Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Raih Keberuntungan dengan Cukup Berpedoman al-Qur’an

Ahmad
Terakhir diupdate: 15 November 2013 09:26 9:26 am
Ahmad
Dipublikasikan 15 November 2013 09:26
Bagikan
Belak dan pedoman hidup hanya al-Quran, bukan yang lain!
Bagikan

SUDAH menjadi aksioma dalam kehidupan, tak satu pun manusia mau merugi. Namun sayangnya, tidak semua orang benar-benar memahami hakikat keberuntungan. Sebagian besar menyandarkan keberuntungan pada pangkat, kedudukan, dan kekayaan. Sebagian yang lain membuat sandaran sendiri sesuai dengan imajinasi atau pun ilusi yang dibangunnya sendiri.

Padahal, al-Qur’an sebagai mukjizat akhir zaman telah memberikan definisi, kriteria bahkan panduan untuk setiap Muslim meraih keberuntungan hakiki. Ingat, keberuntungan hakiki, bukan keberuntungan semu. Istilah sekarang bukan KW-KW-an.

Sayangnya, karena lebarnya jarak antara mata, pikiran dan hati terhadap firman Allah (al-Qur’an) membuat sebagian umat Islam tidak begitu antusias mengkaji dan menjalaninya. Sebagian lain, malah sudah meninggalkan dan melupakannya.

Keimanan masih Islam, tetapi perilaku tidak lagi. Baju masih koko (baca baju takwa), tapi hati tidak lagi. Haji berulang kali, tapi pikiran bukan untuk memajukan umat. Sebaliknya, hanya berupaya meraup kekayaan untuk kesenangan pribadi. Infak enggan, membantu yang lain apalagi.

Sebagian ada yang mengaji setiap hari, tetapi hati selalu mendahulukan iri dengki, sehingga tanpa disadari, lisan selalu menyakiti hati Muslim yang lain.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Ini mungkin tidak disadari. Sebagian yang lain boleh jadi malah menganggap sebagai cara meraih keberuntungan. Tetapi, sebagai Muslim kita mesti kembali melihat bahwa, tidak ada keberuntungan sejati kecuali kita benar-benar mengacu pada sumber kebenaran hakiki, yakni al-Qur’an al-Karim.

Kriteria Muslim Beruntung

Di dalam al-Baqarah Allah berfirman bahwa orang yang beruntung itu ialah, yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat, dan menafkahkan sebagian dari rizkinya.

Kemudian beriman kepada al-Qur’an dan kitab-kitab sebelum Al-Qur’an, dan yakin terhadap hari akhirat. Nah, Muslim yang benar-benar masuk kriteria tersebut adalah orang yang mendapat petunjuk (benar) dan pasti beruntung (QS. 2: 3-5).

Jika kita pikirkan, ayat tentang keberuntungan ini Allah letakkan di awal, sesaat setelah Al-Fatihah. Artinya, ini adalah kriteria utama yang sudah semestinya setiap Muslim memilikinya. Dengan kata lain, siapa saja, Muslim yang tidak memiliki kriteria tersebut pasti tidak akan mendapat keberuntungan. Secara lebih detail Allah ulangi kembali kriteria tersebut pada Surah Al-Mu’minun ayat 1 – 11.

Misalnya, ada Muslim kaya, tapi enggan membantu kebutuhan perjuangan umat, atau paling tidak kebutuhan saudara dan tetangganya yang membutuhkan. Maka jelas ia tidak beruntung. Logika materialisnya mengatakan bahwa dengan kikir akan menjadikannya beruntung.

Tetapi, mari kita renungkan firman Allah tentang keberuntungan dan kekikiran.

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghaabun [64]: 15).

Jadi, kikir sama sekali bukan jalan yang benar untuk seorang Muslim mendapatkan keberuntungan. Jika tetap kikir, maka kesengsaraannya baginya. Bayangkan, Allah sampai menegaskan sedemikian rupa, “Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Muslim yang enggan sedekah bahkan menolak zakat ini ada contohnya di zaman Nabi, yakni Tsa’labah. Tsa’labah ini awalnya miskin, pakaian hanya sepotong yang digunakan secara bergantian dengan istrinya kala hendak sholat. Setelah mengadu kepada Nabi, Allah pun memberikan kekayaan melalui ternak yang diupayakannya.

Tetapi, setelah kaya, Tsa’labah tidak lagi sholat berjama’ah, tidak tertarik bertemu Nabi (mengkaji ilmu). Parahnya, ia menolak membayar zakat. Akhirnya, Allah menghukumnya dan mengembalikan Tsa’labah dalam keadaan miskin lagi terhina.

Oleh karena itu, seorang Muslim jangan coba-coba memelihara sifat kikir, kemudian tidak mendirikan sholat dan melupakan dzikir kepada-Nya. Apalgi, itu semua dilakukan dengan alasan pekerjaan, perniagaan atau apa pun yang intinya berurusan dengan keduniaan alias kekayaan. Yakin atau tidak, semua itu pada akhirnya hanya akan mengarahkan hidup seseorang pada kesengsaraan.

Rizki itu harus dicari, kekayaan boleh diperoleh, tapi tetap utamakan sholat dan jangan berhenti dzikir kepada-Nya. Di dalam Al-Qur’an, Allah memberikan peringatan penting untuk kita,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 10).

Jangan Merendahkan Sesama Muslim

Berakhlak dalam pergaulan juga jalan penting yang mesti diperhatikan setiap Muslim. Karena ia juga merupakan penentu kelancaran kita pada keberuntungan. Dengan kata lain, ibadah sekuat apa pun, kalau tangan dan lisan tidak terjaga dari menyakiti saudara seiman, serta tidak peduli terhadap pergaulan, sama saja kita tertipu dengan amalan kita sendiri. Dan, jelas, itu tidak akan mendatangkan keberuntungan apa pun.

Untuk itu, wajib bagi setiap Muslim, bersungguh-sungguh menjaga tangan dan lisannya. Selain akan mengurangi kesempurnaan iman, boleh jadi juga akan mempersulit hari perhitungan kelak di hari kiamat. Apalgi, bahaya lisan sungguh sangat besar, lebih besar dari pembunuhan.

Pernah suatu ketika di zaman Nabi, seperti diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Turmudzi. Nabi Muhammad duduk bersama ‘Aisyah RA. Tiba-tiba Sofiah Binti Huyai, istri beliau, datang menemui keduanya.

‘Aisyah terlihat agak cemburu, dan berkata kepada beliau: “Cukuplah dia (Sofiah) yang pendek itu untukmu!” Nabi langsung menegur keras Aisyah: “Engkau sungguh telah mengeluarkan kata-kata yang jika dicampurkan dengan air laut, niscaya airnya menjadi sangat keruh!”.

“Yang disebut Muslim adalah orang yang lisan dan perbuatan tangannya membuat orang lain aman dan selamat.” (HR Muslim). Karena itu, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Kesimpulannya hanya satu, bila kita memang mendamba keberuntungan, maka tidak ada jalan lain kecuali memperhatikan dan mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya sebagaimana telah termaktub secara jelas, terperinci dan sederhana di dalam Al-Qur’an.

Mulai dari benar-benar beriman, menjaga sholat, zakat, peduli terhadap sesama dan memuliakan orang yang ada haknya terhadap kita sebagai Muslim, seperti tetangga, tamu, dan menjadikan mereka tentram bersama kita. Inilah yang mesti diupayakan, keluar dari jalan tersebut, jelas akan menjauhkan kita dari keberuntungan hakiki.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur [24]: 51).*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wikileaks: AS Berencana Kuasai Hak Paten dan Hak Cipta
Tulisan selanjutnya Perayaan Asyuro-Syiah secara Terbuka timbulkan Banyak Reaksi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?