“YOU from Indonesia?” Tanya seorang lelaki tua sambil menggandeng anaknya kepadaku. Saya menjawab, “Ya, benar saya dari Indonesia.”
Lelaki berusia 54 tahun tersebut melanjutkan pembicaraannya. Bahasa Inggrisnya lancar. Dia berasal dari Distrik Maungdaw, Myanmar.
Setelah itu, saya menanyakan sejak kapan dirinya berada di kamp pengungsian, pria bernama Abdul Naser itu mengatakan belum lama.
“Saya sudah di sini setelah Idul Adha,” ucapnya saat saya dari hidayatullah.com mengunjungi sebuah kamp pengungsi di kawasan Kutapalong, Cox’s Bazar, Bangladesh, Senin, 23 Oktober 2017.
Bersama dengan ketiga anak dan istrinya, pria yang berprofesi sebagai guru ini terpaksa mengungsi dari kampungnya di Maungdaw.
Kekerasan militer Myanmar selama beberapa tahun belakangan, katanya, membuat warga di Maungdaw mengungsi.
Baca juga: Dari Myanmar ke Bangladesh, Pengungsi Rohingya 15 Hari Jalan Kaki
Jika tidak mau keluar dari Maungdaw, warga terus dipaksa bahkan sampai militer Myanmar tega membunuh.
“Warga di Maungdaw banyak yang ditembak Militer Myanmar,” katanya.
Sampai saat ini, sambungnya, operasi militer terhadap Muslim di Maungdaw masih terjadi.
Untuk bisa sampai ke Bangladesh, Abdul Naser naik perahu menyeberang sungai.
Mereka membayar perahu dengan biaya cukup besar.
“Saya bayar 10 ribu taka untuk 5 orang,” ucapnya.
Baca juga: Dari Bayi Lahir Prematur sampai Pengungsi Meninggal di Kamp Rohingya
Abdul Naser sebenarnya masih ingin kembali ke tanah kelahirannya di Maungdaw, namun nanti jika keadaan di sana benar-benar telah kondusif.
“Saya dan keluarga masih ingin tinggal di Maungdaw, namun (jika) semua bisa dipastikan sudah aman,” pungkasnya menggantung harapan yang entah kapan terkabulkan….*