Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Tangisan Syeikh Mulla untuk Peminum Khamr

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Maret 2014 11:42 11:42 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Maret 2014 11:42
Bagikan
Syeikh al Buthy
Bagikan

SUATU ketika, tatkala Syeikh Mulla Ramadhan dan keluarganya menumpangi bus yang bertujuan ke Damaskus, mereka bertemu dengan seseorang yang berasal dari Kurdi. Lelaki itu bertanya kepada Mulla, apa yang menyebabkan beliau meninggalkan segala harta dan kampung halaman lalu hijrah ke Damaskus bersama seluruh keluarga?

Mulla Ramadhan hanya menjawab pertanyaan lelaki itu dengan singkat.

Akan tetapi si lelaki itu justru memperingatkan Mulla bahwa kehidupan di Damaskus tak semudah yang dibayangkan. Hanya orang-orang yang memiliki harta berlimpah dan punya kemampuan lebih yang mampu bertahan.

Istri Mulla sempat khawatir dengan peringatan si lelaki, bahkan mengamini kata-katanya tersebut dan memohon kepada Mulla agar mereka kembali ke kampung halaman. Namun Mulla berkata : “Bukankah Engkau telah berjanji bahwa kita tidak akan kembali walaupun kita akan mengahadapi kesulitan yang besar.”

Peringatan laki-laki tersebut sama sekali tidak menggoyahkan tekad Mulla Ramadhan untuk hijrah di jalan Allah. Beliau percaya Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang hijrah dijalanNya.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Setelah tiba di Damaskus, Mulla dan keluarga menempati satu kamar kosong di wilayah Kurdi. Benar memang seperti yang dikatakan oleh lelaki yang beliau jumpai di bus, tak ada profesi lain yang dapat membantu beliau selain menjaja kitab-kitab bekas berbahasa Kurdi ke seluruh wilayah Suriah.

Di Damaskus Mulla tidak dikenal sebagai  alim ulama, akan tetapi beliau dikenal hanya sebagai pedagang. Namun seiring berjalannya waktu, beliau berkenalan dengan beberapa ulama di lingkungan Kurdi tersebut dalam berbagai kesempatan. Ketika mereka melakukan diskusi, Mulla sering menjawab soal-soal yang diutarakan kepada beliau. Akhirnya Mulla dikenal sebagai Faqihus Syafii (orang fakih dalam madzab Syafii) pertama di lingkungan Kurdi tersebut.

Lalu sedikit demi sedikit pelajar-pelajar Kurdi pun datang kepada beliau hendak berguru, diikuti oleh beberapa pelajar-pelajar  di beberapa Ma’had  Damaskus bahkan dari berbagai wilayah Suriah, baik Kurdi maupun Arab. Ketika masih di Bhoutan beliau telah menjalani profesi sebagai guru di sekolah-sekolah Kurdi. Dan atas izin Allah beliaupun kembali menjalani profesi tersebut disamping kegiatan sehari-harinya sebagai pedagang.

Ada cuplikan kisah tentang bagaimana dakwah Mullah.

“Aku memiliki tetangga seorang lelaki yang selalu berbuat berbagai jenis dosa besar. Ia adalah peminum khamr,  berlidah tajam sekaligus suka bertindak asusila. Di antara musibah yang paling besar, lelaki itu sering menyewa pelacur lalu mengundang teman-temannya untuk menggauli pelacur tersebut, setiap malam rumahnya dipenuhi suara dendang dan nyanyian. “

Mengahadapi kondisi seperti ini Mulla pun berunding dengan beberapa penduduk yang sholat di masjid untuk menasihati lelaki itu, walaupun hasilnya nihil.

Ternyata lelaki tersebut tahu bahwa Mulla berupaya mengahalang perbuatannya. Maka suatu hari sebelum menjelang shalat Shubuh lelaki itu datang kerumah Mulla dalam kondisi mabuk dan melempar batu ke pintu rumah beliau. Bahkan setelah itu ia juga melempari jendela mesjid dengan batu ketika para jamaah sedang menunaikan shalat.

Syeikh Mulla tau benar, bahwa dalam dakwah kita tidak hanya bergantung pada keindahan bahasa, dan kehikmatan tingkah, serta berapa banyak nasehat yang mampu kita berikan, akan tetapi di sana ada bagian lain yang sering dilupakan oleh kebanyakan para pendakwah hari ini. Bagian itu adalah doa.

Setelah berdakwah dengan lisan, seorang dai dituntut untuk menyerahkan hasil dakwahnya kepada Allah, agar Allah memberikan hidayah kepada orang tersebut. Karena sesungguhnya hidayah itu hanya ada disisi Allah.

Melihat hasil dakwahnya tidak membawa hasil, Syeikh Mulla pun bertwajjuh kepada Allah di waktu sahur dan memohon agar Allah memberi hidayah kepada lelaki itu.

Mulla berkata; “Entah berapa kali aku menangis dalam sujud memohon agar Allah memberi hidayah untuk lelaki itu.”

Selang beberapa hari kemudian, tiba-tiba lelaki tersebut mulai mengeluarkan pelacur-pelacur yang pernah disewa dari rumahnya, dan setelah itu ia berhenti minum khamar. Bahkan Mulla pernah bertemu dengannya di dalam masjid dan ia mencoba mencium tangan Mulla.

Ketika Mulla melaksanakan ibadah haji, beliau berwasiat agar tidak menghiasi rumah untuk menyambut beliau ketika pulang.

Namun setelah terdengar kabar bahwa Mulla hampir tiba dari ibadah haji, si lelaki itu justru menghiasi rumah Mulla dengan hiasan yang spesial. Walaupun keluarga Mulla sudah melarangnya namun ia tetap bersikeras. Dan ia meletakkan karpet merah di depan rumah untuk menyambut kepulangan Mulla. Dan ketika Mulla kembali, keluarga beliau langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mulla pun berdoa dan memuji Allah.

Seorang lelaki yang dulunya bergelimpangan maksiat dan benci kepada beliau kini menjadi orang yang sangat menghormati Mulla setelah beliau mendakwahi si lelaki dan memohon kepada Allah untuk menghidayahi lelaki itu.

Bahkan daerah yang dulunya terjangkit kebodohan dan maksiat itu semakin lama semakin berubah. Penduduk yang shalat di masjid semakin ramai bahkan selain menjadi tempat ibadah mesjid itu juga menjadi tempat menimba ilmu agama. Dan sekarang masjid itu dinamai Masjid Al-Rifai.*/Rizki Syahputra, diambil dari “Kitab Hadza Walidi” (inilah Ayahku) tulisan Syeikh Al-syahid Muhammad Said Ramadhan Al-bhouthi, di kmamesir.org

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:damaskus
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Lepas Seragam Militer, Al-Sisi Maju sebagai Calon Presiden Mesir
Tulisan selanjutnya Tidak Sekeras Uganda, Homoseksual di Kenya Disamakan dengan Terorisme

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?