Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Akhlak Umar dalam Toleransi Beragama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Maret 2018 13:14 1:14 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Maret 2018 13:14
Bagikan
Umar Bin Khattab di Gereja Holy Sepulchre
Bagikan

UMAR bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah di antara sekian banyak contoh pemimpin muslim agung yang memiliki akhlak luhur dalam toleransi beragama. Berikut ini, akan disajikan tiga contoh riil bagaimana sahabat yang dijuluki Al-Faruq ini mampu menunjukkan secara baik di mata peradaban dunia, bagaimana nilai Islam mengenai toleransi beragama bisa dirasakan langsung oleh umat beragama lain.

Pertama, ketika Umar memasuki kawasan Baitul Maqdis, Palestina, beliau sempat masuk ke Gereja Al-Qiyamah/Kanisat al Qiyamah (Holy Sepulchre). Di zaman modern tempat ini adalah daerah konflik yang paling menegangkan di dunia. Bahkan sempat duduk di halamannya. Pada saat yang bersamaan, tibalah waktu shalat.  Umar pun berkata, “Aku hendak melaksanakan shalat.” Uskup Agung (Yerusalem Sophronius) pun menawarkan kepadanya untuk mendirikan shalat di Gereja ini, namun tawaran tersebut ditolak agar tak muncul anggapan bahwa gereja tersebut milik Muslim sehingga kelak bisa menimbulkan klaim dan membangun masjid secara paksa (Khudhari, 1982: 102).

Kedua, dalam sejarah, Umar bukan saja melayani keluhan orang-orang Islam. Orang Yahudi dan Nashrani pun diakomodasi segenap keluhannya.

Suatu hari, Walid bin ‘Uqbah menjadi gubernur atas Bani Taghlib yang mayoritas Kristen.  Umar mendapat keluhan mereka tentang Walid, karena khawatir akan menimpakan keburukan kepada mereka, akhirnya Walid bin ‘Uqbah diganti dengan gubernur lainnya. (Umar, 2006: 31) Bila toleransi beliau tidak tinggi, tidak mungkin menerima keluhan-keluhan dari pemeluk agama lain.

Ketiga,  dalam buku “Al-Kharrâj” (136) karya Abu Yusuf diceritaan bahwa suatu hari Umar pernah melewati pintu suatu kaum. Di sana ia mendapati seorang pengemis yang telah tua dan rabun pandangannya. Umar lalu menepuk pundaknya dari belakang seraya bertanya: “Dari kalangan ahli kitab mana engkau ini?” Ia menjawab: “Yahudi.” Umar bertanya lagi: “Apa yang mendorongmu melakukan seperti apa yang aku saksikan?” Ia menjawab: “Aku mencari jizyah, keperluan, dan jalan.”

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Baca: Toleransi Umar

Kemudian Umar mengambil tangannya dan membawa ke rumahnya, serta diberi sesuatu yang ada di rumahnya. Selanjutnya ia membawa pengernis Yahudi tua itu kepada penanggung jawab baitul mal dan herkata: “Lihat orang tua ini bersama orang-orang seperti dia. Demi Allah, kita telah berbuat tidak adil bila kita memakan masa mudanya lalu menyia-nyiakannya sesudah ia menjadi tua. Sungguh sedekah itu untuk orang-orang fakir dan miskin. Kakek ini adalah salah satu dari orang-orang miskin ahli kitab.” Kemudian Umar memhehaskannya bersama orang orang seperti dia dan beban jizyah.

Di sini terlihat jelas bagaimana akhlak Umar terhadap pemeluk agama lain begitu luar biasa. Bahkan, jauh sebelum Hak Asasi Manusia (HAM) dicetuskan, beliau sudah menjadi teladan yang baik dalam bidang toleransi.

Akhlak luhur ini diteruskan oleh generasi-generasi selanjutnya. Pada tanggal 2 Oktober 1187 misalnya, saat Baitul Maqdis bisa direbut kembali oleh Shalahuddin beserta  bala tentaranya, menurut catatan Karen Amstrong dalam “Perang Suci” (2003: 409), Shalahuddin tidak tidak membalas dendam atas pembantaian tahun 1099 (yang mana umat Islam kala itu dibantai dengan sangat keji oleh tentara Salib) dan setelah permusuhan itu hilang, beliau mengakhiri pembunuhan.

Penduduk negeri Himsh pun merasakan betapa nyamannya berada dalam wilayah yang dikuasai oleh umat Islam karena memang penuh dengan toleransi tinggi. Dalam buku “Futûh al-Buldân” (Baladzuri, 1988: 139) mereka secara jujur memuji pemerintahan Islam:

لولايتكم وعدلكم أحب إلينا مما كنا فيه منَ الظلم والغشم ولندفعن جند هرقل عن المدينة مع عملكم

“Kepemimpinan dan keadilan kalian lebih kami cintai daripada kelaliman mereka (Romawi). Kami akan membantu kalian mendhadapi pasukan Herakliul dan melindungi kota bersama kalian.”

Baca: Kebenaran di Lidah dan di Hati Umar

Saat muslim berkuasa di Andalusia (Spanyol), selama 500 tahun di bawah kekuasaan umat Islam, maka Spanyol yang saat itu terdiri dari tiga agama (Islam, Kristen, dan Yahudi) hidup dengan damai. (Tasmara, 2000: XIV) Ini menjadi bukti bahwa umat Islam dalam hal toleransi tidak perlu diragukan lagi.

Di Nusantara pun, ada contoh toleransi menarik.  Cara dakwah yang penuh toleransi dari Sunan Kudus ini bisah dijadikan contoh. Dengan gaya dakwah yang persuasif, beliau menganjurkan para pengikutnya supaya tidak menyembelih sapi yang amat dimuliakan umat Hindu di daerah Kudus saat itu. Sampai sekarang pun penduduk kota Kudus yang mayoritas kaum muslimin menyembelih kerbau (Abdul Baqir, 1999: 229). Tidak mengherankan jika akhlak luhur dalam toleransi dakwah salah satu Wali Songo ini mampu menarik hati umat agama lain.

Apa yang dicontohkan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dan pemimpin-pemimpin muslim lainnya dalam sejarah perlu diteladani. Bukan hanya bagi umat Islam secara khusus, tapi juga umat lain secara umum. Masalahnya, siapkah pemeluk agama-agama lain bertoleransi sebagaimana umat Islam, saat mereka menjadi mayoritas di wilayahnya?

Penuntutan pembongkaran menara Masjid Al-Aqsha Sentani, Jayapura (17/03/2018) oleh Persekutuan Gereja-gereja Kabupaten Jayapura (PGGKJ) yang diberi waktu hingga 31 Maret 2018, cukup meragukan sikap toleransi beragama bisa dibina di negeri ini.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akhlakAl-FaruqBaitul MaqdisHoly SepulchrejayapuraMasjid Al-Aqsha SentaniMasjidil AqshaPerang SalibPersekutuan GerejaPGGKJSophroniustoleransi beragamaUmarUmar Bin KhattabUskup Agung
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pesawat Tempur Jatuhkan Bom di Idlib, 1 Warga Terbunuh
Tulisan selanjutnya Lemahnya Peran Dunia Arab atas Palestina Disayangkan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Berita
18 Juli 2026 09:30
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?