
Hingga tibalah suatu sore, menjelang shalat ashar, istri mengalami kontraksi. Kami bersegera membawanya ke rumah sakit itu. Lumayan jauh posisinya dari kediaman kami.
Jarak waktu empat jam yang diberikan dokter benar-benar membuat hati terasa berdebar-debar. Terasa sangat singkat. Padahal, sepengetahuanku, tidak sedikit ibu yang melahirkan, jarak dari pembukaan satu sampai sepuluh, itu memakan waktu belasan jam.
Beberapa bulan sebelumnya, contohnya. Ada seorang temanku yang istrinya lahiran, belum menambah bukaan dari angka dua, padahal sudah satu malam lamanya di rumah sakit. Pada akhirnya diambil tindakan operasi caesar.
Lah, ini hanya diberi batas empat jam. Karena itu, kekuatan doalah saat itu aku dan istri andalkan. Sebab segala ikhtiar telah dilakukan. Kini sudah masuk detik-detik kelahiran. Harapan kami sangat digantungkan kepada Allah.
Maka doalah yang kukencangkan. Keluarga, teman, sahabat, dan para guru juga kuminta untuk mendoakan kelancaran kelahiran istri.
Alhamdulillah mereka berkenan mendoakan, via kiriman pesan di group WA.
La haula wa la quwwata illa billahi al’aliyul azhim.
Ketika jam telah mendekati pukul sepuluh; bidan memeriksa istri. Katanya kemudian;
“Alhamdulillah, Pak. Ada perkembangan pesat. Ini sudah pembukaan tujuh. Mudah-mudahan bisa normal. Tidak usah operasi,” jelasnya.
Ah, betapa melegakannya informasi itu. Hati yang mulanya kalut terasa lapang. Harapan itu semakin terbuka lebar.
Dan Alhamdulillah lagi. Tepat menjelang pukul sebelas malam, istriku telah melahirkan seorang bayi perempuan dengan normal. Allahu Akbar!
Doakan, semoga ia menjadi putri yang shalehah dan diberkahi kehidupannya di dunia dan akhirat. Aamiin!
Ketika kembali ke rumah keesokan harinya, banyak kerabat dan sahabat yang tidak percaya dengan proses kelahiran istri yang normal. Karena menurut mereka cukup langka kejadian ini; Kelahiran masih masuk usia rawan pasca operasi caesar yang pertama.
Tapi bagi kami, tidak ada yang mustahil bila Allah telah menentukan. Tinggal kita berupaya semaksimal mungkin untuk merengguh takdir terbaik dari apa yang telah ditetapkan-Nya.
Karena hukum sebab-akibat, juga berlaku di dunia ini. Semoga bermanfaat. Aamiin!* Sebagaimana yang dikisahkan kepada hidayatullah.com oleh Abu Aqila