Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Bacalah, Agar Keyakinan Semakin Kuat

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 28 Juni 2020 19:52 7:52 pm
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 28 Juni 2020 19:52
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | ISLAM dimulai dari membaca. Meskipun gerbang memasuki Islam terdapat pada dua kalimat Syahadat, namun sebelum memasuki gerbang itu, manusia perlu diantar dulu dengan membaca.

Iqro’ (bacalah), seruan Allah Ta’ala lewat malaikat Jibril mengawali al-Qur’an sebagaimana tertulis di ayat pertama surat Al Alaq [96]. Inilah ayat pertama yang diturunkan Allah Ta’ala kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau menyendiri di Gua Hiro.

Ayat pertama ini berisi seruan agar Rasulullah ﷺ membaca, bukan seruan agar bersyahadat. Meskipun setelah itu manusia harus bersyahadat sebagai bukti bahwa ia telah memeluk Islam, namun perintah membaca sebelum bersyahadat menjadi amat penting. Mengapa?

Jika tak kenal, mana mungkin akan tumbuh rasa cinta. Jika tak cinta, mana mungkin akan tumbuh rasa setia. Sebaliknya, jika telah tumbuh rasa cinta, maka tak akan berat untuk berkorban, baik harta, tenaga, bahkan nyawa. Begitulah logika sederhananya.

Jika kita tak mengenal Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, mana mungkin kita rela berkorban sebagai mana Bilal bin Rabah, salah seorang budak berkulit kelam yang kemudian menjadi salah seorang sahabat terbaik Rasulullah ﷺ.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Bilal pernah disiksa oleh tuannya, Umayyah bin Khalaf. Ia dijemur di tengah gurun pasir yang panas selama beberapa hari. Tak sekadar itu, perutnya ditindih batu besar dan lehernya diikat tali. Setiap kali selesai menyiksanya, orang-orang kafir menyurun anak-anak mereka menyeret Bilal di antara perbukitan Makkah.

Saat berada dalam siksaan tersebut, Bilal selalu berkata “Ahad … Ahad,” sebagai tanda peng-Esa-an Allah. Bilal tak pernah memenuhi permintaan majikannya dan orang-orang kafir untuk meninggalkan agama Muhammad ﷺ. Itulah yang membuat siksaannya semakin bertambah.

Jika tak mengenal Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, mana mungkin keluarga Yasir bisa bertahan dalam Islam walaupun disiksa dengan amat kejam oleh kaum kafir. Yasir dan isterinya Sumayyah akhirnya meninggal dalam siksaan tanpa sedikit pun berpaling dari Islam. Sejarah kemudian mencatatkan nama mereka sebagai syuhada pertama.

Kembali pada kisah turunnya ayat pertama dalam al-Qur’an. Peristiwa ini terjadi pada hari Senin, 21 Ramadhan, ketika Rasulullah ﷺberusia 40 tahun. Inilah masa awal kenabian.

“Bacalah!” kata Malaikat Jibril.

“Aku tidak bisa membaca,” jawab Rasulullah ﷺ sebagaimana diceritakan oleh Aisyah Ra dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Jibril kemudian mendekap Rasulullah ﷺ dengan sangat kuat sampai-sampai Rasulullah ﷺ tak bisa bernafas.

Setelah itu, cerita Aisyah lagi, Jibril melepaskan dekapan dan kembali berseru, “Bacalah!”

Rasulullah ﷺ kembali menjawab, “Aku tak bisa membaca.”

Jibril kembali mendekap Rasulullah ﷺ dengan sangat kuat, dan melepaskannya seraya berseru, “Bacalah!”

Lagi-lagi Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku tak bisa membaca.”

Untuk ketiga kalinya, Jibril mendekap Rasulullah ﷺ dengan sangat kuat, lalu melepaskannya dan berseru;

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ

ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS: Al Alaq [96]: 1-5)

Seruan Allah Ta’ala lewat Malaikat Jibril ini tentu bukan sekadar untuk Rasulullah ﷺ, namun juga untuk kita. Lantas, apa yang harus kita baca? Bila merujuk dari lima ayat pertama yang turun tersebut, maka hal pertama yang harus kita baca adalah penciptaan manusia.

Manusia —dan juga seluruh alam ini– tak mungkin ada dengan sendirinya. Ada Rabb yang menciptakannya. Manusia diciptakan oleh Rabb dari segumpal darah, kemudian menempel di rahim ibu. Tak berdaya. Tak mampu melakukan apa pun. Bahkan sekadar mencari makanan pun tak sanggup. Tak ada yang patut disombongkan pada diri manusia.

Hal kedua yang harus kita baca adalah ilmu yang diajarkan oleh Allah Yang Maha Pemurah dengan perantaraan pena. Syekh As Sadi, dalam Taisiri al Karimir Rahman, mengatakan, “Manusia dikeluarkan dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Lalu Allah menjadikan baginya penglihatan dan pendengaran serta hati sebagai jalan mendapatkaan ilmu.”

Mempelajari ilmu Allah Ta’ala, baik berupa ayat-ayat-Nya yang tersurat (qauliyah), yaitu al-Qur’an, dan yang tersirat, yakni alam semesta (kauniyah), akan mendekatkan kita kepada Sang Pencipta, mengokohkan iman kita dan memantapkan hati kita. Tentu saja, semua itu akan terjadi, apabila Allah Ta’ala menghendaki. Hidayah tetap turunnya dari Allah Ta’ala.

Nah, barangkali, kita memeluk Islam karena kedua orang tua kita telah Islam. Saat lahir, suara azan dan iqomat telah dibacakan di telinga kita. Sebelum baligh, kita juga telah diajarkan tata cara dan bacaan shalat. Kita telah memeluk Islam tanpa benar-benar menjalani proses membaca.

Jika itu yang terjadi, maka bersyukurlah. Setidaknya, Allah Ta’ala menakdirkan kita memiliki orang tua Muslim. Sehingga mudah buat kita menjadi Muslim.

Namun, kita harus sadar bahwa menjadi Muslim saja belumlah cukup. Kita harus menjalani proses membaca sebagaimana Rasulullah ﷺ dan para Sahabat juga menjalaninya.Wallahu alam.* Mahladi Murni

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bacalahiqra'
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pengorbanan Umat Islam untuk Kemerdekaan Indonesia
Tulisan selanjutnya Perempuan Kashmir India Mulai Terbitkan “Sertifikat Domisili” Menjepit Muslim Kashmir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?