Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kesehatan

Bicarakan Kematian Bisa Buat Hidup Lebih Bahagia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Juli 2015 08:35 8:35 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Juli 2015 09:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Seorang pakar sosial memperingatkan, membicarakan kematian adalah kunci untuk mendobrak tabu budaya yang berdampak pada kualitas hidup kita.

Profesor Sosiologi di Universitas New South Wales, Alex Broom, mengatakan, membahas kematian – bahkan dalam suasana yang santai – sungguh penting bagi individu, orang-orang terkasih, dan masyarakat secara umum.

Hal ini menjadi topik bahasan ketika Asosiasi Medis Australia (AMA) menggunakan acara Pekan Dokter Keluarga untuk memotivasi tiap orang – tua muda, sakit atau sehat – agar membicarakan kematian dan kondisi sekarat serta membuat rencana hari tua.

Profesor Alex mengatakan, kegagalan untuk membicarakan kematian sebelum ajal menjemput memiliki konsekuensi tak disadari, yang menghambat orang-orang untuk hidup bahagia dan sehat.

“Ini bukan hanya tentang sekarat, tapi ini soal hidup. Kita akan menghadapi kematian berulang kali sepanjang hidup kita. Kita butuh menyiapkannya sehingga ini tak menjadi tantangan berkepanjangan,” ujarnya dikutip laman Radio Australia.

Baca Juga

Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
Jangan Anggap Sepele Hernia
Riset: Remaja Pengguna Vape Lebih Berisiko Jadi Perokok
Vape Ancaman Baru Remaja, Perlu Ada UU yang Tegas
Makanan Cepat Saji Tingkatkan Risiko Kanker Paru-Paru

Profesor Alex mengutarakan, kampanye seperti gerakan ‘Kafe Kematian’ atau Death Cafe mendorong adanya perbincangan tentang kematian di antara orang-orang yang sehat.

“Di Death Cafe, orang-orang, seringkali orang asing, berkumpul untuk makan kue, minum teh dan mendiskusikan kematian,” tulis situs kafe itu.

Tujuannya adalah untuk ‘meningkatkan kesadaran akan kematian dengan harapan bisa membantu orang menjalani hidupnya dengan maksimal’.

Profesor Alex menyebut, kita seharusnya tak mengisolasi kematian dari kehidupan.

“Kita tak seharusnya memisahkan keduanya karena mereka bekerja bersamaan,” tuturnya.

Dampak terdekat dari sikap tak acuh terhadap kematian meliputi ketidakmampuan untuk memilih apakah akan meninggal di rumah atau membuat orang-orang terkasih semakin merasa kehilangan karena kematian anda datang tiba-tiba, ujar sang Profesor.

“Dalam tahap praktis, jika kita tak terbuka tentang apa yang terjadi dan tak peduli akan apa yang terjadi, kita tak akan bisa mengontrol segala situasi yang terjadi,” utaranya.

“Kita semua punya kebutuhan berbeda pada akhir hidup – bukan satu model untuk semua. Kita mungkin tak tahu apa kebutuhan itu jika mereka tak pernah dibicarakan,” kemuka Profesor Alex.

Ia mengatakan, ketakutan seseorang membuat kematian sulit dipikirkan, apalagi untuk membahasnya.

“Di hadapkan dengan akhir hidup dan kematian kita sendiri, ketakutan menghantui yang artinya kita melihat kemunculan tabu. Masyarakat tradisional, pada beberapa generasi yang lalu, memiliki berbagai cara untuk tak memikirkan kematian sebagai akhir,” ungkapnya.

“Tapi, banyak kelompok masih saja punya keyakinan kuat pada hidup setelah mati dan karenanya itu bukan akhir,” sambungnya.

Ia lantas menambahkan, namun bagi sebagian besar orang, kurangnya sumber budaya untuk melogikakan mengapa kematian bukanlah pengalaman yang negatif, membuat hal ini sulit untuk dibincangkan.

Pentingnya rencana akhir hidup

Presiden AMA, Profesor Brian Owler, mengatakan, penting untuk mendobrak tabu di sekitar kematian dan kondisi sekarat, dan membuat masyarakat membahas harapan mereka dengan keluarga.

“Membicarakan kematian dan sekarat bisa menimbulkan konflik, tapi kami mendorong setiap orang untuk membicarakannya dengan keluarga, tentang harapan di akhir hidup mereka. Dokter keluarga di sekitar anda adalah referensi yang bagus dan bisa menolong untuk membahas kematian dan sekarat dengan cara yang layak,” jelasnya.

Ia menyambung, “Dokter memberi harapan pada pasien dengan membiarkan mereka hidup dengan kebanggan dan membantu mereka untuk terhubung dengan keluarga.”

AMA juga mengatakan, rencana perawatan lanjutan seharusnya memperjelas pilihan tentang kematian dan perawatan pribadi, termasuk hasil kesehatan, tujuan, dan nilai perawatan yang diinginkan, yang seharusnya membimbing keputusan tentang perawatan seseorang.

Rencana itu juga seharusnya memperjelas siapa yang harus membuat keputusan untuk mereka ketika orang yang bersangkutan kehilangan kemampuan untuk memutuskan sesuatu di masa depan.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bahagiahidupindividuKematianorang terkasih
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tolikara dan Sejauh Mana Bertoleransi
Tulisan selanjutnya DPR Tunggu Aksi Penegakan Hukum di Tolikara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

Berita
31 Agustus 2026 20:11
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Kesehatan

Tekanan Akademis dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

19 Januari 2025 17:25
Kesehatan

Studi: Manfaat Utama Kopi Bagi Kesehatan Tergantung Waktu Meminumnya

15 Januari 2025 07:30
Kesehatan

Hindari Tertular HMPV, Pakar UGM Anjurkan Masyarakat Ikuti Pola Hidup Sehat

10 Januari 2025 13:20
Kesehatan

Terbukti, Konsumsi Alkohol Penyebab hampir 1 Juta Kasus Kanker di Amerika Serikat

7 Januari 2025 11:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?