Hidayatullah.com—Raut wajah gembira tak bisa disembunyikan dari warga pedalaman. Usai mendengar khatib shalat Idul Adha, mereka sudah menunggu-nunggu pemotongan hewan kurban yang telah lama mereka nantikan.
“Tahun ini dapat satu ekor sapi dan empat ekor kambing. Semua warga mendapat kebagian daging hewan kurban. Termasuk orang non-muslim pun ikut kebagian, “ demikian disampaikan seorang tokoh masyarakat, Bapak Djaelani (60).
Alhamdulillah tahun ini (2020) Ustad Nurhadi kembali melaksanakan pemotongan Kurban di daerah-daerah pelosok pedalaman Halmahera. Pemotongan dilakukan di daerah mualaf suku pedalaman dan daerah minoritas muslim yang sulit dijangkau oleh kendaraan laut maupun darat.
Warga umumnya tinggal di Daerah Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur. Mereka selama ini adalah masyarakat binaan Nurhadi.
Pelaksanaan pemotongan hewan kurban ini merupakan tahun ketiga. Sebanyak 12 sapi dibagikan kepada penduduk, sebagian merupakan bantuan donator dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH), sebagian lainya adalah bantuan perorangan.
“Alhamdulillah, semuanya desa menerima, “ kata Nurhani yang tahun ini membagi sapi di 12 lokasi.
Menurut alumni Sekolah Tinggi Lukmanul Hakim – Surabaya (STAIL) ini, semua penerima manfaat kurban tahun ini untuk para muallaf, warga terpencil dan pedalaman. Bahkan sebagian penerima juga warga non-Muslim.
“Semua kurban diperuntukkan masyarakat lokal, termasuk Suku Togutil dan masyarakat pedalaman yang tidak terjangkau alat transportasi apapun,” katanya. “Penerima manfaat ini termasuk minoritas Kristen,” tambahnya.
Tidak seperti umumnya kurban di kota-kota besar, kurban di daerah pedalaman membutuhkan lebih banyak energi dan tenaga. Menurut Nurhadi, sapi-sapi yang dibagikan ini membutuhkan transportasi yang berbeda. Sebagian harus dibawa dengan perahu menyusuri sungai, sebagian diangkut dengan kapal, sebagian lain membeli di dekat lokasi kurban.
“Mereka senang menerima pemberian daging, “ kata Jaelani, tokoh setempat. “Semua warga di sini sangat senang dan puas adanya hewan kurban dari para donatur dan muhsinin semuanya, “ tambahnya.
Menurut Nurhadi, warga terpencil ini jarang makan daging. Setiap hari, mereka makan hanya mengandalkan sayuran. “Kadang cuma makan dengan nasi atau pisang/ubi-ubian yang direbus,” tambahnya.
Terimakasih kepada donatur dan muhsinin yang selalu membantu kegiatan kami di pedalaman, terutama kegiatan kurban untuk di daerah pedalaman Halmahera,” kata Nurhadi. “Semoga Allah memberikan balasan sebaik-baiknya balasan di dunia dan akhirat,” katanya.

Dua Warga Masuk Islam
Kegembiraan tidak hanya dirasakan warga. Nurhadi sendiri mengaku gembira ketika tiba-tiba didatangi warga suku yang ingin menyatakan memeluk Islam.
Peristiwa itu terjadi saat ia usai melakukan pemotongan hewan kurba. Beberapa orang mendatanginya, dan mengatakan ada warga yang ingin memeluk Islam.
“Biidznillah, setelah pemotongan hewan kurban ternyata ada dua orang yang ingin masuk Islam. Masuk Islam karena keinginannya sendiri dan tanpa paksaan,” katanya.
Sebelumnya, Nurhadi sempat bertanya tentang niat mereka memeluk Islam. “Katanya, mereka sudah lama ingin masuk Islam dan kadang-kadang ikut membaca buku tentang agama Islam. Jadi di hari Raya Idul Adha ini ingin masuk Islam,” kata salah satu warga yang ingin masuk Islam.
Prosesi pengucapan dua kalimat syahadat berjalan lancar. Warga muslim memekikkan takbir menyambut saudara baru mereka.
“Bahkan ada suasana haru dan tangis senang dengan bertambahnya saudara Muslim di pedalaman Halmahera,”kata Nurhadi.
Meski bukan pertama, peristiwa ini dianggap Nurhadi sebagai keberkahan atas doa-doanya dalam berdakwah. Sebelumnya, pada tahun 2017, ia telah dimudahkan Allah membimbing dan mengajak sebanyak 21 warga suku yang dulunya hidup di rimba, memeluk Islam.

Secara berkala, Nurhadi juga membinanya, mengajari shalat, mengenal Islam. Baru-baru ini, ia bekerjasama TNI membuat program Sekolah Rimba, mengenalkan kecintaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR). Maklum, lokasi warga binaanya berdekatan dengan Malaysia dan Filipina.*