Pagi itu sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku. “Dapat musibah nih, sendal mas ada yang bawa pergi (hilang),”
Aku tersenyum membaca SMS itu. Terbayang suamiku keluar dari sebuah masjid besar di Jakarta tanpa beralas kaki.
Saat itu suamiku mengikuti tabligh akbar yang kabarnya menghadirkan tokoh internasional di masjid tersebut.
“Tidak apa mas, yang penting bukan iman mas yang hilang,” jawabku memberi semangat.
Entah kenapa, ingatanku tiba-tiba melayang ke beberapa orang yang pernah kudapati mengeluh dengan kesahnya.
Ada yang merasa kehilangan harta yang dipunyai dan tak sedikit yang mengeluh sebab harta dianggap kurang dan tidak cukup.
Biasanya mereka yang merasa kehilangan atau kekurangan harta menjadi gundah, depresi, seolah hidup merekalah yang paling sulit.
“Ah, hidup zaman sekarang, ekonominya serba sulit. Nggak bisa apa-apa jadinya,” demikian di antara keluhan tersebut.
***
Kebahagiaan itu tidak dapat diukur dengan harta. Ungkapan ini populer dan sering terdengar di masyarakat.
Tapi kenyataannya terkadang tidak seperti itu. Tanpa disadari, seorang Muslim masih juga mengeluh karena kekurangan harta benda.
Hingga ia tampak lupa bersyukur atas apa yang masih dimiliki. Kesehatan, hidup rukun, berkumpul dengan keluarga di waktu luang, memiliki anak-anak yang cerdas, shaleh, dan shalehah, dan masih banyak lagi kenikmatan yang terlupa.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Saw) bersabda:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ
“Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278).
Sayangnya, tak banyak dijumpai orang yang mengeluh jika imannya melemah atau menghilang. Padahal iman adalah salah satu parameter untuk mengetahui, apakah Allah mencintai kita atau tidak.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu (Ra) berkata:
إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.”(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod 279).
Iman dan hidayah yang terdapat dalam diri tentunya patut disyukuri. Sebab ia adalah perkara mahal yang tak bisa ditukar dengan benda apapun.
Iman adalah pemberian mutlak dari Allah yang tak bisa diklaim begitu saja.
Allah berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3).
Berikut ini beberapa ciri-ciri orang beriman, seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah:
-Bertambahnya iman ketika dibacakan Al-Qur’an
Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal [8]: 2).
Takut atas Dosa
“Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka lalat itu terbang.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2497)
Menangis karena Allah
فَأَثَابَهُمُ اللّهُ بِمَا قَالُواْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاء الْمُحْسِنِينَ
“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri). seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad).” (QS. Al-Maidah [5]: 83).
Tidak semua orang bisa memiliki keimanan dan ketakwaan. Untuk itu, mintalah agar Allah selalu memberi keimanan dan ketakwaan kepada diri kita.
Semoga Allah memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua.*/Ma’rufah Nur Annisa, ibu rumah tangga di Samarinda