Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Waspadai Dusta-Dusta yang Dianggap Biasa

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Mei 2016 08:35 8:35 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Mei 2016 08:35
Bagikan
Ilustrasi
Bagikan

BANYAK orang yang memandang sepele dusta-dusta ‘kecil’ yang entah secara sadar atau tidak sadar sering diucapkan dan dilakukan dalam keseharian.

Mereka menganggap bahwa meskipun dusta, namun dusta-dusta kecil itu berdosa dan tidak akan dihisab oleh Allah Subhanahu Wata’ala pada hari kiamat kelak. Umat Islam sering meremehkan dosa-dosa yang dianggap kecil padahal disisi Allah Subhanahu Wata’ala itu adalah perkara yang fatal.

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللَّـهِ عَظِيمٌ

“Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (Qs. An-Nur : 15)

Selain memperingatkan umatnya dari dusta yang besar, Rasulullah juga memperingatkan umatnya dari perkataan sepele, tapi sejatinya merupakan kedustaan. Diantara perkara-perkara sepele yang termasuk dusta adalah;

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Pertama, perkataan orang tua terhadap anak kecilnya, “nanti ayah kasih…” atau “nanti aku beri…” dan seterusnya, padahal sebenarnya ia tidak serius ingin memberi, namun sekedar membujuk agar anak mau menuruti perintahnya. Perkataan seperti ini termasuk satu bentuk kedustaan. Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Amir ia berkata;

“Suatu hari ibu memanggilku dan pada saat itu Rasulullah sedang duduk di rumah kami. Ibu berkata kepadaku, “Hai nak, sini aku beri kamu!” Lalu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bertanya kepada ibuku, “Apa yang hendak engkau berikan padanya?” Ibu menjawab, “Kurma wahai Rasulullah” Rasulullah bersabda;

مَّا إِنَّكَ لَوْ لمَ ْتُعْطِهِ شَيْئاً كُتِبَتْ عَليْكِ كِذْبَةً

“Sungguh, jika engkau tidak memberinya sesuatu maka engkau pasti dituliskan padamu sebuah kedustaan.” (HR. Abu Dawud)

Kenyataan sering kita jumpai para orang tua ketika membujuk putra-putrinya untuk mau tidur siang atau untuk belajar diringi dengan iming-iming hadiah. Namun ketika putra atau putrinya lupa tentang hadiah yang telah dijanjikan, orang tua pun tidak memenuhi janjinya. Yang demikian dalam kacamata syariah termasuk kedustaan yang dilarang oleh Rasulullah Alaihi Wassallam. Secara tidak langsung orang tua menanamkan nilai-nilai negatif pada diri anak, yaitu nilai kedustaan. Maka jangan menyalahkan anak seandainya ia tumbuh menjadi anak yang gemar berdusta karena ada ‘model pendusta’ yang ia saksikan setiap hari.

Kedua, melucu (bercanda) dengan membuat cerita-cerita bohong agar membuat orang lain tertawa.

Meskipun dimaksudkan sebagai gurauan tetap saja berdusta tidak diperkenankan dalam agama. Nabi Muhammad, meskipun beliau adalah seorang utusan Allah bukan berarti beliau selalu tampil serius di hadapan umatnya.

Dalam banyak hadits diterangkan bahwa Rasulullah Alaihi Wassallam ternyata kadang-kadang juga bercanda di hadapan para sahabat sehingga membuat mereka tertawa, namun canda Rasulullah ternyata tidak lepas dari kebenaran dan kejujuran.

Dalam hadits riwayat Ahmad dari Sahabat Anas bin Malik diterangkan bahwa seorang laki-laki mengnjungi Rasulullah Alaihi Wassallam. Beliau  membawanya ikut berkendara lalu Rasulullah berkata “Kami akan memboncengkanmu diatas anak onta!” Laki-laki itu heran dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang bisa aku lakuan dengan anak onta? Lalu Rasulullah Alaihi Wassallam bersabda, “Bukankah onta dewasa juga anaknya onta?” Sahabat itu pun tersenyum dan sadar kalau Rasulullah bercanda.

Imam Tirmidzi juga meriwayatkan bahwa seorang nenek-nenek datang kepada Rasulullah Alaihi Wassallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkan aku ke Sorga” Rasulullah pun berkata kepadanya, “Wahai Ibu Si fulan, apakah engkau tidak tahu kalau di Sorga itu tidak ada nenek-nenek?” Nenek itu pun berpaling sambil menangis tanpa pamit kepada Rasulullah Alaihi Wassallam. Lalu Rasulullah berkata kepada para sahabat, “Katakan padanya bahwa kelak ia akan kembali menjadi gadis perawan di Sorga. Karena Allah telah berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.” (QS. Arrahman : 35-36)

Dalam kondisi tertentu, Rasulullah ternyata juga bercanda. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk mencairkan suasana dan membuat hubungan beliau sebagai pemimpin dengan sahabat  tetap baik. Namun candaan Rasulullah tidak pernah berisi dusta. Berkata dusta ketika bercanda merupakan perbuatan dosa yang dikatakan oleh Rasulullah bisa mencelakakan seseorang. Beliau Shallallohu ‘alaih wasallam bersabda;

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang berbicara kemudian berbohong agar orang lain mentertawakannya, celakalah dia, celakalah dia.”

Ketiga, Menceritakan semua apa yang didengar atau yang dibaca termasuk perbuatan dusta.

Sebagai seorang muslim, setiap informasi yang dia dapat seharusnya; diverifikasi dan diteliti terlebih dahulu apakah informasi ini memang benar adanya. Setelah dipastikan informasi yang didapat adalah benar maka, hendaknya dilihat dulu isi beritanya, pakah layak untuk dikonsumsi atau dibaca. Kalau dinilai layak, berikutnya, Apa perlu di-share atau disebar? Belum berhenti sampai disini, tapi harus pula dipertimbangkan berbagai dampak kalau informasi itu disebar atau di-share. Apakah membawa kebaikan ataukah malah mendatangkan keburukan.

Sebab kalau tidak, bisa-bisa kita menjadi agen penyebar berita hoax, berita dusta dan fitnah. Dan tidak berperan serta dalam munculnya keresahan dan kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Maka cukuplah kita renungkan peringatan Rasulullah Alaihi Wassallam

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang itu berdosa ketika ia menceritakan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim).*/Imron Mahmud

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berbohongdustafitnahhoax
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 13 Anggota Elit Garda Revolusi Iran Dikabarkan Tewas di Aleppo
Tulisan selanjutnya Kementerian: Binladin Group akan Bayar Gaji 10.000 Pekerjanya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?