PANITIA sempat kebingungan melihat para tamu yang datang ke Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur. Ada apa?
Acara Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah sudah sepekan lebih berlalu. Namun tersimpan banyak cerita dan pengalaman menarik bagi yang mengikutinya.
Seperti halnya dialami Alfiah, seorang ibu warga kampus Hidayatullah Balikpapan, tempat dimana Silatnas itu berlangsung pada 20-25 November 2018.
Alfiah terlibat dalam kepanitiaan Silatnas untuk tamu akhwat, Muslimat Hidayatullah (Mushida). Ia merasakan banyaknya pertolongan Allah dalam proses khidmatnya untuk para tamu.
Salah satu pertolongan Allah yang paling berkesan ia rasakan adalah ketika proses pelayanan tamu.
“Jadi, dalam kepanitiaan itu ada beberapa bagian, salah satunya pelayanan tamu, dan itu adalah bagian yang paling penting pada acara ini,” tutur ibu dari 6 orang anak ini.
Ketika di awal penyambutan tamu, panitia kebingungan karena jumlah tamu yang datang lebih dari jumlah tamu yang registrasi.
“Yang terdaftar sekitar 1.500-an, tapi yang datang malah dua kali lipat. Penambahannya karena banyak peserta yang membawa banyak saudari dan anak,” ujar guru di MI Raadhiyatan Mardhiyyah Putri Balikpapan ini.
Baca: Gol Silatnas Hidayatullah Peningkatan Kualitas Iman, Islam, Ihsan
Berdasarkan hitung-hitungan, tempat menginap yang tersedia untuk tamu itu cukup bagi yang terdaftar saja.
Namun karena yang datang lebih dari yang diperkirakan, maka panitia harus memutar otak demi pelayanan yang maksimal.
“Saya sudah sempat bingung, mau ditaruh dimana para peserta ini kalau ruangannya enggak cukup,” tambahnya sambil tersenyum mengenang momen itu.
Setelah berkoordinasi dengan panitia pusat, akhirnya didirikanlah tiga tenda darurat untuk peserta jika ruangan yang ada sudah tidak mencukupi.
Secara logika, memang tempat yang tersedia hanya dapat menampung peserta seadanya (terdaftar). Sehingga mau tidak mau, tenda daruratlah yang menjadi solusi membludaknya peserta.
Di luar dugaan, ternyata sampai acara Silatnas yang diikuti puluhan ribu dai-daiyah se-Indonesia itu berakhir, tidak satu pun peserta akhwat tersebut yang menempati tenda darurat, alias semua dapat tempat di gedung-gedung yang disediakan.
“Lahaula wala quwwata illa billah. Memang benar pertolongan Allah akan datang bagi hamba-Nya yang selalu menolong sesamanya, terasa betul nikmat silaturahim ini bagi kita sebagai pelayan,” tutupnya dengan mata berkaca-kaca.* Ahmad Munir, Sekretaris PENA Kaltim
Baca: Warga Mamuju Angkut Berkuintal Pisang Sumbang Silatnas