Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Agar Ibadah Kita Berbuah Berkah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 September 2013 11:04 11:04 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 September 2013 11:04
Bagikan
Bagikan

TENTU kita berharap setiap ibadah yang kita kerjakan berbuah pahala seperti yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala. Agar ibadah kita kita tidak sia-sia, ada sejumlah tips yang dapat kita upayakan.

Khawatir Terhadap Tertolaknya Amal Ibadah

Dalam beribadah apapun, kita dituntut untuk senantiasa memiliki rasa khauf (takut dan khawatir) bilamana amal ibadah kita tertolak. Kondisi seperti inilah yang akan memberikan motivasi bagi kita untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas ibadah agar diterima oleh Allah Ta’ala. Rasa khauf akan memaksa kita untuk senantiasa berhati-hati dalam menjaga kebenaran dan keikhlasan setiap amal ibadah yang tengah kita lakukan.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al-Mu’minuun [23] : 60).

Berkaitan dengan ayat ini, Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, “Apakah yang dimaksud adalah orang yang berzina, minum khamr, mencuri, kemudian muncul dalam hatinya rasa takut kepada Allah?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq. Yang dimaksud adalah orang yang shalat, berpuasa, dan bersedekah, kemudian dalam hatinya muncul rasa takut kepada Allah.” (Riwayat Ibnu Majah).

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Berharap-harap dan Memperbanyak Doa

Rasa takut yang tidak diiringin rasa harap, maka akan melahirkan keputusasaan. Artinya, saat kita menjalankan ibadah dan amal shalat, selain harus memunculkan dalam diri rasa kekhawatiran manakala amal ibadah tersebut tidak diterima oleh Allah, maka harus pula dihadirkan rasa harap semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala. Sebab, hal inilah yang mampu menghasilkan sikap tawadhu dan kekhusyukan saat beribadah kepada Allah Ta’ala.

Profil Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il barangkali bisa kita jadikan suri tauladan dalam masalah ini. Setelah selesai membangun Ka’bah, keduanya menyempatkan diri untuk memohon dan berharap kepada Allah untuk menerima amal mereka berdua. Allah  menyampaikan, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah [2] : 127).

Menganggap Kecil Amal Ibadah dan Tidak Terpedaya Olehnya

Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (Al-Mudatstsir [74] : 1-6). Salah satu penyakit yang seringkali menghinggapi kita selepas mengerjakan amal ibadah adalah anggapan bahwa seakan-akan kita telah sukses mengerjakan amal ibadah yang besar dengan harapan ingin mendapatkan imbalan yang lebih besar lagi.

Berkaitan dengan ayat di atas, Imam Mawardi menyampaikan, “Ada lima makna yang terkandung dalam ayat ini; Pertama, janganlah engkau memberi lalu berharap mendapatkan ganti yang lebih banyak darinya. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, dan Qatadah. Kedua, maknanya janganlah berharap-harap mendapatkan pahala yang banyak dari Allah atas amal ibadahmu. Pendapat ini disampaikan oleh Hasan Al-Bashri. Ketiga, jangan berharap balasan dari manusia atas kenabian yang diberikan kepada Muhammad. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Zaid. Keempat, jangan melipatgandakan amalan hanya lantaran ingin mendapatkan balasan yang lebih banyak. Pendapat ini diungkapkan oleh Mujahid. Kelima,  jangan melakukan amal ibadah agar dilihat manusia.”

Memperbanyak Taubat dan Istighfar

Betapa pun kita telah berusaha menyempurnakan amal ibadah, tentu masih ada kekurangan dan cacatnya. Oleh karenanya, Allah memeintahkan kita untuk memperbanyak istighfar selepas kita mengerjakan amal ibadah. Sebagaimana yang telah Allah sampaikan dalam firman-Nya, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.” (An-Nashr [110] : 1-3).

Sebagai seorang Nabi dan utusan Allah, Rasulullah SAW telah dijamin terjaga dari segala bentuk dosa, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Meski demikian, beliau tetap istiqamah dalam bertaubat kepada Allah SWT atas segala bentuk dosa. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, dalam sehari beliau beristighfar dan bertaubat kepada Allah sebanyak seratus kali. Sungguh, angka yang tidak sedikit. Dari Abu Hurairah RA, ia bertutur, “Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, sunggug aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari leih dari seratus kali.” (Riwayat Bukhari).

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa bilangan seratus dalam Hadits di atas menunjukkan sesuatu yang banyak, tidak mesti harus seratus kali. Namun, bila menilik dalam sejumlah riwayat, ternyata Nabi SAW benar-benar merealisasikan seratus kali istighfar dalam sehari. Mari kita cermati dua riwayat berikut yang menggabarkan bagaimana Rasulullah SAW beristighfar dan bertaubat kepada Allah SWT.

Pertama, Nasai meriwayatkan dengan sanad jayyid dari jalur Mujahid dari Ibnu Umar, bahwasanya ia mendengar Nabi SAW mengucapkan : Astaghfirullahalladzi laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih, dalam satu majelis sebanyak seratus kali sebelum beliau bangkit.

Kedua, dari riwayat Muhammad bin Sauqah dari Nafi’ dari Ibnu Umar dengan redaksi, “Dalam satu majelis, kami menghitung bacaan Rasulullah : Rabbighfir li wa tub ‘alaiya innaka antat tauwabul ghafur, sebanyak seratus kali.”

Hikmah yang dapat kita petik dari teladan Rasulullah SAW tersebut adalah bahwa manusia sangat rentan untuk melakukan dosa dan maksiat, baik yang berhubungan dengan hak Allah SWT maupun berkaitan dengan hak sesama; baik dosa kecil maupun dosa besar; baik dosa yang terang-terangan maupun tersembunyi. Seandainya kita hitung dosa dan kesalahan kita sehari semalam, barangkali akan melebihi angka seratus di atas.

Seratus kali bertaubat dalam sehari merupakan batas minimal kita manakala kita menyadari bahwa kita adalah manusia yang penuh dengan dosa dan kekhilafan. Inilah karakter pribadi yang menyadari kekurangannya dan berusaha mempebaiki diri agar lembaran hidupnya menjadi lebih baik dan enak ‘dibaca’. Yang pada akhirnya, kelak akan mendapat ridha dan ampunan dari Allah SWT. Wallahu a’lam bish shawab. (Abu Hudzaifah, Lc, penulis buku-buku Islam)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berkahdoaistighfartaubat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dari Melawan Mafia Narkotika, Dukun hingga Kristenisasi
Tulisan selanjutnya Indonesia tak Butuh Pemimpin Gagah, tapi Pemimpin yang Mensejahterakan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?