Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Indahnya Persatuan dan Tercelanya Perpecahan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Juli 2018 13:36 1:36 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Juli 2018 13:36
Bagikan
[Dari kiri ke kanan] Ustadz Abdullah Sholeh Hadrami, Ustadz Fadlan Garamatan, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Bachtiar Nasir, dan Ustadz Felix Siauw, menyatukan tangan mereka menandakan persatuan umat, di sela-sela acara Multaqo Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, Eropa V, di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Jumat (06/07/2018).
Bagikan

DALAM Pertemuan Ulama dan Dai Asia Tenggara, Afrika dan Eropa ke-V (3-6 Juli 2018), ada satu buku menarik yang dibagikan secara gratis untuk setiap peserta. Judulnya: “Risâlah fî al-Hatstsi ‘ala Jam’i Kalimah al-Muslimîn wa Dzammu al-Tafarruq wa al-Ikhtilâf” karya Syeikh Abdurrahman bin Nashir bin Sa’di. Yang memiliki subtansi pesan penting terkait indahnya persatuan dan tercelanya perpecahan dan perbedaan (yang merenggut persatuan).

Risalah kecil ini sesuai dengan judul besar Pertemuan Tahunan antar ulama dan dai ini yang mengangkat tema “Wa’tashimû” yang mengandung pesan perintah untuk berpegang teguh pada “tali Allah” dan larangan berpecah belah antar sesama umat Islam. Ini terinspirasi dari Surah Ali Imran [3], ayat 103. Sebuah judul brilian di tengah kondisi umat yang rawan terpecah belah di tengah perbedaan yang acap kali merenggut persatuan.

Poin-poin besar yang dibahas dalam buku ini adalah: Pertama, berpegang teguh pada tali Allah adalah termasuk pesan besar yang diperintahkan Allah. Kedua, nasihat persatuan dan peringatan atas bahaya perpecahan untuk orang Islam. Ketiga, contoh konkret nabi dalam sirah nabawiyah terkait hal ini. Keempat, bahaya perpecahan. Kelima, faedah persatuan umat Islam serta usaha untuk mewujudkannya. Keenam, tak menjadikan perpecahan dalam masalah keagamaan sebagai pemicu perpecahan.

Perintah berpegang teguh dan persatuan ini tercermin di antaranya dalam Surah Ali Imran [3], ayat 103 dan 104. Setelah Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa dan mati dalam keadaan Islam, pesan yang disampaikan berikutnya adalah berpegang teguh kepada Allah dan larangan perpecahan. Nabi pun dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, melarang dengan keras perpecahan ini;

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم – لا تحاسدوا ، و لا تناجشوا ، و لا تباغضوا و لا تدابروا ، و لا يبع بعضكم على بيع بعض ، و كونوا عباد الله إخوانا ، السلم أخو المسلم لا يظلمه و لا يخذله ، و لا يكذبه و لا يحقره ، التقوى ها هنا – و يشير إلى صدره ثلاث مرات – بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم كل المسلم على المسلم حرام دمه و ماله و عرضه – رواه مسلم

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu saling dengki mendengki, tipu menipu, benci membenci, belakang membelakangi antara satu sama lain. Janganlah sebahagian kamu menjual barangan atas jualan orang lain. Hendaklah kamu menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi seorang muslim; dia tidak boleh menzaliminya, membiarkannya (dalam kehinaan), membohonginya.” [HR: Muslim]

Baca: Damaikan Pertikaian Antara Saudara Muslim mu 

Sehubungan dengan itu, maka pesan dan nasihat paling besar yang ditujukan pada umat Islam adalah selalu berusaha sekuat tenaga untuk menyatukan hati umat, berkumpul dengan mereka dan menanggulangi perpecahan umat. Dalam hadits shahih riwayat Bukhari, pesan nabi kepada kaum Anshar penting untuk dicermati, “Wahai sekalian kaum Anshar! Bukankan aku dapati kalian dalam keadaan sesat lalu Allah berikan kalian hidayah dengan sebab aku? Dahulu kalian berpecah belah lalu Allah menyatukan hati kalian dengan sebab aku ?” Pesan ini disampaikan pasca Perang Hunain, yang hampir menyulut perpecahan akibat pembagian harta rampasan perang. Di sini, terlihat jelas betapa besarnya nikmat persatuan.

Pesan itu juga bisa terlihat jelas berdasarkan kacamata sejarah, bahwa nabi begitu menekankan persatuan ini. Ketika sebagian sahabat ada yang menyarankan beliau untuk membunuh orang-orang munafik, pesan penting yang disampaikan adalah, “Jangan sampai orang-orang berbicara bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ini menunjukkan betapa nabi sangat menjaga umat dari perpecahan.

Di samping itu, tidak membuat orang yang belum masuk Islam takut masuk ke dalamnya.

Kemudian, persatuan umat Islam mengandung manfaat yang sangat besar, di antaranya: menyatukan kekuatan agama Islam sehingga mereka mendapat kemuliaan dan amanah kekuasaan untuk mengatur dunia. Selain itu, islam dan iman akan semakin bertambah. Yang tak kalah penting, usaha untuk mewujudkannya adalah bagian dari ketaatan yang paling besar.

Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad nabi menjelaskan bahwa yang lebih besar dari derajat puasa, shalat malam dan sedekah adalah mendamaikan orang yang berselisih karena itu bisa menghancurkan agama.

Baca: Multaqo Ulama dan Dai Internasional V Hasilkan 10 Rekomendasi

Dengan demikian, usaha untuk menyatukan umat dan memperingatkan mereka dari hal-hal yang bisa menimbulkan perpecahan harus senantiasa diusahakan karena ini sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Wujudnya dengan suka memaafkan, memiliki hati yang lapang dan bersih, tidak membalas kejelakan orang dengan kejelekan dan lain sebagainya. Nabi sendiri suka memaafkan, bahkan kepada orang non-Islam sekalipun. Ketika beliau dilempari batu oleh penduduk Thaif, lalu malaikat menawarkan untuk menghancurkan mereka, nabi malah berdoa;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَومي، فَإِنَّهُمْ لا يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak tahu.” (HR. Bukhari)

Yang tidak kalah penting –sebagai pesan dari buku ini- adalah ketika terjadi perbedaan dalam masalah agama yang masuk dalam ranah ijtihad, maka jangan sampai menimbulkan perpecahan. Para sahabat, tabiin dan orang-orang sesudahnya ada perbedaan dalam masalah ijtihadi, namun itu tak membuat mereka memaksa yang tak sepaham untuk mengikutinya atau bahkan menyesatkannya.

Pesan-pesan dalam buku ini sangat relevan dan penting utamanya untuk umat Islam yang rentan terpecah akibat perbedaan-perbedaan yang tak prinsipil. Melalui buku ini dan pertemuan ulama dan dai yang mengangkat spirit persatuan, semoga kekuatan umat bisa disatukan dan umat Islam menjadi semakin kuat dan bermartabat.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:memaafkanperbedaanperpecahanpersatuanPertemuan Ulama dan Dai Asia TenggaraSyeikh Abdurrahman bin Nashir bin Sa’ditali AllahUkhuwahukhuwah Islamiyyah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pasangan Sutarmijdi – Ria Norsan Unggul di Pilkada Kalbar
Tulisan selanjutnya Edy-Musa Menang di Pilkada Sumut, Saksi Djarot-Sihar Protes

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?