Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Pilihkan Sahabat yang Baik Iman nya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 April 2012 06:10
Bagikan
Bagikan

DALAM Islam, tidak ada satupun aspek yang tidak terkait dengan ketuhanan. Termasuk dalam etika pertemanan (al-suhbah). Imam al-Ghazali menyebutnya — pertemanan yang baik — sebagai salah satu rukun agama. Dikatakannya, bahwa agama (al-din) itu sesungguhnya safar (berpergian) menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan salah satu pilar ber-safar adalah berbaik hati ketika berteman (Al-Ghazali, al-Arba’in fi Ushul al-Din,84).

Karena menjadi rukun agama, maka pertemanan yang baik (husnu al-suhbah) itu termasuk menjadi faktor baik tidaknya kualitas keberagamaan seorang muslim. Oleh sebab, itu ia –husnu al-suhbah — menjadi tanda pengenal seorang mu’min.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang tidak mengasihi anak-anak kecil kami dan tidak menghormati orang-orang yang tua kami.” (HR. Bukhori).

Artinya, Rasulullah mendiskualifikasi orang-orang yang tidak berbuat baik terhadap anak-anak kecil dan orang yang tua. Bukan mendiskualifikasi keluar dari keislamannya, akan tetapi keluar dari akhlak sebagai seorang yang menyatakan diri umat Rasulullah. Seorang muslim sejati itu pasti berbuat baik kepada mereka. Jika tidak, keislamanya belum sempurna.

Sebagai salah satu rukun agama, maka perintah husnu al-suhbah itu tidak sembarangan. Ada aturan dan etikanya. Agar supaya pilar itu kokoh, tidak rapuh. Kuat dan tidak mudah digoyang godaan. Maka, pilar itu mesti diisi dengan sesuatu yang menguatkannya.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Sehingga hunsnu al-suhbah itu wajib dijalin kerena Allah bukan yang lain. Rasulullah bersabda: “7 golongan yang akan mendapatkan naungan pada saat di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah : Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid, dua orang yang saling cinta karena Allah, bersatu dan berpisah di atasnya, seseorang yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan namun pemuda tersebut berkata, ‘Aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan ia menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta seseorang yang berdzikir kepada Allah sendirian hingga meneteskan air mata.” (HR.Bukhari Muslim).

Sahabat Mu’adz bin Jabal pernah mendengar nasihat dari Nabi tentang keutamaan menyambung persahabatan karena Allah. Diceritakan Mu’adz, bahwa orang-orang muslim yang mengikat persahabatan dan silaturahmi karena Allah dan saling mencintai di antara mereka akan mendapatkan cinta Allah di akhirat kelak. (HR. Ahmad).

Ini menjunjukkan memang husnu al-suhbah itu ajaran yang cukup agung dalam Islam. Betapa tidak, ia menjadi rukun agama, tanda keimanan dan faktor kebahagiaan di akhirat.

Maka, persahabatan yang baik sesama Muslim itu dibangun bukan untuk tujuan-tujuan yang sifatnya materialis dan sementara. Bukan untuk mendapatkan manfaat dunia, materi, jabatan atau sejenisnya. Persahabatan untuk tujuan-tujuan ini sifatnya rapuh dan mudah runtuh. Karena sifatnya sementara dan sekedar memenuhi hasrat nafsu pribadi. Jika — dalam persahbatan itu — kepuasannya habis, maka persahabatannya terancam putus. Makanya persahabatan dengan niat yang ini bukan disebut husnu al-suhbah. Husnu al-Suhbah itu persahabatan yang dijalin dengan iman.

Jalinan dalam husnu al-suhbah itu merupakan jalinan rabbaniyyah, maka janganlah memilih teman secara sembarangan. Pilihlah yang bisa membimbing iman. Rasulullah telah memberi petunjuk agar tidak berteman duduk kecuali dengan teman yang memberi manfaat agama. Dan diperintah untuk berhati-hati berkawan dengan orang yang mengabaikan perintah agama (ahl al-ghoflah).

Rasulullah bersabda: “Bersendirian itu lebih baik daripada berteman duduk dengan orang jahat. Berteman dengan orang sholih itu lebih baik daripada bersendirian.” (HR. al-Hakim dan Baihaqi).

Dijelaskan oleh Imam al-Ghazali bahwa hadis tersebut di atas melarang untuk berkawan dengan orang yang melalaikan perintah agama. Bahwa sering-sering duduk-duduk bersama mereka bisa mengerus agama.

Rasulullah bersabda: “Seseorang tergantung atas agama temannya, maka hendaknya salah seorang kalian meneliti siapa yang dijadikan sebagai temannya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Imam al-Ghazali menggambarkan seseorang yang berkawan akrab dengan mereka sama dengan orang yang benang bajunya terlepas satu persatu. Atau digamparkan seperti bulu jenggotnya terlepas satu persatu. Jika terus-terusan, maka bajunya sudah tidak berbentuk lagi kerena benangnya habis, atau bulu jenggotnya hilang seperti dicukur habis. Orang yang melepas benang dan mencabut bulu itu digambarkan sebagai teman yang ahl al-ghoflah. Artinya, jika terus-menerus berkawan akrab dengan mereka, maka iman kita akan luntur.

Karena begitu penting, maka menjalin husnu al-suhbah ada etikanya. Di antaranya, hendaklah tawadlu dengan teman sesama Muslim, jangan menunjukkan sikap bangga diri, sombong dan hasud, sebab akan merusak jalinan bersahabatan. Jangan sampai tidak menyapa lebih dari tiga hari. Rasulullah memperingatkan: “Tidak dihalalkan bagi seorang muslim tidak menyapa saudara (sesama muslim) lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari Muslim).

Hidari sikap menghibah apalagi mengadu domba. Rasulullah bersabda, “Jangan kalian saling dengki, saling benci, saling menjerumuskan, saling membelakangi dan jangan sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kepada teman, juga disunnahkan untuk selalu mengucapkan salam dan bersalaman ketika bertemu. Dan diutamakan kita memulai dulu mengucapkannya. Jika sakit, kita jenguk. Mendoakan dan memberi hadiah.

Mendoakan teman dianjurkan tidak didepannya, tapi yang utama mendoakannya ketika tidak dihadapan teman. Saling menasihati dengan kata santun dan penuh kecintaan.

Jika melakukan kesalahan, maka ingatkan dengan baik tanpa rasa membenci. Allah berfirman:

فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

“Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85).

Jadi, pertemanan itu menjadi nilai ibadah jika diniati dan dijalin sesuai dengan perintah agama. Pertemanan akan sia-sia jika sekedar untuk mencari kesenangan sementara atau kepuasan sesaat. Jalinan ini akan menjadi penguat iman kita bila dijalin berdasarkan ilmu bukan nafsu. Oleh sebab itu, jangan sembarangan teman, pilihlah yang beriman.*/Kholili Hasib

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ImanMedia Islamold migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pilihkan Sahabat yang Baik Imannya
Tulisan selanjutnya Stasiun Haramain Makkah Sedot SR3,2 Milyar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Berita
28 Mei 2026 19:41
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?