Tepatnya 12 Februari 2010, dua ilmuwan meluncurkan sebuah buku berjudul “What Darwin Got Wrong” (Apa Kekeliruan Darwin)
Hidayatullah.com — Kali ini bukan dari cendekiawan pendukung penciptaan, bukan pula ilmuwan terkemuka pembela perancangan cerdas. Mereka ini tetap teguh meyakini evolusi, dan ilmuan materialis.
Namun mereka tidak mau tunduk pada tokoh yang nyaris dituhankan, Charles Darwin, dan menghadiahkan bantahan ilmiah berupa buku yang mendobrak darwinisme di bulan Februari 2010 ini. Mereka adalah para ilmuwan Amerika Serikat (AS), yakni profesor filsafat Jerry Alan Fodor asal Rutgers University dan profesor ilmu kognitif Massimo Piattelli-Palmarini dari the University of Arizona.
Di bulan perayaan ulang tahun sang bapak teori evolusi, Charles Darwin, tepatnya 12 Februari, kedua ilmuwan itu meluncurkan sebuah buku berjudul “What Darwin Got Wrong” (Apa Kekeliruan Darwin). Sang penulis yakin bahwa pola penyesuaian diri atau model adaptasi ala Darwin sama sekali cacat.
Dengan kata lain teori yang mengajarkan adanya mutasi genetis acak pada makhluk hidup, yang kemudian tersaring melalui seleksi alamiah, dan menghasilkan sifat-sifat yang menguntungkan dalam hal kemampuan bertahan hidup dalam lingkungan tertentu adalah salah kaprah.
Meski bukan dalam rangka menolak teori evolusi sama sekali, bahkan membenarkannya, karya kedua penulis itu setidaknya termasuk yang jujur mengenai kekeliruan-kekeliruan teori evolusinya Charles Darwin. Hal ini ditegaskan Stuart Newman, profesor sel biologi dan anatomi di New York Medical College, ketika mengulas buku itu:
“Evolusi memerlukan sebuah teori yang meyakinkan jika perjuangannya agar diterima masyarakat hendak dimenangkan. Karya berani Jerry Fodor dan Massimo Piattelli-Palmarini, What Darwin Got Wrong, secara meyakinkan memperlihatkan bahwa seleksi alam bukanlah teori itu. Dengan menggunakan literatur ilmiah yang merambah cakupan molekuler, perilaku dan kognitif, dengan penjelajahan yang piawai memasuki biologi perkembangan-evolusi dan fisika sistem rumit, penulis melakukan pembongkaran filosofis terhadap model baku perubahan evolusi yang cenderung tak dapat dikembalikan lagi. Landasan berpijak mereka yang jelas dalam hal kebenaran fakta evolusi menjadikan karya ini berjasa bagi ilmu pengetahuan dan sebuah kemunduran bagi para penentangnya.”
Itulah sebuah ulasan apa adanya dari kacamata ilmuwan yang terkungkung teori evolusi. Namun jika ditilik dari sisi lain, dari sudut pandang di luar tempurung dogma evolusi, sungguhlah menarik untuk tidak menelan mentah-mentah begitu saja pernyataan Stuart Newman di atas. Sebab bagaimana mungkin “evolusi dinyatakan sebagai fakta kebenaran” tapi di saat yang sama diakui bahwa “evolusi masih belum memiliki teori meyakinkan” untuk menjelaskan proses perubahan pada makhluk hidup, hingga saat ini? Bagaimana mungkin mengamini bahwa “seleksi alam bukanlah teori” yang mendorong terjadinya evolusi, tapi pada saat yang sama menyatakan “itu adalah sebuah kemunduran bagi penentang evolusi”?
Namun hal di atas tidaklah aneh bagi mereka yang mencermati sejarah teori evolusi, yang menelaah bagaimana beragam kekeliruan, pemalsuan, kebohongan dan kecurangan yang dilakukan atas nama teori evolusi, kemudian dibuktikan keliru oleh kalangan evolusionis itu sendiri. Akan tampak bahwa seringkali ilmuwan evolusionis mengakui bahwa teori ini dan itu memang keliru, fosil ini dan itu palsu, serta penjelasan ini dan itu salah. Tapi untuk mengakui bahwa teori evolusi salah sama sekali, sungguh sulit, mengingat teori ini sudah menjadi dogma asas tunggal yang melekat kuat pada diri mereka dan harus dibenarkan terlebih dahulu. Bukti dicari belakangan.
Kalau bukti-bukti itu diketahui salah kaprah di kemudian hari, maka silat lidah alias permainan kata-kata menjadi jurus pamungkasnya demi menjaga tegaknya evolusi: “mata rantainya masih hilang dan belum ketemu”, atau seperti ulasan mengenai buku di atas “Evolusi memerlukan sebuah teori yang meyakinkan jika perjuangannya agar diterima masyarakat hendak dimenangkan…”
Apa artinya? Jelas bahwa evolusi bahkan bukan lagi sebuah teori, tapi dogma yang kehilangan teori untuk menjelaskannya. Teori seleksi alam ala Darwin sudah diambrukkan oleh evolusionis sendiri. Menariknya lagi, dogma evolusi ini (tanpa embel-embel “teori” lagi) tetap dipertahankan sembari mencari-cari teori penjelasannya dengan tujuan “agar diterima masyarakat”. Ilmiahkah? Teori ilmiah adalah teori yang muncul dan dibenarkan karena mengikuti bukti yang ada. Dengan kata lain arah kebenaran itu ditentukan dan diarahkan oleh ada tidaknya bukti. Buktilah yang mengarahkan kebenaran dan bukannya malah “agar menang dan diterima oleh masyarakat”.
Apa artinya? Artinya teori evolusi adalah teori yang tegak dan kokoh selama masyarakat luas mempercayainya, meskipun tanpa bukti atau bukti palsu dan penuh rekayasa. Kekhawatiran evolusionis akan semakin hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap evolusi menjadi pertanda jelas, betapa evolusi adalah dogma kosong tanpa bukti.
Mengembalikan keimanan masyarakat pada evolusi menjadi kebutuhan pokok evolusionis di satu sisi, namun ketiadaan bukti ilmiah dan ketidakberadaan teori masuk akal menjadi kendala mengenaskan di sisi lain. Untuk memecahkan permasalahan besar ini, tidak mengherankan jika sepanjang sejarah evolusionis mencari jalan keluar dengan cara-cara tercela dan tidak ilmiah. Namun beruntung masih ada pengakuan-pengakuan evolusionis jujur seperti karya Jerry Alan Fodor dan Massimo Piattelli-Palmarini di atas. Kejujuran ini digarisbawahi oleh Gabriel Dover, Profesor Genetika Evolusi, University of Leicester and Cambridge, Inggris, saat mengulas buku itu:
“….Buku ini akan menetapkan agenda di tahun-tahun mendatang. [Buku] ini tidak dapat dikesampingkan jika pengkajian mengenai evolusi hendak jujur dengan dirinya sendiri.”
Demikianlah, ternyata masih ada sisi kejujuran evolusionis, dan ini patut dipuji. Meski mereka tetap berpendirian kuat bahwa evolusi 100% benar walau teori kuat yang menjelaskannya masih belum ditemukan, dan fosil mata rantai tak kunjung datang, mereka patut diacungi jempol dalam hal kejujurannya di sisi lain. Karena berkat kejujuran evolusionis ini pulalah mereka telah mengungkap berlimpah kebohongan dan kecurangan yang dilakukan rekan mereka sesama evolusionis. Di antara yang terkenal adalah kebohongan berusia lebih dari seratus tahun, yakni gambar-gambar embrio Haeckel, yang mungkin hingga kini masih terpampang di buku-buku pelajaran biologi, termasuk di Indonesia (bersambung). (wwn/amazon/evolutionnews.org/hidayatullah.com)
