Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Qiyam Al-Lail (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Agustus 2015 11:19 11:19 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Agustus 2015 11:19
Bagikan
Bagikan

`ABDUL Aziz ibnu Abi Dawud menghampiri kasur, kemudian ia meletakkan tangannya di atas kasur itu, dan berkata, “Betapa empuknya kamu, tapi kasur surga lebih empuk darimu.” Kemudian ia bangkit melaksanakan shalat, terus menerus shalat sampai fajar.

Fudhail ibnu `Iyadh berkata, “Sungguh, aku sedang melaksanakan qiyam al-lail, kemudian fajar terbit, dan hatiku pun gemetar. Lalu aku berkata, ‘Siang telah datang membawa berbagai petaka.’”

Bisyir al-Hafi, Abu Hanifah, Yazid al-Raqasyi, Malik ibnu Dinar, Sufyan ats-Tsauri, dan Ibrahim ibnu Adham senantiasa melaksanakan qiyam al-lail setiap hari, sampai akhir hayat mereka. Suatu saat, Bisyir al-Hafi ditanya, “Tak pernahkah engkau istirahat di waktu malam, sekejap saja?” Bisyir menjawab, “Sungguh, Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam telah bangkit (untuk qiyam al-lail) sampai kedua kakinya bengkak dan mengalirkan darah, padahal Allah Ta`ala telah mengampuni –kalaupun ada– dosanya, baik yang telah berlalu maupun yang akan datang. Bagaimana aku bisa tidur, sementara aku sama sekali tidak tahu apakah Allah telah mengampuni satu saja dari dosaku.”

Hasan al-Bashri r.a. berkata, “Tak seorang pun di antara kalian meninggalkan qiyam al-lail, melainkan karena dosa yang telah diperbuatnya. Setiap malam, diri kalian menghilang saat matahari mulai tenggelam. Bertobatlah kepada Tuhan kalian, agar kalian bisa melaksanakan qiyam al-lail.” Seringkali al-Bashri berkata, “Qiyam al-lail akan terasa berat bagi orang yang banyak menanggung beban kesalahan.”

Shillah ibnu Asyim r.a. selalu memancangkan kakinya untuk shalat sejak waktu Isya sampai Subuh. Dan seusai shalat ia akan berkata, “Ya Rabb, seretlah aku dari neraka, karena orang sepertiku tak layak memohon surga.”

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

‘Utbah al-Gulam, jika selesai berwudhu, sebelum beranjak untuk shalat ia akan berkata, “Ya Allah, Sungguh diriku telah melakukan berbagai maksiat dan keburukan yang tak sanggup kutanggung, sehingga aku layak mendapat hina, noda, dan masuk neraka. Dan inilah aku yang ingin bersimpuh di hadapan-Mu, di balik semua penentang yang ada di muka bumi ini. Aku memohoh agar Engkau mengampuni salah seorang di antara mereka, sehingga aku pun mendapat percikan ampunan itu.”

Al-Hasan ibnu Shalih senantiasa melaksanakan qiyam al-lail bersama budak perempuannya. Suatu hari, ia menjual budak perempuannya itu kepada suatu kaum. Saat tiba waktu Isya, budak perempuan ini mulai shalat, dan terus menerus shalat sampai fajar menyingsing. Budak itu berkata kepada penghuni rumah, “Wahai penghuni rumah, semua waktu akan berlalu dari malam. Bangkitlah dan shalatlah kalian wahai penghuni rumah.” Penghuni rumah berkata kepada budak itu, “Kami tidak bangun sampai fajar.”

Kemudian sang budak mendatangi al-Hasan ibnu Shalih, dan berkata, “Engkau telah menjualku kepada orang-orang yang selalu tidur sepanjang malam. Dan aku takut menjadi malas karena menyaksikan tidur mereka.” Setelah itu al-Hasan pun membelinya kembali, karena rasa sayang kepadanya dan untuk memenuhi haknya.

Setiap malam, Rabi`ah al-Adawiyah berwudhu dan memakai wewangian, lalu berkata kepada suaminya, “Apakah Engkau membutuhkanku malam ini?” Jika suaminya mengatakan tidak, maka ia pun akan bangkit untuk shalat sampai subuh. Dan di awal malamnya itu ia akan berkata, “Tuhanku, mata orang-orang telah terlelap, bintang-bintang tenggelam, dan kerajaan dunia pun telah mengunci pintu-pintunya. Tapi pintu-Mu tak pernah ditutup, maka ampunilah dosaku.” Setelah itu ia merentang kedua kakinya untuk shalat, dan berkata, “Demi Keagungan dan Keperkasaan-Mu, inilah tempatku di hadapan-Mu sampai pagi selama aku hidup.”

Al-Mugirah ibnu Habib berkata, “Suatu malam, kedua mataku menatap Malik ibnu Dinar, saat itu ia telah berdiri tegak di hadapan Allah Ta`ala sejak waktu Isya sambil menggenggam janggutnya. Ia terus menangis dan berkata, `Ya Rabb, kasihilah Malik yang telah beruban ini, sehingga bisa shalat sampai terbit fajar.’”

Ia juga berkata, “Selama satu bulan aku memperhatikan `Abdul Wahid ibnu Zaid. Aku tidak pernah melihatnya tidur, walau hanya sebentar. Dan ia berkata kepada penghuni rumah, ‘Wahai penghuni rumah, setiap detik terus berlalu dari malam ini. Waspadalah kalian di rumah yang kalian tiduri ini, sebentar lagi rayap akan memangsa kalian.”

Shahib al-`Abid adalah budak milik seorang perempuan di Bashrah, ia selalu beribadah sepanjang malam. Suatu hari, sang majikan berkata kepadanya, “Sungguh, ibadahmu sepanjang malam akan mengganggu pelayananmu (padaku) saat siang.” Shahib berkata kepadanya, “Apa yang akan kulakukan? Setiap kali aku teringat neraka Jahannam, rasa kantukku terbang.”

Azhar ibnu Mugits r.a. berkata, “Suatu malam, aku melihat perempuan paling cantik yang belum pernah kusaksikan, ia bermata indah, maka aku pun berkata kepadanya, `Siapa engkau?’ Ia menjawab, `Aku diperuntukkan bagi orang yang selalu bangun di malam-malam musim dingin.”

Suatu malam, Ibrahim ibnu Adham tertidur di Bait al-Muqaddas. Tiba-tiba ia mendengar suara dari arah gurun berkata, “Qiyam al-lail akan memadamkan nyala neraka dan mengokohkan kaki di atas shirath. Maka, jangan kau remehkan qiyam al-lail.” Sejak saat itu, Ibrahim ibnu Adham tidak pernah lagi meninggalkan qiyam al-lail, sampai saat ia meninggal.*

Dari buku Terapi Ruhani karya Syaikh ‘Abdul Wahhab Asy-Sya’ani.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:qiyam al-lailtahajud
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Qiyam Al-Lail (1)
Tulisan selanjutnya Dukung LGBT, Obama Pekerjakan Waria di Gedung Putih

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?