MERASAKAN nikmatnya pengabdian sebagai seorang hamba dan nikmatnya bermunajat kepada Sang Ilahi, menjadi salah satu alasan dari sekian banyak alasan dan pembenaran dari para relawan. Terutama, relawan kebencanaan yang terjun ke titik-titik lokasi kebencanaan.
Banyak sekali di antara para relawan kebencanaan yang menyadari betapa indahnya bermunajat dan beribadah kepada Allah di malam hari, terutama pada sepertiga malam terakhir.
Khusyukan saat lutut bersimpuh dalam sujud-sujud yang panjang, terasa nikmat setiap gerakan tahajud yang dilalui. Sebab dibalut dengan kelelahan di tubuh letih saat siang hari dan diganggu bisikan syetan serta rayuan hawa nafsu.
“Hidupkan malam, malam dengan Al-Qur’an.
Gelorakan siang dengan perjuangan.”
Salah satu bait penyemangat kami tersebut mencerminkan kondisi spirit relawan Hidayatullah.
Baca: Korban 429 Jiwa, Status Bencana Kabupaten, Tanggap Darurat 14 Hari
Tampak sejumlah anggota relawan Hidayatullah melaksanakan qiyamullail di Masjid Jami Al Mukminin Margasana, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Banten, Senin (24/12/2018) dinihari.
Masjid ini menjadi salah satu titik berkumpul (pengungsian) warga yang masih dilanda kekhawatiran dengan situasi perairan Selat Sunda, yang masih saja seolah mengancam warga dengan derasnya ombak yang tiada hentinya.
Sepanjang pesisir pantai, banyak warga memilih masjid sebagai titik kumpul sebagai penginapan dibandingkan beristirahat di rumah mereka.
Masjid ini menjadi titik peristirahatan 80-an orang, gabungan dari beberapa relawan dan masyarakat.
Baca: BMH-SAR Hidayatullah Salurkan Bantuan di Titik Terparah Tsunami Banten
Di ruangan jamaah putri yang lebih kecil dari ruang utama masjid, tampak ibu-ibu, remaja, dan anak bayi tertidur pulas dengan cara tidur yang tidak beraturan. Kondisi yang sama juga terjadi di ruang utama masjid dan beranda luar.
Relawan BMH-SAR Hidayatullah memilih melewati peristirahatan di malam pertama dengan berbaur bersama warga sekitar.
Sebab setibanya di lokasi bencana pada hari Ahad (23/12/2018) pukul 16.46 WIB, tim memilih untuk menelusuri titik-titik bencana, untuk menentukan titik posko induk gabungan BMH, SAR, IMS.* Rizky, relawan sekaligus penulis, dituturkan kepada hidayatullah.com