Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Wasathiyah Itu Pertengahan, Bukan Ekstrim

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Januari 2023 16:08 4:08 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Januari 2023 16:20
Bagikan
Bagikan

Wasathiyah menjadi salah satu karakter peradaban Islam. Ia memang bukan karakter utama, bukan ekstrim, namun penting untuk kita pahami

Oleh: Mahladi Murni

Hidayatullah.com | PERADABAN Islam, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, bukan sekadar wilayah sebagaimana Kota Madinah ketika Rasulullah ﷺ hijrah. Peradaban Islam lebih kepada nilai-nilai Islam yang dibangun di dalam wilayah tersebut.  Itulah yang didakwahkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya hingga terbangun peradaban Madinah.

Al-Wasathiyah, sebagai salah satu karakter peradaban Islam, memiliki banyak makna. Beberapa makna yang disebut para ulama antara lain: berkeseimbangan (at-tawazun), mengambil jalan tengah (at-tawassuth), adil (al-i’tidal), toleransi (at-tasamuh), setara (al-muﷺah), berkembang (at-tathawwur), maju dan inovatif (at-taqaddum wal ibtikar), bermusyawarah (as-syura), reformis (al-ishlah), berskala prioritas (al-aulawiyah), dan berkeadaban (at-tahaddhur).

Dengan demikian, manusia yang berperadaban Islam, bukanlah manusia yang ekstrim atau berlebih-lebihan. Sebaliknya, manusia yang berperadaban Islam bukan pula mereka yang gemar mengurangi atau mengubah ajaran Islam sebagaimana kaum liberal.

Baca Juga

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan

Manusia yang berperadaban Islam juga selalu seimbang (tawazun) dalam menjalani hidup sebagaimana tertulis dalam al-Qur’an surat Al Hadid [57] ayat 25 dengan sebutan mizan. Keseimbangan dalam hal ini adalah seimbang antara hak dan kewajiban, spiritual dan material, rohani dan jasmani, ilmu dan amal, kemaslahatan pribadi (fardiyah) dan kolektif (jama’iyah), dan lain-lain.

Seorang yang hidupnya seimbang haruslah berani namun tidak sewenang-wenang terhadap orang lain. Ia seorang pemurah namun tidak berfoya-foya atau mubazir. Ia  bersikap tegas tetapi tetap sopan dan beretika, waspada tetapi tidak takut, bertawakkal namun tetap berikhtiar.

Dan, yang terpenting, ia selalu menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat, namun tidak mengabaikan kebutuhannya di dunia.  Kemudian, masyarakat yang berperadaban Islam, senantiasa bersikap lurus dan adil (i’tidal), yakni menghindari segala bentuk penyimpangan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah, serta bersikap adil dan proporsional dalam menghadapi setiap masalah.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Maidah [5]: 8)

Adapaun terhadap perbedaan, khususnya dalam masalah agama yang bersifat furu’iyah atau khilafiyah maupun masalah sosial kemasyarakatan, manusia yang berperadaban Islam akan menyikapinya dengan toleransi (tasamuh). Bahkan, terhadap kaum kafir yang tidak memusuhi kaum Muslim sekalipun, Islam memerintahkan untuk berlaku adil.

Dalam kisah Nabi Musa AS, Allah Ta’ala berfirman:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى Ѻ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى} [طه: 43، 44]

“Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (Taha [20]: 43-44)

Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ  

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al Mumtahanah [60]: 7)

Peradaban Islam akan menempatkan kaum Muslim dalam derajat yang sama dalam kacamata syariah, baik dari hukumnya atau pun kewajibannya. Islam adalah agama yang tidak mengenal perbedaan kasta.

Tak ada perbedaan antara tokoh masyarakat dengan orang biasa. Tidak pula antara laki-laki dan perempuan. Setiap orang akan diganjar sesuai amal perbuatannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ

“Orang-orang sebelum kalian menjadi binasa karena apabila ada orang dari kalangan terhormat (pejabat, penguasa, elit masyarakat) yang mencuri, mereka membiarkannya dan apabila ada orang dari kalangan rendah (masyarakat rendahan, rakyat biasa) yang mencuri mereka menegakkan sanksi hukuman atasnya.’’

Demikian pula terhadap kaum kafir, Islam menempatkannya sama di mata hukum. Kisah tentang baju perang khalifah Ali RA yang dicuri seorang Yahudi dan dikalim sebagai miliknya adalah salah satu bukti bahwa Islam tidak membedakan siapa pun di mata hukum.

Di pengadilan, Ali RA tak bisa menghadirkan saksi yang menguatkan bahwa baju perang itu miliknya. Pengadilan akhirnya memutuskan bahwa baju perang itu milik Sang Yahudi. Ali RA pun menerima keputusan hakim meskipun ia tetap yakin bahwa baju perang itu miliknya yang dicuri.

Demikianlah uraian tentang karakter peradaban Islam. Uraian ini tentu hanya secuil saja. Bila bangunan peradaban Islam ini akan dikupas secara tuntas, maka perlu pembahasan secara khusus lewat buku yang berlembar-lembar.

Namun, bangunan peradaban Islam pada hakikatnya adalah al-Qur’an yang diperjelas dengan hadits Rasulullah ﷺ dan ijma’ ulama. Bangunan peradaban Islam adalah akhlak Rasulullah ﷺ sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, “Akhlak Rasulullah ﷺ adalah al-Qur’an.” Itulah rujukan arsitektur bangunan peradaban Islam. Wallahu a’lam. *

Penulis aktif di MUI Pusat

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ekstrimpertengahanwasathiyah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Serangan Bom di Somalia, 7 Tewas, 37 Luka-luka
Tulisan selanjutnya Banyak Pemuda Bergabung KKB, Ini Jawaban Polisi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Hikmah

Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba

5 Mei 2026 11:04
Jendela Keluarga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?

26 April 2026 14:13
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?