oleh: Sholih Hasyim
Hidayatullah.com | ESENSI din adalah aslama (berserah diri). Dan di antara bentuk penyerahan itu adalah mengikuti millah (ajaran Ibrahim). Millah Ibrahim adalah berkurban, khitan, memakmurkan masjid, haji dan umrah.
Itulah sebabnya Ibrahim dikenal dengan Bapak Tauhid. Jadi, bentuk penyerahan diri itu adalah menomorsatukan Allah, tidak menduakan-Nya dengan sesuatu apa pun. Untuk mengikuti millah Ibrahim adalah dengan cara ittiba’ur Rasul (mengikuti Rasulullah ﷺ).
Dengan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ (Islam), maka secara otomatis disebut muslim. Islam adalah nama yang indah yang diberikan langsung oleh Allah.
Hanya agama Islam, yang diberi nama sesuai yang dikehendaki Allah sendiri, yang ini berbeda dengan agama lain. Memang ada yang berpendapat bahwa semua agama sama, karena memiliki bentuk aktifitas penyerahan yang sama.
Tetapi, justru bentuk penyerahan yang benar adalah Islam. Karena Islam bersumber langsung dari wahyu Allah SWT, yang kehadirannya, untuk meluruskan agama-agama yang terdahulu.
Rasulullah ﷺ bersabda : Sekiranya Nabi Musa kembali hidup kembali di tengah-tengah kalian, maka tidak ada sikap yang lain kecuali mengikuti aku (Rasulullah SAW) (al Hadits).
Barangsiapa mencari agama (din) selain Islam maka tidaklah diterima daripadanya (QS. Ali Imran (3) : 85).
Sesungguhnya agama (din) di sisi Allah adalah Islam (QS. Ali Imran (3) : 19).
Ibrahimlah yang memberi nama muslimin kepada pengikutnya (QS. Al Hajj (22) : 78).
Dari Din Menuju Madinah
Din (agama) selain Islam, kentara sekali hanya dipandang sebagai suplemen kehidupan. Agama ditempatkan pada ruang yang sempit dan pengap. Agama diceraikan dari kehidupan sosial. Inilah paham sekuler.
Konsepsi dīn menurut Prof Dr Syed Naquib al-Attas itu dibangun di atas makna dasar dari kata dīn itu sendiri, yaitu dayn (hutang), madīnah (kota), dayyān (penguasa, hakim), dan tamaddun(peradaban).
Selanjutnya dari kata dāna juga memperoleh kata madīnah (kota) yaitu suatu kehidupan dalam suatu peradaban, suatu kehidupan bermasyarakat yang diatur oleh hukum, peraturan, keadilan, dan otoritas. Suatu kota (madīnah) memiliki seorangpenguasa atau hakim yaitu dayyān.
Hal ini berhubungan erat secara konseptual dengan kata lain yakni maddana yang bermakna membangun kota atau membangun peradaban. Dari kata maddana inilah lahir istilah tamaddun yang bermakna peradaban.
Berbeda dengan agama lain, Islam harus dilibatkan dalam mengatur kehidupan. Islam yang dilaksanakan dalam sebuah tempat disebut madīnah. Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa Islam tidak memiliki rujukan ilmiah tentang pengelolahan negara. Justru, praktek Rasululullah ﷺ sebagai imamush shughro dan imamul kubra, lebih fasih dari teori bernegara dimanapun dan kapanpun.
Sejak umat Islam pertama, tidak ada dikotomi imam shalat dan imam negara. Beliau sebagai imamud dīn (imam shalat), sekaligus imamud daulah (pemimpin negara).
Madinah yang dibangun oleh Rasulullah tidak sekedar dimaknai perdaban kota atau kota yang berbudaya, tetapi sebuah wilayah kekuasaan yang menjangkau seluruh kawasan jazirah Arab. Rasulullah ﷺ secara fungsional membumikan fungsi kepemimpinan yang ideal.
Yaitu sebagai imam (dapat diteladani), amir (komandonya tajam), ra’in (penggembala), khadim (pelayan), khalifah (selalu memproses regenerasi), waliyyul amr (trampil dalam mengelola urusan yang dipimpin). Yang menjadi makmum tidak saja umat Islam, tetapi umat yang lain.
Madinah adalah pusat peradaban yang melahirkan aktor peradaban yang memiliki karakteristik salimul ‘aqidah (aqidahnya selamat dari kontaminasi kemusyrikan), shahihul ibadah (benar cara ibadahnya), karimul akhlak (mulia akhlaknya), mutsaqqaful fikr (cerdas berfikirnya), qadirun ‘alal kasb (mampu berusaha), shalih linafsihi dan shalih lighoirihi (shalih ritual dan shalih sosial).
Peradaban yang dibangun oleh Rasulullah ﷺ seimbang dan utuh. Memadukan antara akal dan iman, material dan immaterial, dunia dan akhirat. Menyatukan iman, ilmu dan amal dalam realitas kehidupan.
Peradaban yang dibangun Nabi mengoptimalkan potensi mujahadah, ijtihad dan jihad secara terpadu. Mereka bagaikan pendeta dan rahid di malam hari, siangnya hari bagaikan kuda perang (rahibun fillail wa farisun finnahar).
Tahapan pembangunan peradaban yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ selama 23 tahun adalah :
- Islamiyyatun nafs menuju hayatan thayyibah.
- Islamiyyatul bait menuju keluarga sakinah, mawaddah, rahmah, amanah wa ulfah.
- Islamiyyatu ahlil qura, ummul qura, ummul qura wa man haulaha menuju qoryah mubarokah.
- Islamiyyatul hukumah (islam state) menuju darul khidmah wad dakwah, darul amni was salam, memerdekakan budak (fakku raqabah), muth’imul ji’an (fuqara, yatama dan masakin).
- Islamiyyatul buldan (global state) menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
- Islamiyyatul ‘alam menuju kaffatan linnas, rahmatan lil ‘alamin. Agar tidak terjadi fitnah (kemusyrikan) dan ketaatan seluruhnya dikembalikan kepada Allah SWT.
Seharusnya kampus-kampus Islam didekasikan sebagai miniatur Madinah. Keberadaannya tidak semata-mata sebagai kampus pendidikan yang bersifat pengajaran, tetapi sebagai transfer nilai-nilai keislaman.
Kampus Islam didirikan sebagai upaya untuk menyatukan iman, ilmu dan amal dalam realitas kehidupan individu, keluarga dan masyarakat. Kampus adalah sebagai embrio masyarakat yang islami (islamiyah), terdidik (ilmiah), dan cinta lingkungan (alami).
Dari Madinah menuju Tamaddun
Sepeninggal Rasulullah ﷺ hakikat dan sifat Islam telah merasuk dalam diri para sahabat. Dari masyarakat madani yang dibangun oleh Rasulullah ﷺ yang berjumlah 125.000 orang dikategorikan sebagai khoirul kurun (masa yang terbaik) dikembangkan dan memancar menjadi peradaban dunia. Islam kemudian memimpin dunia selama seribu tahun sejak zaman Khalifah Rasyidah, Umayah, Abasiyah, hingga Utsmaniyah, tamaddun Islam telah mencerahkan dunia Timur dan Barat dengan kehidupan yang utuh dan seimbang.
Ketika Islam menjadi tamaddun (peradaban). Segala yang muncul yang diserap dari peradaban Islam bisa disifati dengan Islam.
Ada ilmu Islam, pendidikan Islam, ekonomi Islam, politik Islam, etika Islam, kebudayaan Islam, dll. Istilah tersebut menjadi janggal jika diberi kata sifat dengan agama lain. Bahkan di zaman modern ini peradaban Islam semakin menunjukkan jati dirinya dengan kemunculan institusi-institusi Islam, misalnya : bank Islam, asuransi islam, pasar modal Islam, dll.
Islam adalah din, madinah dan tamaddun. Istilah tersebut menyiratkan sebuah peradaban yang utuh dan seimbang. Tidak ada ruang dikotomi ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, akal dan iman, jasad dan ruh, jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat, doa dan ikhtiar, ritual dan sosial.
Dalam sejarah, Islam tidak mengenal dikotomi. Islam adalah agama tauhid. Yang mengajarkan kesatuan ketuhanan, kesatuan dalam iman, kesatuan dalam ibadah, kesatuan dalam akhlak, kesatuan dalam kepemimpinan, kesatuaan dalam bahasa, kesatuan dalam rujukan, kesatuaan dalam berbagai aspek kehidupan yang lain.*
Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah