Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Muslimah Bercadar Semakin Diterima di Barat Pada Masa Pandemi

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 16 April 2020 21:34 9:34 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 16 April 2020 21:08
Bagikan
Bagikan

Oleh: Anna Piela

 

Hidayatullah.com | WARGA Amerika mulai mengenakan masker setelah pejabat federal dan lokal mengubah sikap mereka terkait penutup wajah yang dapat melindungi dari virus corona.

Ini adalah medan baru bagi banyak orang, yang menemukan diri mereka kesulitan mengenali tetangga mereka dan tidak yakin bagaimana bersosialisasi tanpa menggunakan ekspresi wajah.

Namun itu tidak berlaku bagi perempuan Muslim yang mengenakan niqab atau cadar, atau penutup wajah Islami. Tiba-tiba, para perempuan ini – yang di Barat seringkali menerima permusuhan karena menutupi wajah mereka – terlihat sama seperti semua orang.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Menjadi Target karena Pakaian mereka

Saya mewawancarai 38 perempuan Amerika dan Inggris yang mengenakan niqab untuk buku saya tentang wanita Muslim yang mengenakan niqab di Amerika Serikat dan Britania Raya. Kebanyakan dari mereka adalah warga negara Inggris dan Amerika, namun mereka datang dari seluruh penjuru dunia dan semua lapisan masyarakat. Mereka mualaf dari agama Kristen, Yahudi, mantan atheis, etnis Afrika Amerika, Afrika, Arab dan Asia Selatan.

Niqab – pakaian yang tidak diharuskan oleh Islam namun direkomendasikan dalam beberapa interpretasi – biasanya dikenakan bersama dengan pakaian longgar yang disebut abaya dan jilbab, atau kerudung. Beberapa perempuan memasangkannya dengan rok panjang dan tunik untuk menyembunyikan bentuk tubuh.

Semua perempuan yang diwawancarai untuk buku tersebut merasakan manfaat spiritual dari mengenakan niqab, yang membuat mereka merasa lebih dekat dengan Allah dan memperdalam praktik Islam mereka. Tapi mengenakannya di depan umum sering membuat mereka menjadi korban pelecehan jalanan yang rasis dan seksis serta Islamofobia.

Penelitian mengkonfirmasi bahwa Muslimah yang mengenakan pakaian Islami di negara-negara mayoritas non-Muslim sering mengalami pelecehan. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat pada 40 wanita Muslim, 85% melaporkan kekerasan verbal dan 25% mengalami kekerasan fisik.

Mengenakan niqab, bentuk pakaian Islami yang paling mencolok, adalah yang paling berbahaya. Delapan puluh persen pemakai niqab Inggris yang diwawancarai untuk laporan tahun 2014 oleh kelompok hak asasi manusia Open Society Foundations telah mengalami kekerasan verbal atau fisik.

Para pelaku cenderung menganggap wanita yang mengenakan niqab sebagai tertindas, terbelakang, asing, terpisah secara sosial atau sebagai ancaman. Penyerang sering menggunakan dalih keamanan dan imigrasi dalam serangan mereka.

‘Tiba-tiba semua orang memahaminya’

Sekarang, dalam perubahan peristiwa yang tidak terduga, orang-orang di Barat lari pagi mengenakan masker dan berbelanja dengan bandana menutupi mulut mereka. Ini membuat kehidupan publik dengan niqab jauh lebih menyenangkan, kata salah satu Muslimah.

“Ada perbedaan nyata pada cara Saya dipersepsikan. Tidak ada yang memberikan pandangan jahat karena sarung tangan dan penutup wajah saya,” perempuan yang saya panggil Afrah, dari Inggris, mengatakan dalam obrolan Facebook Messenger. “Semua orang tiba-tiba memahaminya!”

Saya menggunakan nama samaran untuk melindungi identitas perempuan dalam penelitian saya, karena berbicara tentang penggunaan niqab adalah masalah sensitif.

“Saya memakai niqab buatan tangan hari ini dan itu luar biasa,” Jameelah menulis kepada saya dari Prancis, di mana niqab secara resmi dilarang di sebagian besar ruang publik. “Karena situasi ini, aku tidak menerima tatapan jahat.”

Para perancang busana bahkan berusaha membuat penutup wajah terlihat lebih bergaya – sebuah upaya yang telah membuat wanita Muslim sejak lama dianggap sebagai ancaman keamanan di media sosial.

Rumana, seorang Muslimah dari Kroasia, mengatakan kepada saya bahwa semakin diterimanya penutup wajah di masyarakat telah membantunya mengatasi keengganan dalam menggunakan niqab.

“Saya biasanya orang yang gelisah yang tidak ingin menarik perhatian sehingga itu adalah selalu menjadi masalah terbesar. Sekarang penutup wajah terlihat di mana-mana,” katanya. “Saya akhirnya menemukan keberanian untuk memakainya. ”

Bahkan beberapa perempuan non-Muslim tertarik pada niqab sebagai cara melindungi terhadap virus corona.

Afrah, dari Inggris, mengatakan kepada saya bahwa bibinya yang non-Muslim ingin menggunakan niqab sekarang karena dia merasa masker wajah biasa tidak nyaman. Dan Sajida, seorang Muslimah Amerika, menceritakan tentang seorang teman muallaf yang ayahnya – seorang kritikus keras Islam dan penganut teori konspirasi anti-Muslim – sekarang mendorong putrinya untuk mengenakan niqab untuk mencegah penyebaran virus corona.

Niqab sendiri tidaklah cukup untuk melindungi dari virus seperti influenza karena bukan penutup yang rapat. Masjid-masjid memperingatkan Muslimah yang mengenakan niqab untuk juga mengenakan masker tambahan di bawahnya untuk perlindungan yang lebih efektif. Namun, niqab, seperti halnya penutup wajah lainnya, sangat mungkin melindungi orang lain dari bersin pemakaiannya jika menutupi semua wajah kecuali mata, telinga dan hidung.

Ahli dalam menutupi wajah

Para wanita yang mengenakan niqab yang berkomentar untuk cerita ini mengakui bahwa persepsi yang meningkat tentang penutup wajah datang pada saat krisis, ketika norma-norma sosial dan interaksi biasa ditangguhkan.

“Saya ingin tahu apakah empati ini akan berlanjut atau akan hilang begitu pandemi berakhir,” kata Afrah melalui Facebook Messenger. “Aku ingin tahu apakah orang akan menyimpan refleksi ini, ini perlu untuk melindungi diri sendiri, apapun alasannya.”

Pertanyaan yang sama muncul di komunitas Muslim.

Untuk saat ini, para Muslimah yang mengenakan niqab mengatakan, mereka banyak dimintai saran sebagai ahli dalam hal menutupi wajah.

Teman-teman Muslim dan non-Muslim yang mengenakan niqab untuk pertama kalinya membutuhkan bantuan mereka untuk mengikatnya dengan aman, dan bertanya apakah pantas secara budaya untuk hanya menutupi hidung dan mulut – daripada seluruh wajah kecuali mata.

Perempuan yang mengenakan niqab juga dapat berbicara dari pengalaman tentang berkomunikasi dengan wajah tertutup. Banyak orang yang tidak terbiasa mengenakan masker merasa sulit untuk menyampaikan emosi atau menerima isyarat sosial.

Tetapi perempuan yang memakai niqab tahu bahwa penutup wajah tidak mencegah komunikasi yang efektif.

“Tersenyumlah! Ekspresi wajah mudah dan cepat terlihat karena mata, ” Asma memberi saran.

Penelitian menunjukkan bahwa mendeteksi emosi manusia memerlukan lebih dari sekadar melihat ekspresi wajah. Para wanita yang mengenakan niqab yang saya wawancarai untuk buku saya “berusaha lebih keras,” seperti yang mereka katakan, untuk berkomunikasi. Mereka melambaikan, berbicara, dan menggunakan bahasa tubuh untuk terhubung secara sosial.

“Aku harus lebih banyak bicara dan ramah,” kata Soraya dari Skotlandia. “Jika aku berdiri di halte bus, aku menyapa. Anda dapat melihat saya tersenyum karena mata saya berkerut.”*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bangladesh Selamatkan 382 Rohingya yang 2 Bulan Terapung di Laut
Tulisan selanjutnya Muhammadiyah Harap Jamaah Tabligh Patuhi Kebijakan Pemerintah India

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Feature
30 Juni 2026 17:12
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza

Terbaru

  • Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah
  • Dihantam Rudal di Selat Hormuz Kapal Kontainer CMA CGM akan Jadi Besi Rongsokan
  • Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran
  • Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji
  • Pemkot Bukittinggi Gandeng HDM Persempit Ruang Gerak LGBT dan Berantas Narkoba
  • UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?