Oleh: Ihshan Gumilar
Hidayatullah.com | IBU kota hampir kehilangan nafas. Biasanya dia beringas dan ganas, tapi tidak untuk saat ini. Jalan-jalan protokol yang biasanya dilukis oleh jejak kaki pengais rejeki, kini tampak seperti kanvas kosong tanpa guratan warna kehidupan. Derup jantung kota jakarta tak sekencang biasanya. Ia dibungkam oleh intrik-intrik politik.
Kebijakan demi kebijakan dikeluarkan untuk menjegal. Yang satu ingin menyelamatkan warga, tapi yang satu ingin menyelamatkan kepentingan pribadi dengan mengorbankan nyawa orang-orang tak berdosa. Masyarakat merasa takut dan gelisah.
Setiap detiknya adalah infeksi baru atau kematian. Ia melesat seperti pesawat supersonic ke pelosok-pelosok pedesaan. Ekonomi menjadi terkulai. Satu persatu mulai tumbang. Tak kenal tua ataupun muda, bangsawan ataupun jelata. Tawarannya hanya satu : Kematian.
Takut
Siapapun dia jika berhadapan dengan hal yang bisa memisahkan raga dan nyawa maka akan merasa takut. Rasa takut adalah anugerah. Tidak adanya rasa takut adalah kondisi yang tidak normal. Mari kita melihat sejenak salah satu karakter seorang psikopat.
Psikopat adalah orang yang mengalami gangguan pada bagian otak (Lymbic system) yang berfungsi untuk meregulasi emosi, termasuk rasa takut. Ketidak berfungsian bagian otak tersebut, menyebabkan para psikopat bisa melakukan hal diluar nalar manusia normal seperti mutilasi. Lymbic system yang tidak bekerja secara otomatis membuat mereka “kehilangan” rasa takut. Lalu, emosi apa yang sering kita rasakan semenjak virus corona ini merebak. Takut dan cemas ? Jika ia, anda harusnya bersyukur karena Lymbic system anda masih berfungsi.
Harapan
Keadaan sulit bisa membuat orang merasa kehilangan harapan. Kehadiran virus corona yang tak kasat mata telah merubah banyak pola hidup manusia dan kondisi ekonomi dunia termasuk Indonesia. Banyak hal terjadi tanpa pernah terbayangkan dan terencanakan. Ketidaksiapan manusia untuk menerima fakta akan berdampak banyak pada suasana jiwa.
Aaron T. Beck, psikiater kawakan Amerika, menggaungkan kembali sebuah formula ajeg yang pernah ditorehkan oleh Al-Razi (Rhazes), ilmuwan Muslim persia pada abad 10, dalam sebuah karya fenomenalnya yang berjudul “On the means of dispelling sorrows (Beragam cara menghilangkan kesedihan yang mendalam”. Formula itu menekankan bahwa orang mengalami depresi diakibatkan ketidakmampuannya untuk menerima kenyataan yang berbeda dari apa yang diharapkan. Kenyataan tak selalu menjadi teman setia bagi sang harapan. Ia sering kali lari dan menikam dari belakang.
Semakin menganganya jurang antara kenyataan dan keinginan hanya akan membuat seseorang terperosok lebih dalam pada parit kekecewaan, yang bisa menuntunnya bertemu dengan malaikat pencabut nyawa. Kehadiran virus corona memantik beragam kisah nyata yang dihadirkan dari beragam kelas ekonomi.
Seorang menteri keuangan negara bagian Jerman, Thomas Schaefer, ditemukan tewas bunuh diri di pinggir rel kereta api. Ia merasa tak sanggup membayangkan ekonomi dunia yang terhenti dikarenakan virus corona, khususnya Jerman. Dilain sisi, seorang supir online merasa tak sanggup untuk membayar cicilan mobil diakibatkan sepinya penumpang di musim corona ini. Ia pun tega meninggalkan anak dan istri dengan menampakan dirinya tergantung di pohon belakang rumah dengan tali ayunan.
Sungguh tragis. Mereka tak lagi sanggup memperkecil ruang antara keinginan dan kenyataan. Tak kenal kaya ataupun nelangsa, muda ataupun tua,tak peduli dari negara maju ataupun tidak. Ketika kehilangan harapan dalam hidup, maka kematian pun siap diusapkan ke wajah sendiri dengan kedua tangan ini. Segelap apapun lorong yang kita lalui, yakinlah bahwa ada cahaya diujung lorong yang sedang kita tapaki saat ini.
Maknai
Victor Frankl, seorang psikoterapis yang pernah ditawan oleh NAZI selama tiga tahun, memberikan pesan pentingnya memiliki makna. Pada masa itu, ayah, ibu, saudara, dan istrinya dilenyapkan sekaligus oleh Hitler. Ia mampu bertahan dalam keadaan sulit dengan tetap mempunyai harapan.
Hilangnya harapan akan membuat manusia menyerah dan membiarkan dirinya diperkosa oleh keadaan. Orang lain bisa membunuh, merampas, merampok, dan bahkan menghilangkan nyawa orang lain. Tapi satu yang tak bisa dirampas oleh orang lain adalah kebebasan untuk mempunyai perspektif yang baik dan benar untuk menyikapi sebuah keadaan.
Victor mempunyai harapan bahwa konsentrasi NAZI akan berkahir dan ia ingin menulis kembali buku-bukunya yang dibakar oleh tentara NAZI. Victorpun keluar dari konsentrasi itu, lalu menorehkan kisahnya dalam sebuah buku yang tak disangka bisa menghangatkan dunia literatur dengan judul Man’s search for meaning (Pencarian makna seorang manusia). Ia mengajarkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan harapan dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan. Segala penderitaan yang manusia alami akan mampu dilalui jika ia mempunyai makna dan harapan.
Merebaknya virus corona menjadi sebuah kesempatan untuk memaknai kembali kehidupan ini. Agama adalah sebuah cara untuk memberikan makna dalam kehidupan. Islam mengajarkan untuk tetap mengingat Allah dan berpegang teguh pada pesan-pesan ke Islaman. Mengikuti apa yang agama anjurkan adalah sebuah proses injeksi makna pada kehidupan.
Seperti halnya imunisasi, ia memberikan rasa tidak nyaman pada saat disuntikan, tapi untuk jangka panjang ia menyelamatkan ratusan juta nyawa anak manusia. Membiasakan diri untuk berperilaku sesuai agama memang sulit dan juga menghasilkan rasa pegal serta tidak nyaman pada awalnya, tapi ia bisa menyelamatkan jiwa ketika terguncang oleh keadaan yang tak pernah terpikirkan.
Dalam kondisi sulit secara psikis seperti gelisah, stres, dan depresi, agama berperan sebagai sebuah proteksi. Banyak penelitian menunjukan bahwa agama berfungsi sebagai penyanggah bagi jiwa manusia ketika ia mengalami stres atau kesulitan secara psikologis (Braam & Koenig, 2019).
Ramadhan bermakna sebagai pembakaran. Kita bisa jadikan bulan ini untuk membakar semua perbuatan buruk yang pernah kita lakukan. Cara membakarnya adalah dengan memperbanyak kebaikan yang akan membuat sirna dosa-dosa amal buruk kita. Ramadhan adalah pusat pelatihan yang seyogyanya menempa kita untuk bisa bertahan dalam 11 bulan ke depan. Buat kembali makna yang terbaik bagi diri kita. Karena hidup yang kita miliki hanya satu kali. Begitu dia pergi, maka dia tidak akan pernah kembali lagi. Sebelum ajal mengetuk pintu, maka lakukanlah sesuatu yang anda mampu.
Lepaskan
Menyerahkan segala masalah yang ada kepada Allah adalah bagian dari memberikan makna dalam hidup. Menyerahkan sesuatu kepada ahlinya dalam mengendalikan sebuah situasi merupakan cara terbaik. Hal itu akan membuat pikiran menjadi lebih longgar dan tenang.
Berlapang dada adalah sebuah kondisi untuk menyeimbangkan antara ikhtiar dan tawakal. Ikhtiar adalah sebuah bentuk usaha fisik, seperti Lockdown. Mari belajar dari selandia baru yang hanya berpenduduk 5 juta. Pada saat corona hinggap di 50 saluran nafas warga kiwi dalam satu hari, Jacinda Ardern pun langsung menetapkan lockdown secara nasional di level 4 pada 26 maret.
Kebijakan jitu dan bermutu terbukti mampu menekan laju virus yang kemudian tak sampai di angka 100 dalam satu hari, bahkan hingga 2 kasus per harinya. Presiden RI sebaiknya membaca berita dan data secara komprehensif bahwa lockdown terbukti secara ilmiah mampu menghambat laju corona. Lockdown adalah ikhtiar seorang pemimpin yang bertanggung jawab terhadap ratusan juta nyawa warganya. Jangan pernah remehkan harga satu nyawa manusia.
Tawakal adalah sebuah bentuk usaha psikologis dengan berserah diri kepada sang Ilahi, seperti ikhlas. Tawakal amat sulit untuk dilihat dan dikuantifikasi. Tapi ia bisa dirasakan oleh si empunya. Menyerahkan segala masalah kepada Allah yang Maha memiliki akan membuat seseorang merasa jauh lebih tenang.
Islam tidak mengajarkan untuk melawan permasalahan yang sedang hinggap. Tapi Din itu mengajarkan untuk mengembalikan segala masalah tersebut kepada Sang Khalik (Pencipta). Mari kita melihat sejenak hukum Newton yang menyatakan bahwa “ketika ada sebuah aksi, maka akan ada sebuah reaksi yang jumlahnya sebesar aksi yang telah diberikan”. Oleh karena itu, semakin kita mengutuk dan bermuram durja (aksi) sebuah keadaan sulit, maka himpitan rasa sulit itu akan membelenggu lagi diri kita (reaksi) sebesar kekesalan yang kita berikan. Semakin kita kencang menghantam balik rasa sulit yang kita rasakan, akan sekencang itu pula kita akan menerimanya kembali. Yang berbahayanya adalah ketika reaksi kiriman itu datang dimana kita tidak siap secara fisik dan psikologis, disitulah sebuah kejadian besar seperti depresi bisa sering terjadi.
Kehadiran Ramadhan kali ini membawa menu spesial,ia datang di tengah kemelut ketakutan virus corona. Mari kita jadikan menu spesial ini sebagai momen untuk memaknai kembali hidup kita serta menyeimbangkan kembali antara ikhtiar dan tawakal. Kita tidak boleh kehilangan asa. Pertolongan itu bersama dengan kesabaran, ketentraman itu bersama dengan ketakutan, dan kemudahan itu bersama dengan kesulitan.
Kehadiran Ramadhan selalu membasuh jiwa-jiwa yang gelisah. Ia mampu meneteskan ketenangan pada jiwa manusia. Itulah yang membuat kita bisa merasa tentram di dalam ketakutan. Selamat menikmati edisi spesial Ramadhan!*
Indonesian Islamic Center (IIC) New Zealand
==============================
Referensi
Braam, A. W., & Koenig, H. G. (2019). Religion, spirituality and depression in prospective studies: A systematic review. Journal of affective disorders, 257, 428-438.
Statistik COVID NZ