SUATU ketika, tatkala Syeikh Mulla Ramadhan dan keluarganya menumpangi bus yang bertujuan ke Damaskus, mereka bertemu dengan seseorang yang berasal dari Kurdi. Lelaki itu bertanya kepada Mulla, apa yang menyebabkan beliau meninggalkan segala harta dan kampung halaman lalu hijrah ke Damaskus bersama seluruh keluarga?
Mulla Ramadhan hanya menjawab pertanyaan lelaki itu dengan singkat.
Akan tetapi si lelaki itu justru memperingatkan Mulla bahwa kehidupan di Damaskus tak semudah yang dibayangkan. Hanya orang-orang yang memiliki harta berlimpah dan punya kemampuan lebih yang mampu bertahan.
Istri Mulla sempat khawatir dengan peringatan si lelaki, bahkan mengamini kata-katanya tersebut dan memohon kepada Mulla agar mereka kembali ke kampung halaman. Namun Mulla berkata : “Bukankah Engkau telah berjanji bahwa kita tidak akan kembali walaupun kita akan mengahadapi kesulitan yang besar.”
Peringatan laki-laki tersebut sama sekali tidak menggoyahkan tekad Mulla Ramadhan untuk hijrah di jalan Allah. Beliau percaya Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang hijrah dijalanNya.
Setelah tiba di Damaskus, Mulla dan keluarga menempati satu kamar kosong di wilayah Kurdi. Benar memang seperti yang dikatakan oleh lelaki yang beliau jumpai di bus, tak ada profesi lain yang dapat membantu beliau selain menjaja kitab-kitab bekas berbahasa Kurdi ke seluruh wilayah Suriah.
Di Damaskus Mulla tidak dikenal sebagai alim ulama, akan tetapi beliau dikenal hanya sebagai pedagang. Namun seiring berjalannya waktu, beliau berkenalan dengan beberapa ulama di lingkungan Kurdi tersebut dalam berbagai kesempatan. Ketika mereka melakukan diskusi, Mulla sering menjawab soal-soal yang diutarakan kepada beliau. Akhirnya Mulla dikenal sebagai Faqihus Syafii (orang fakih dalam madzab Syafii) pertama di lingkungan Kurdi tersebut.
Lalu sedikit demi sedikit pelajar-pelajar Kurdi pun datang kepada beliau hendak berguru, diikuti oleh beberapa pelajar-pelajar di beberapa Ma’had Damaskus bahkan dari berbagai wilayah Suriah, baik Kurdi maupun Arab. Ketika masih di Bhoutan beliau telah menjalani profesi sebagai guru di sekolah-sekolah Kurdi. Dan atas izin Allah beliaupun kembali menjalani profesi tersebut disamping kegiatan sehari-harinya sebagai pedagang.
Ada cuplikan kisah tentang bagaimana dakwah Mullah.
“Aku memiliki tetangga seorang lelaki yang selalu berbuat berbagai jenis dosa besar. Ia adalah peminum khamr, berlidah tajam sekaligus suka bertindak asusila. Di antara musibah yang paling besar, lelaki itu sering menyewa pelacur lalu mengundang teman-temannya untuk menggauli pelacur tersebut, setiap malam rumahnya dipenuhi suara dendang dan nyanyian. “
Mengahadapi kondisi seperti ini Mulla pun berunding dengan beberapa penduduk yang sholat di masjid untuk menasihati lelaki itu, walaupun hasilnya nihil.
Ternyata lelaki tersebut tahu bahwa Mulla berupaya mengahalang perbuatannya. Maka suatu hari sebelum menjelang shalat Shubuh lelaki itu datang kerumah Mulla dalam kondisi mabuk dan melempar batu ke pintu rumah beliau. Bahkan setelah itu ia juga melempari jendela mesjid dengan batu ketika para jamaah sedang menunaikan shalat.
Syeikh Mulla tau benar, bahwa dalam dakwah kita tidak hanya bergantung pada keindahan bahasa, dan kehikmatan tingkah, serta berapa banyak nasehat yang mampu kita berikan, akan tetapi di sana ada bagian lain yang sering dilupakan oleh kebanyakan para pendakwah hari ini. Bagian itu adalah doa.
Setelah berdakwah dengan lisan, seorang dai dituntut untuk menyerahkan hasil dakwahnya kepada Allah, agar Allah memberikan hidayah kepada orang tersebut. Karena sesungguhnya hidayah itu hanya ada disisi Allah.
Melihat hasil dakwahnya tidak membawa hasil, Syeikh Mulla pun bertwajjuh kepada Allah di waktu sahur dan memohon agar Allah memberi hidayah kepada lelaki itu.
Mulla berkata; “Entah berapa kali aku menangis dalam sujud memohon agar Allah memberi hidayah untuk lelaki itu.”
Selang beberapa hari kemudian, tiba-tiba lelaki tersebut mulai mengeluarkan pelacur-pelacur yang pernah disewa dari rumahnya, dan setelah itu ia berhenti minum khamar. Bahkan Mulla pernah bertemu dengannya di dalam masjid dan ia mencoba mencium tangan Mulla.
Ketika Mulla melaksanakan ibadah haji, beliau berwasiat agar tidak menghiasi rumah untuk menyambut beliau ketika pulang.
Namun setelah terdengar kabar bahwa Mulla hampir tiba dari ibadah haji, si lelaki itu justru menghiasi rumah Mulla dengan hiasan yang spesial. Walaupun keluarga Mulla sudah melarangnya namun ia tetap bersikeras. Dan ia meletakkan karpet merah di depan rumah untuk menyambut kepulangan Mulla. Dan ketika Mulla kembali, keluarga beliau langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mulla pun berdoa dan memuji Allah.
Seorang lelaki yang dulunya bergelimpangan maksiat dan benci kepada beliau kini menjadi orang yang sangat menghormati Mulla setelah beliau mendakwahi si lelaki dan memohon kepada Allah untuk menghidayahi lelaki itu.
Bahkan daerah yang dulunya terjangkit kebodohan dan maksiat itu semakin lama semakin berubah. Penduduk yang shalat di masjid semakin ramai bahkan selain menjadi tempat ibadah mesjid itu juga menjadi tempat menimba ilmu agama. Dan sekarang masjid itu dinamai Masjid Al-Rifai.*/Rizki Syahputra, diambil dari “Kitab Hadza Walidi” (inilah Ayahku) tulisan Syeikh Al-syahid Muhammad Said Ramadhan Al-bhouthi, di kmamesir.org