Lanjutan tulisan PERTAMA
Hidayatullah.com | SEBELUMNYA, untuk menjaga kemuliaan Al-Quran, sudah ditulis 1-6 adab-adab batin membaca kalamullah menurut Imam Al-Ghozali. Di bawah ini lanjutanya;
- At-Takholli ‘an mawani’ al-fahm, membersihkan diri dari hal-hal yang menghalangi perenungan. Perkara-perkara yang menghalangi pemahaman ada empat;
Pertama, berlebihan dalam memfokuskan diri memastikan keluarnya huruf dari makhrojnya. Dimana sikap ini sampai pada derajat mengulang-ulang bacaan karena merasa belum menepati makhroj hurufnya. Hal demikian membuat tujuan membacanya hanya tertuju pada ketepatan makhroj saja, lantas bagaimana ia dapat menyelami kandungan bacaannya?
Kedua, mencukupkan diri untuk taklid madzhabnya padahal ia memiliki kemampuan dan perangkat-perangkat keilmuan syar’i untuk memahami makna Al-Quran.
Ketiga, terus-menerus bergelimang dosa, memiliki sifat sombong, dikuasai hawa nafsu, tunduk pada dunia. Hal ini adalah tirai terbesar yang menutupi hati seorang hamba dari makna Al-Quran. Karena hati bagaikan cermin, syahwat bagaikan noda dan makna Al-Quran bagaikan pantulan gambar yang ada dalam cermin. Maka semakin banyak dan menumpuknya noda di cermin semakin kabur pantulan gambar di dalamnya.
Keempat, telah membaca tafsir tertentu dan meyakini makna di dalamnya hanyalah sebagaimana apa yang tertulis di tafsir tersebut dan menutup kemungkinan memiliki makna selain itu.
- At-takhshis, merasa bahwa ayat-ayat tertuju pada dirinya. Ketika mendengar perintah atau larangan ia merasa dirinyalah yang diperintah dan dirinyalah yang dilarang. Begitu juga ketika mendengar ganjaran pahala dan adzab yang Allah ta’ala janjikan. Begitu juga ketika membaca kisah orang terdahulu atau para nabi, ia menyadari kisah itu bukan sekedar untuk diceritakan tapi untuk diambil pelajarannya. Muhammad bin Ka’ab berkata, “Barang siapa yang telah sampai kepadanya Al-Quran seakan-akan Tuhannya sedang berbicara kepadanya.”
- At-taatstsur, hatinya terpengaruh oleh ayat yang dibaca. Keterpengaruhan seorang hamba dengan ayat yang dibaca dilihat dari kesesuaian keadaannya dengan ayat yang sesang dibaca. Ketika membaca ayat tentang ancaman ia menunduk penuh ketakutan seakan hendak mati. Ketika membaca ayat tentang luasnya ampunan dan rahmat ia melayang bagai burung karena rasa bahagianya. Ketika membaca ayat tentang sifat dan nama Allah ta’ala ia merendahkan diri di hadapan keagungan-Nya dan menyadari keperkasaan-Nya. Ketika membaca ayat tentang perkataan keji orang-orang kafir terhadap Allah ta’ala, dengan perkataan: memiliki anak atau istri, ia melirihkan bacaannya karena malu mengucapkan kata tak pantas itu. Ketika membaca ayat tentang surga hatinya merekah rindu hendak memasukinya. Ketika membaca ayat tentang neraka dadanya berdegub kencang karena takut.
Maka daripada itu Yusuf bin Asbath berkata, “Sungguh aku bersedih karena membaca Al-Quran, ketika aku membaca apa yang ada di dalamnya aku takut akan murka-Nya. Maka aku mengganti bacaan Al-Quran ku dengan bertasbih dan beristighfar.”
Allah ta’ala berfirman:
اَلَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْن
“Mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya. Dan hanya kepada tuhan mereka bertawakal.” (QS: Al-Anfal : 2)
- Taraqqi, merasa seakan mendengar ayat dari Allah ta’ala langsung, bukan dari lisannya. Berkata Ja’far bin Muhammad ash-Shodiq ketika ditanya apa yang membuatnya tak sadarkan diri di tengah-tengah sholat, “Saat itu aku terus mengulang-ngulang ayat dalam hatiku hingga aku seakan mendengarnya langsung dari tuhanku, hingga tubuhku tak mampu berdiri tegak karena menyaksikan ke-MahaKuasa-an-Nya.”
- Tabarri, berlepas diri dari kemampuan dan kekuatannya. Berlepas diri dari merasa benar dan merasa suci. Ketika membaca ayat tentang pujian dan ganjaran kepada orang-orang sholeh ia tidak merasa dirinya termasuk di dalamnya. Akan tetapi dia berharap disatukan Allah ta’ala ke dalam golongan mereka. Dan apabila membaca ayat tentang murka-Nya, celaan terhadap pelaku maksiat dan orang-orang yang lalai ia merasa dirinya termasuk ke dalam orang-orang yang sedang dibicarakan.
Maka dari itu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, aku memohon ampun atas kedzolimanku dan kekufuranku.” Maka ada yang bertanya kepadanya, “Ini kedzoliman (aku tahu) lalu bagaimana dengan kekufuran?” Lantas Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu membacakan sebuah ayat,
إِنَّ الإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كُفَّارٌ
“Sungguh manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari (kufur nikmat Allah).” (QS: Ibrahim : 34)
Suatu ketika Yusuf bin Asbath ditanya, “Ketika engkau membaca Al-Quran apa yanv engkau munajatkan?” Beliau menjawab, “Aku beristighfar atas kelalaianku tujuh puluh kali.”*/Auliya El Haq