Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Hikmah

Ulama Jomblo dan ‘Godaan Wanita’

Ahmad
Terakhir diupdate: 1 September 2022 10:30 10:30 am
Ahmad
Dipublikasikan 1 September 2022 10:45
Bagikan
Bagikan

Kebanyakan ulama selalu haus ilmu, dan selalu menjadi tumpuan penduduk dan masyarakat mendapatkan hikmah hidup, tidak sedikit mereka menganggap pernikahan dan wanita sebagai belenggu

Hidayatullah.com | DISEBUTKAN dalam Tadzkiratul Huffaz karya Ad-Dzahabi, 3:820 dalam biografi Al-Imam Al-Fakih Al-Hafizh Al-Kabir Ar-Rahal Ibn Ziyad An-Naisaburi sebagaimana berikut, Al-Hafizh Al-Mujawwid Al-Allamah Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ziyad bin Wasil An-Naisaburi, ahli fikih bermazhab Syafi’i, pengarang banyak kitab, lahir 238 H dan wafat 324 H.

Al-Hakim berkata, “Ibn Ziyad adalah seorang imam besar bermazhab Syafi’i di Irak pada zamannya. Termasuk ulama yang paling banyak memiliki hafalan tentang permasalahan- permasalahan fikih dan perbedaan-perbedaan para sahabat.”

Ad-Daruquthni berkata, “Aku tidak menjumpai (ahfaz) orang yang lebih banyak hafalan hadisnya ketimbang Ibn Ziyad. Dia mengetahui tambahan-tambahan redaksi dalam kitab-kitab matan.

Ketika dia duduk untuk menyampaikan hadis, para hadirin berkata, “Sampaikanlah satu hadis’. Dia berkata, ‘Kalian saja yang bertanya. Kemudian para hadirin menanyakan hadis- hadis dan dia menjawab serta mendektekannya.”

Baca Juga

Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan
Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba
Empat Kategori Ucapan: Mana yang Layak Disampaikan?
Ujian 1.000 Dinar: Antara Perut Lapar dan Integritas yang Tak Terbeli
Hamba Allah: Antara Mengejar dan Dikejar Rezeki

Yusuf AI-Qawas berkata, aku mendengar Abu Bakar An-Naisaburi berkata, “Kalian tahu orang yang bangun selama 40 tahun tidak tidur malam, setiap hari hanya makan lima biji (kacang), menjalankan shalat Ghadat (Fajar-Duha) dengan sesuci wudhu Isya di akhir waktu? Kemudian An-Naisaburi berkata, “Akulah orang itu. Itu semua sebelum aku mengenal Ummu Abdurrahman. Kenapa aku mengatakan tentang orang yang menikahiku?” Kemudian dia berkata, “Tiada maksud lain kecuali kebaikan saja”.

Tidak bisa dipungkiri oleh kita bahwa “suatu hubungan”, bila mendalam, pasti akan memalingkan dari kesibukan mencari dan meraih ilmu. “Hubungan suami, istri, anak, dan semacamnya adalah kesibukan yang mendominasi -kalau tidak boleh kita katakan sebagai pemutus keilmuan pada banyak orang.

Sampai-sampai AI-Imam Bisyr Al-Hafi mengatakan dalam ungkapan masyhur yang maknanya, “Ilmu telah hilang di paha para wanita, sebagaimana dalam Kitab Al-Masnū’ fi Ma’rifati Hadīts Al-Maudü karya Al-Allamah Ali Al-Qari, halaman 120.

Ada yang meriwayatkan ungkapan tersebut dengan redaksi; “Ilmu telah terputus di antara paha para wanita.” Ini menunjukkan bahwa banyak ulama yang diberhentikan oleh ikatan pernikahan Kemudian yang berjalan adalah kesenangan, tanggung jawab, serta kesibukan mengurus anak-anak dan semacamnya. Hal itu memalingkan mereka dari mengikuti ilmu. lImu mereka lantas bersembunyi dan mengabur.

Tidak diragukan bahwa pernikahan adalah pengekang yang membebani dalam persoalan tanggung jawab materiil dan non- materiil, dan dengan tikungan-tikungan yang menyebabkan berpaling dari ilmu, baik dalam waktu tertentu atau bahkan selamanya. Sebagaimana hal tersebut sudah maklum di kalangan ahli ilmu yang menikah dan tetap mengikuti ilmu, juga (maklum) di kalangan pasangan suami-istri yang terpalingkan dari ilmu dan dijauhkan dari ilmu.

Nukilan yang luar biasa tentang belenggu pernikahan ialah apa yang diceritakan oleh Al-Imam Taqiyuddin As-Subki dalam karyanya, Tartību Tsiqātil ‘Ijli mengenai biografi salah seorang  Imam Besar Hadis, Ma’mar bin Rasyid Al-Basri yang berkelana dari satu negara ke negara lain untuk menyebarkan hadis nabi, hingga ada hadis yang bukan darinya dinisbatkan padanya.

Ketika Ma’mar tiba di Yaman, penduduk setempat merasa senang jika dia tetap bersama mereka, agar masyarakat bisa mendapatkan ilmu dan keutamaannya. Kemudian penduduk setempat mencarikan belenggu yang dapat menghentikan Ma’mar agar mereka tidak ditinggalkan.

Belenggu itu adalah menikahkan Ma’mar dengan perempuan dari kalangan mereka. Wanita inilah yang menjadi belenggu dan penahan dari perjalanan selanjutnya untuk pulang ke negara asalnya. Ma’mar meneruskan hidup bersama mereka hingga akhir hayat.

Al-Ijli menuturkan mengenai biografi Ma’mar; “Ma ‘mar bin Rasyid, dijuluki Abu Urwah, dari Basrah yang menetap di San’a Yaman. Dia menikah di sana. Ma’mar adalah ulama yang tsiqah dan saleh. Dia sosok yang cerdas. Muridnya adalah Ibnul Mubarak dan Sufyan At-Tsauri yang pergi belajar kepadanya di San’a.”

Ketika Ma’mar masuk ke San’a, penduduk setempat enggan untuk ia keluar meninggalkan mereka. Salah seorang lelaki berkata kepada mereka, “Kekanglah dia, nikahkan dia.”

Kemudian Ma’mar bermukim bersama mereka hingga meninggal tahun 153. Semoga Allah SWT merahmatinya.

Ungkapan manis yang ditujukan untuk pernikahan sebagai belenggu dan tanggunghawab yang membebani dari untaian sebagian orang-orang bijak:

Sesungguhya serigala-serigala telah menangkapmya dan mereka membantah akan menyiksanya

Seorang syaikh berkata, “Nikahkan dia dan biarkan dia dalam azabnya”.

Tidak diragukan lagi bahwa permikahan yang terkait dengannya, yang berkembang darinya, dan yang diakibatkan olehnya- adalah belenggu. la memiliki banyak tanggung jawab dan mengambil banyak sisi kehidupan seseorang, baik materiil maupun non-materiil.

Proses keilmuan juga banyak terputus oleh pernikahan, dan bahkan memutuskan dari ilmu itu sendiri. Sebagaimana yang telah disaksikan oleh para ulama yang cerdas. Oleh karenanya, sebagian dari mereka memilih hidup jomblo.*/Abdul Fattah Abul Ghaddah, Para Ulama Jomblo: Kisah Cendekiawan Muslim yang Memilih Membujang, terjemah (Al-‘Ulama’ Al-“Uzzab Allahdzina Atsaru Al-‘Ilma ‘Ala Az-Zawaj)

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:godaan wanitaulamaulama dan wanitaulama jomblo
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Partai Komunis China akan Gelar Kongres, Xi Jinping Incar Nambah Masa Jabatan Tiga Periode
Tulisan selanjutnya Jaringan Muslim Madani Kritik Pengajuan Utang Luar Negeri BNPT

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

HikmahKajian

100 Dinar yang Berputar: Spirit Berbagi Salaf Saleh di Hari Raya

28 Maret 2026 10:00
Hikmah

Kisah Jenaka Hari Raya (6) : Adab di Atas Ilmu

26 Maret 2026 13:00
HikmahKajian

Kisah Jenaka Hari Raya (5) : Senjata Makan Tuan

25 Maret 2026 10:13
HikmahKajian

Kisah Jenaka Hari Raya (4) : Lebaran, Menjilat Sultan, dan Urusan Kavling Surga

24 Maret 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?