Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Cicipilah Manisnya Iman, agar Lahir Keteladanan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Februari 2014 09:37 9:37 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Februari 2014 09:37
Bagikan
Ketika modal keteladananhilang pada diri seorang pendakwah, mudah ditebak, orang lain hanya tersenyum sinis tanpa mau menggubris ajakan
Bagikan

TIGA tahun adalah masa yang cukup bagi kaum Quraisy merasakan dahsyatnya dakwah Islam yang diperagakan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Meski dilakoni secara sembunyi-sembunyi, tapi orang-orang musyrik Makkah sangat merasakan dampak ajaran baru itu. Ketangguhan jiwa para sahabat yang memeluk syariat Islam sontak menjadi buah bibir penduduk Makkah.

Alhasil, pada bulan Rajab tahun keempat, para tokoh Quraisy sepakat menggelar rapat khusus di rumah al-Walid bin al-Mughirah. Seluruh pembesar kota Makkah hadir. Sejumlah tokoh tersebut tak lagi mampu menutup mata. Mereka hendak merundingkan cara menahan laju dakwah Nabi yang kian hari terus bergulir.

Seorang di antara mereka mengusulkan, “Bagaimana kalau kita sepakat menyebut Muhammad sebagai  kahin (tukang ramal)?” Rupanya tak butuh waktu lama hingga usulan itu tertolak oleh peserta rapat.

”Gelar itu tidak pas, sebab kita semua tahu seperti apa seorang tukang ramal, dan tak ada tanda-tanda kalau Muhammad seperti itu,” demikian jawabnya.

Muncul usulan kedua.  “Bagaimana kalau kita menggelari Muhammad sebagai sahir (tukang sihir)?” Dengan sihirnya, Muhammad dianggap menceraikan istri dari suaminya sebagaimana ia sanggup memisahkan anak dari orangtuanya. Namun ide ini langsung ditampik oleh yang lain. Bagi mereka, Muhammad bukanlah seperti orang yang didakwakan.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Demikianlah seterusnya,  ragam usulan berikutnya bermunculan di tengah musyawarah terbatas ketika itu, “Atau kita cap dia sebagai majnun (orang gila)?”

“Atau kita sampaikan ke masyarakat jika Muhammad seorang sya’ir (penyair)?”

Usaha mereka benar-benar buntu. Acap kali ada usulan, saat itu pula langsung tertolak. Sebab memang tidak ada yang sesuai dengan perilaku Rasulullah.

Sikap Keteladanan

Kisah di atas menoreh pelajaran berharga. Tampak jelas betapa tak seorangpun mampu mengingkari keagungan sosok Rasulullah Muhammad.

Pesona akhlaknya begitu terang menyinari siapa saja yang ada di sekitarnya. Kejujuran Nabi menjadi buah bibir yang ramai dibicarakan di mana-mana. Tak heran, musuh-musuh Islam-pun tak kuasa menolak keteladanan tersebut.

Dengan polos Abu Lahab mengakui hal itu: Sesungguhnya kami tidak pernah mendustakanmu, tetapi kami hanya mendustakan apa yang kamu bawa. Perihal “kejujuran” Abu Lahab itu lalu diakomodir oleh Allah Ta’ala sebagai penghibur hati Rasulullah;

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللّهِ يَجْحَدُونَ

“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Surah al-An’am [6]: 33).

Dalam kondisi apapun, keteladanan jadi syarat mutlak seorang pemimpin. Dengan modal keteladanan, masyarakat senang hati mengikuti arahan sang pemimpin. Tak ada lagi desas-desus keraguan, sebab apa yang disampaikan juga telah dikerjakan sebelumnya. Lebih jauh, keteladanan yang tulus mampu meluruhkan hati yang keras menjadi lunak. Bukan dengan obralan kata namun semata dengan akhlak yang mulia.

Modal berdakwah

Pesan yang datang dari hati niscaya jatuh ke hati pula. Kira-kira seperti itu gambaran peran keteladanan tersebut. Tinta sejarah mencatat, tak sedikit dakwah Nabi berhasil bukan dengan olahan kata atau hasil ceramah yang apik. Para sahabat justru berbondong-bondong masuk Islam setelah terpukau menyaksikan akhlak mulia yang melekat pada diri Rasulullah.

Bagi seorang Muslim, teladan adalah buah manis dari iman yang produktif. Ia hadir dari rasa takut kepada Allah akan amanah yang dipikul. Terlebih jika ia seorang pengajak kebenaran. Sikap teladan niscaya lebih menggores makna dibanding hanya mengandalkan retorika kata, tanpa ada bukti yang nyata.

Sebaliknya, ketika modal ini hilang pada diri seorang pendakwah, mudah ditebak, orang lain hanya tersenyum sinis tanpa mau menggubris ajakan tersebut. Nasib yang sama jika teladan yang ditampakkan itu bersifat musiman saja. Berbuat baik hanya gara-gara kepentingan materi semata. Perilaku teladan demikian tak bakal menuai hasil yang diinginkan. Hasilnya nihil, layaknya partikel debu yang beterbangan ditiup angin. Lenyap tanpa bekas.*/Masykur  Abu Jaulah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sesat Pikir dalam Penundaan Jilbab Polwan
Tulisan selanjutnya Malaysia Lokasi Liburan Halal Terbaik di Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?