Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mereka Memilih Berani

Kisah Dai Diadang Pedang Terhunus Saat Mau Khutbah Jumat

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 27 Juni 2022 18:34 6:34 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 28 Juni 2022 08:00
Bagikan
Ustadz Sriyono, dai Hidayatullah di Palembang.
Bagikan

Hidayatullah.com | USTADZ Yono dia biasa dipanggil. Nama lengkapnya Ustadz Sriyono. Awal bergabung Hidayatullah di Dumai. Pertama kali diajak oleh Ustadz Afifuddin yang bertugas di Kota Pengantin Berseri itu pada tahun 1998.

Sebenarnya, ia ke Dumai dengan tujuan mengantar istrinya mencari orang tuanya yang sejak kecil umur 18 bulan meninggalkannya di kampung Wonogiri dan tidak pernah pulang. Yang ada hanya surat dan kiriman uangnya.

Lama kelamaan tidak tahan rindu untuk ketemu orang tuanya. Sehingga, dari Wonogiri, ia membawa tiga anak laki-laki yang masih kecil menuju Dumai.

Rumah mertuanya dekat dengan lokasi pesantren. Bahkan ayah mertua menjatahkan khusus untuk masakan para santri yaitu ubi, sayuran, dan buah-buahan.

Ia lalu direkrut menjadi guru untuk bersama merintis pendidikan di Hidayatullah Dumai. Merasa ada kecocokan, ia pun menerima tawaran itu. Sebenarnya, sejak kuliah di IKIP Yogyakarta, Ustadz Sriyono sudah membaca Majalah Suara Hidayatullah tahun 1988-1992.

Baca Juga

Kisah Dai Pedalaman Membina Iman di Kota Tepian
Membina Iman di Kota Tepian
Jalan Panjang Dai Tempaan Alam
Berpacu melawan Misionaris
Kisah Lulusan Al-Azhar Membina Kader Da’i di Kaki Gunung Penanggungan
Jangan Takut Berdakwah di Wamena

Hingga beberapa tahun kemudian, ia berhasil merintis dan mendirikan pendidikan SD dan SMP di Hidayatullah Dumai. Setelah beberapa tahun, ia bersama istri berniat mengantar temannya pindah tugas ke Hidayatullah Medan. Sekaligus rihlah bersama keluarga.

Rupanya, setiba di Medan, ia ditahan oleh Ustadz Ali Hermawan untuk bergabung di Hidayatullah Medan. Tepatnya di Tanjung Marowa. Ia diminta untuk menemani Ustadz Khairul Anam yang baru datang dari Hidayatullah Balikpapan.

Tidak lama di Medan, lalu ditugaskan ke Pulau Nias. Sebuah daerah minoritas Muslim, hanya 6 % saja. Daerah tempat berdiri Hidayatullah Nias, Muslimnya hanya satu KK saja.

Pertama kali datang di Nias kala itu, ada jadwal khutbah di daerah komunitas Muslim. Selesai khutbah, Ustadz Sriyono langsung ditarik oleh anak muda keluarga Kepala Desa setempat.

“Mana si Fulan!” tanyanya dengan nada marah dan mengertak.
“Saya tidak kenal dan tidak tahu” jawab Ustadz Sriyono kebingungan.
“Jangan bohong kamu” kata anak muda itu dengan nada masih marah.
“Sebenarnya, ada masalah apa dengan dia. Saya petugas yang baru datang dari Medan dan tidak tahu masalah,” tanyanya dengan agak tenang.

Akhirnya anak muda itu menerangkan panjang lebar. Ustadz Sriyono hanya mengatakan, “berarti kita sama-sama korban dan dirugikan. Mari kita ikhtiar dan doa sama-sama”

Peristiwa yang lebih menegangkan lagi, ketika mau berangkat khutbah Jumat. Ada orang mengetuk pintunya dengan keras dan kasar.

Saat membuka pintu, ternyata, ada tetangga non Muslim telah menghunuskan pedangnya. Dengan wajah merah dan berkata, “siapa yang melepas pipa air saya”.

Subhanallah, Ustadz Sriyono saat itu tidak ada takut sama sekali. Ia tenang menghadapinya. Salah bicara atau salah sikap sedikit, pedang yang ada di depan matanya itu bisa saja melayang menebas leher.

“Mungkin, bapak yang punya tanah itu. Mungkin lupa beliau mengembalikan pipanya. Kalau tak percaya silahkan bicara dengannya, saya teleponkan.”

Ustadz Sriyono dengan tenang menelepon orang yang dimaksud. Setelah tersambung, langsung diserahkan untuk langsung bicara.

Ternyata tetangga non Muslim tersebut dimarahi karena dianggap bersalah. Sehingga pedang itu turun dan marahnya pun mereda. Selanjutnya orang itu diajak menjadi tukang di Pesantren Hidayatullah Nias.

Ada masalah yang tak kalah menegangkan. Suatu ketika santri kelas 3 MTs tidak bisa ikut ujian negara. Sementara tinggal 2 hari dikasih waktu oleh Diknas untuk melengkapi persyaratannya. Uang kas juga tinggal Rp 100 ribu.

Akhirnya, dengan kemampuan yang ada, pagi, siang, sore malam lembur. Berbagai cara ditempuh. Alhamdulillah 8 santri bisa ikut ujian.

Merintis Pendidikan

Ustadz Sriyono datang ke Nias bersama istrinya. Saat itu, belum ada rekan yang bisa membantu. Sementara, ada pendidikan SMP dengan 24 santrinya yang harus tetap berjalan.

Tak ayal, ia pun harus sendirian mengajar tiga kelas. Caranya, kelas 1 dan 2 digabung diberi pelajaran dan tugas. Setelah itu ia pindah ke ruang kelas tiga. Setelah itu, ia kembali ke ruang kelas 1 dan 2. “Terus begitu hingga enam bulan,” katanya kepada penulis.

Ustadz Sriyono menilai kegiatan pendidikan generasi Muslim tak boleh terhenti apapun keadaannya. Ia pun memutar otak mencari cara bagaimana ada guru yang bisa membantu. Ia menggencarkan silaturahim, mendatangi guru lama untuk mengajar kembali. Diyakinkan satu persatu. Akhirnya ada beberapa guru yang mau membantu mengajar.

Masalah belum selesai. Ada beberapa santri minta izin pindah karena tidak puas dengan pendidikan di Hidayatullah Nias. Ini pukulan berat, sudah bersungguh-sungguh tapi ternyata masih ada yang belum puas.

Akhirnya Ustadz Sriyono berkata kepada beberapa santri yang minta pindah itu.

“Begini adik-adik, ustadz tidak melarang atau menghalangi kalian pindah. Tapi kasih waktu ustadz satu tahun ini. Jika tidak ada peningkatan murid, guru, dan kualitas, maka silakan adik-adik pindah dan mungkin pendidikan akan kita tutup.”

Akhirnya kerja keras Ustadz Sriyono mencari santri dan meningkatkan pendidikan di Hidayatullah Nias menuai hasil yang cukup menggembirakan. Tahun pertama santri 38, tahun kedua 87, dan terus meningkat pada tahun ketiga 100 lebih santrinya.

Bagi Ustadz Sriyono, bertugas di daerah minoritas itu menarik dan menantang. Salah satu sisi menariknya adalah umat Islam bersatu, kompak, dan tidak ada sekat.

“Jika ada masalah saudara Muslim, maka bahu membahu untuk membantu dan menyelamatkannya. Pesantren Hidayatullah senantiasa diminta untuk terdepan menjadi pelopor,” ujarnya.

Seperti sebuah kata mutiara “di balik laki-laki sukses, ada wanita hebat di belakangnya”. Inilah pula yang dirasakan oleh Ustadz Sriyono yang selalu didampingi istri tercinta dalam setiap tugas dakwah yang dilakoninya.

Istrinya paham dan selalu taat ikut kemanapun tugas. Jika suami berangkat maka ikut berangkat apapun resikonya. Salah satu prinsip kalau pindah tidak perlu repot, cukup membawa baju dan buku. Peralatan yang lain tidak pernah beliau bawa.

Sejak tugas dari Dumai ke Medan, lalu Medan ke Nias, kemudian ke Medan lagi. Terakhir, dari Medan ke Palembang, mereka juga hanya bawa baju dan buku bukunya.

“Metodenya silaturahim ke komunitas Muslim dan mengkomunikasikan dengan baik pendidikan dan dakwah Hidayatullah Nias. Perbaiki ibadah dan doa,” kata Ustadz Sriyono mengungkap salah satu kiatnya dalam setiap tugas yang dijalani.

Ia mengatakan, semakin berat tantangan dakwahm maka semakin nikmat dijalani baik itu tantangan lokasi, masyarakat, maupun dinamika yang ada. “Sesulit apapun, semua nikmat insya Allah,” pungkasnya.* (Abdul Ghofar Hadi/hidayatullah.or.id)

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:daiDai HidayatullahdakwahHidayatullah MedanHidayatullah NiasNias
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kecelakaan derek Masjidil Haram Mengenang Kecelakaan Derek Masjidil Haram
Tulisan selanjutnya Bahan baku vaksin sinovac MUI Fatwa Haram, Depok Setop Vaksin Covovax Buatan India

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mereka Memilih Berani

Kemewahan di Kampung Mualaf Selat Kongki setelah Kehadiran Laznas Ini

13 Juli 2022 08:33
Mereka Memilih Berani

Ketika Ustadz Hasyim HS Kaget Ditugaskan KH Abdullah Said

21 Mei 2022 15:00
Mereka Memilih Berani

Dakwah Tak Kenal Lelah “Dai Non-Subsidi”

3 Mei 2022 16:49
Mereka Memilih Berani

Kisah Pemimpin Umum Hidayatullah: Ditugaskan Berdakwah ke Irian Jaya

7 Januari 2022 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?