Sambungan artikel PERTAMA
Qiyamul Lail
Bantuan dari orang berdatangan. Seperti air hujan yang turun dari langit. Seolah tidak ada hentinya. Ada saja orang yang datang ke pelosok itu dan memberi bantuan. Ada yang dikenal dan tidak. Padahal, kalau dipikir secara logika, mustahil. Begitu juga kata orang ketika itu, “Mau buat pesantren, ko, enggak bermodal.” Kata Amin bantuan itu tidak datang begitu saja. Itu digerakkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Bagaimana caranya? Shalat tahajud.
Oleh karena itu, Ustadz Amin dan para santrinya tidak pernah berhenti shalat tahajud setiap malam atau pukul 2.30 sampai selesai. Kadang sampai dua jam hingga menjelang shubuh. Untuk membangunkan santri, dibuat jadwal piket malam atau biasa disebut ribath. Ada dua tugasnya: menjaga pesantren dan membangunkan santri untuk shalat tahajud. Ini harus dilakukan. Sebab, pesantren tidak jaminan aman dari pencuri.
Buktinya, sapi pesantren pernah beberapa kali dicuri. Padahal, bentuknya besar dan bisa berbunyi. Sekali diambil dan dibawa ke hutan, hilang tanpa jejak. Tak bisa diambil. Begitu juga sepeda motor. Tetap saja digondol maling meski di dalam rumah. Bahkan, malingnya sempat makan di dapur. Konon, itu ilmunya: maling sambil makan bahkan buang air besar. Ada-ada saja.
Kendati sudah dipiketi, tetap saja kecolongan. Apalagi jika tidak ada piket. Entah apa jadinya. Mungkin sapi di dalam kandang bisa ludes. Selain untuk keamanan, yang lebih penting petugas ribath adalah membangunkan santri. Mereka mendatangi asrama yang berupa gubuk kayu dan papan yang terpencar di atas lahan seluas sekitar 20 hektar.
“Qummm. Qummm. Qummm. Qiyamul lail….!”
Itu suara yang tak asing lagi jika waktu pada pukul 2.00 dini hari. Petugas ribath akan mengetuk pintu dan membongkar kelambu dan menarik selimut. Petugas pun akan berkeliling dua kali. Jika yang ketiga kalinya masih tidur bakal disiram air. Tidak cukup di situ. Petugas takmir masjid akan mengumumkan dari pengeras suara. Bila demikian, tidak ada lagi santri yang berani bersembunyi di balik selimut. Jika ada berani melanggar. Siap-siap tunggu besok pagi menerima hukuman.
Pesantren mulai berkembang. Bangunan bertambah, khususnya rumah sederhana untuk para ustadz. Begitu pula asrama santri. Meski masih sangat sederhana: berupa gubuk bertingkat berdinding papan dan beratap daun ijuk. Ada sekitar enam gubuk yang ada. Gubuk itu berpencar di sudut-sudut pesantren. Jaraknya jauh, beberapa puluh meter. Sengaja dibuat seperti itu agar kompleks pesantren yang luas 20 hektar itu cepat terang.
Pindah ke Kudus, Jawa Tengah
Santri mulai banyak. Baik yang dari daerah sekitar, seperti Sako, Lingkis, Parit, Sungai Duo, Beringin, hingga dari kantong-kantong daerah transmigrasi. Kiprah dan keberadaan pesantren mulai dirasakan. Pesantren menampung santri yang tidak mampu. Ada juga yang yatim piatu. Semuanya ditanggung: asrama, pendidikan, dan makan. Gratis. Dananya dari mana? Allah!
Tidak hanya santri putra, pesantren juga menampung santri putri. Pendidikan yang baru ada Madrasah Tsanawiyah (MTs) setaraf SMP. Bagi yang mau melanjutkan ke jenjang selanjutnya, santri dikirim ke cabang lain yang sudah memiliki SMA dan ada juga yang dikirim ke Jawa, seperti Abdul Rosyid, Hizbullah dan Dadan Abdullah Fatah yang kelak jadi menantunya dan meneruskan estafeta perjuangan pesantren di Palembang.
Sayang, ketika pesantren sedang menggeliat dan kiprah Amin dirasakan masyarakat, dia harus pindah tugas lagi. Kali ini ke Kudus, Jawa Tengah. Semua yang dilakukan di Palembang ditinggalkan dan jadi warisan amal shaleh. Di tempat baru yang dikenal pusatnya para wali itu, Amin lebih banyak berdakwah. Itu juga tidak lama.
Setelah itu, pindah lagi dan merintis pesantren baru di Cepu, Jawa Tengah. Dia kembali berjibaku dalam dakwah. Tidak pernah berhenti. Meski usianya kian lanjut. Hidupnya telah diwakafkan untuk dakwah. Apapun yang terjadi tidak boleh mundur. Harus tetap di medan dakwah. Sama seperti merintis pesantren, di tempat itu dia harus bekerja keras. Dakwah dan berdakwah lagi. Bergeser tak mengenal henti.
“Begitulah dakwah. Tidak mengenal lelah dan waktu. Hidup harus dihabiskan di jalan dakwah,” begitu lelaki yang biasa disapa Ustadz Amin sering berpesan.
Ujian di Kala Senja
Ujian itu datang saat sedang berdakwah. Istrinya, Siti Marfu’ah sakit. Awalnya menderita stroke ringan. Bentuk mulutnya tidak normal, agak miring sebelah. Setelah diterapi bisa kembali normal. Tetapi, tak lama kemudian strokenya kambuh dan lebih parah. Untuk itu, Amin memutuskan untuk kembali ke Hidayatullah, Gunung Tembak.
Di tempat ini dia ingin fokus merawat istri dan ibadah. Beragam usaha dan cara dilakukan. Berbagai jenis pengobatan ditempuh. Namun, stroke yang dialami istrinya semakin parah. Sebagian badanya tidak bisa digerakkan. Badanya hampir lumpuh. Tidak bisa bergerak dan hanya berbaring di kamar yang tidak begitu luas itu.
Bahkan pernah istrinya maka dengan menggunakan selang. Setelah diobati bisa kembali makan normal meski hanya dengan bubur. Karena semakin parah, istrinya tidak bisa berbicara. Hanya bisa menggerung dan menggerakkan tangannya. Jadi, untuk berbicara hanya menggunakan dua cara itu: menggerung dan menggerakkan tangan.
Untung saja, pancaindera yang lain masih berfungsi normal, seperti pendengaran, dan penglihatan. Jika bertemu orang, sorot matanya tajam dan berkaca-kaca. Ingatannya langsung berkelebat. Tak lama kemudian, bulir bening luruh dari kelopak matanya. Itulah cara dia mengungkapkan kesedihan dan keharuan.
Setiap hari, Amin merawat istrinya sambil menjadi imam tetap di Masjid Ar-Riyadh, Pesantren Hidayatullah. Jadwal dakwah di luar dihentikan. Ujian itu telah diterimanya dengan ikhlas. “Saya sudah ridha menerima ujian ini,” ujarnya.
Bagi ayah dari tujuh putra-putri ini, ujian itu tidak boleh memupuskan cinta dan ketulusannya kepada istrinya yang telah berpuluh tahun menemaninya dalam mengarungi bahtera perjuangan dakwah dan melahirkan generasi. Apapun yang terjadi, katanya, dia harus tetap berada di sisinya.
“Saya harus lulus ujian ini,” harapnya.*/Ansor