Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Tiga Langkah Mengatasi Rasa Malas

Ahmad
Terakhir diupdate: 4 Agustus 2015 10:28 10:28 am
Ahmad
Dipublikasikan 4 Agustus 2015 10:28
Bagikan
Bagikan

BERTAMBAHNYA usia, kadang tak secara otomatis membuat seseorang terbebas dari hadirnya kemalasan dalam diri. Berbagai alasan, seringkali menjadi pembenaran atas kemalasan yang diacuhkan.

Namun, mengindahkan kemalasan sejatinya adalah bentuk kepandiran diri yang tentu harus selalu dijauhi.

Hebatnya, Islam telah memberikan panduan bagaimana kita bisa langgas dari sifat malas yang memang bisa mengancam siapa saja yang bernama manusia.

Rasulullah bersabda, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas” (HR. Abu Dawud).

Dengan demikian langkah pertama untukuk bisa luput dari sifat malas adalah berdoa.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Malas itu sangat mematikan. Ilustrasinya bisa dilihat dari manusia yang tidak mau bergerak, beraktivitas atau bekerja. Maka akal, hati dan fisiknya tidak akan berfungsi secara maksimal, sehingga mudah terserang penyakit, baik pada fisik, akal, mental bahkan hatinya.

Sementara itu, malas bisa datang kapan dan dimana saja kepada siapa saja. Oleh karena itu, berdoa adalah senjata ampuh untukuk terbebas dari sifat yang Rasulullah sangat jauhi ini.

Kedua, hilangkan kata ‘menunda’ dalam kamus diri. Seringkali untukuk kebaikan, manusia punya banyak alasan untukuk mentolerir diri, sehingga memilih untukuk menunda dalam melakukannya. Beberapa di antaranya, berani menunda meski telah menjadi komitmen hidupnya.

Pernah suatu ketika, seorang ayah merasa dirinya telah banyak melewati waktu tanpa menambah ilmu. Dalam pikirannya pun muncul rasa bersalah. Kemudian, ia pun berkomitmen untukuk bisa membaca buku setiap hari.

Apa yang terjadi, sehari dua hari, komitmen itu masih tertanam kuat dalam dirinya. Namun, hari ketiga dan selanjutnya, ayah yang bersemangat tadi kembali pada keadaan semula, melewati hari tanpa membaca buku. Ini mungkin juga sering dialami oleh pribadi lainnya.

Mengapa hal seperti itu jamak terjadi? Karena menunda belum dihapuskan dalam kamus diri, sehingga selalu ada pembenaran untukuk tidak bersegera.

Mengatasi hal semacam ini, kita hanya perlu segera bangkit kala diri hendak memilih penundaan, terutama terhadap apa yang telah kita wajibkan terhadap diri sendiri sebagai upaya meningkatkan kualitas diri.

Dalam konteks membaca setiap hari misalnya, jika ada waktu luang 10 menit, maka segerakan membaca dalam waktu 10 menit itu. Jangan tunda, apalagi berpikir 10 menit terlalu sedikit. Sebab, tidak sedikit orang menunggu waktu sejam bahkan sehari untukuk membaca, kemudian kala waktu itu tiba, membaca pun tak pernah ia lakukan.

Di sini hebatnya Islam, memerintahkan kita untukuk bersegera dalam mendirikan sholat. Andai saja sholat sudah bisa tidak ditunda, insya Allah amalan positif lainnya akan mudah untukuk kita segerakan.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang sholeh lagi produktif. Sebagai makhluk sosial, setiap insan butuh teman dan lebih jauh lingkungan untukuk merdeka dari kemalasan.

Rasulullah bersabda, “Seseorang itu tergantung dari (kualitas) agama kawan karibnya maka seseorang diantara kamu melihat siapa yang menjadi kawan karibnya.” (HR. Abu Dawud).

Kawan karib di zaman sekarang bisa banyak bentuknya, tak hanya manusia. Televisi misalnya, ketika seseorang banyak menghabiskan waktu bersama televisi, malas pasti tak akan pernah mampu ia lawan. Demikian pula jika teman karibnya adalah orang yang kegemarannya hanya hura-hura dan foya-foya.

Tetapi, kala teman karibnya adalah orang yang sholeh lagi produktif, insya Allah akan tertular, termotivasi untukuk selanjutnya berinisiasi membebaskan diri dari kemalasan dengan kesadaran dirinya sendiri.

Bayangkan, orang yang malas makan saja bisa terserang penyakit, mulai dari penyakit yang sederhana sampai penyakit yang kompleks. Bagaimana kalau kita malas dalam amal sholeh, kebaikan dan pengingkatan kualitas diri?

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:malastidur
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pakar Hukum Islam: MUI Itu Lembaga yang Baik Bagi Umat Islam
Tulisan selanjutnya Presiden GIDI Diperiksa Polisi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?