Hidayatullah.co | TERM bahagia memang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi insan manusia. Boleh dikata kebahagiaan menjadi hikmah penciptaan.
Sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa’adah. “Nabi Adam dan anak cucunya akan lebih merasa arti kebahagiaan setelah mengalami ujian lelah-lelah di dunia. Namun Allah Maha Tahu dibalik semuanya,” kata Ibnul Qayyim.
Ada orang yang rela mengorbankan segalanya demi meraih kebahagiaan itu. Saking menariknya, para filsuf zaman old hingga akademisi zaman now berusaha sekuat tenaga merumuskan hakikat dari kebahagiaan beserta bagaimana cara meraihnya.
Sebut saja Kirene di masa aristipos sekitar 300 tahun sebelum masehi, begitu pun Sang filsuf kondang Aristoteles mencoba merenda makna. Di masa kini, seorang ilmuwan bernama Adrian White (2007) dari Universitas di Leicester, Inggris juga berusaha merumuskannya.
Uniknya jika sebelumnya parameter kebahagiaan dilihat secara personal, Adrian merilis indikator kebahagiaan dengan ukuran rata-rata sebuah negara. Hingga muncul nama-nama Negara seperti Denmark bertengger di urutan teratas sebagai negara paling bahagia di dunia sementara Berundi di posisi buncit, Indonesia menempati posisi negara nomor 64 negara terbahagia di jagat raya.
Hasil penelitian Endah Puspita dari UII Jogja (2018), menulis bahwa hingga pada tahun 2015 terdapat sekitar 660.000 jurnal yang meneliti term kebahagiaan. Namun sayang dari sebagian besar penelitian menggunakan parameter kebahagiaan yang bersifat sementara, fana, tidak abadi yakni sebatas kebahagiaan duniawi.
Indikatornya seperti tercapainya kebutuhan badani alias jasmani di sebuah negara.
Padahal kebahagiaan hakiki adalah kebahagian duniawi yang berdimensi ukhrawi. Artinya kebahagiaan yang didapat di dunia dalam rangka mengejar tujuan utamanya yakni kenahagiaan ukhrawi.
Pun kebahagiaan bukanlah semata terjaminnya hasrat badani. Boleh jadi orang yang badannya terpenjara tapi tetep bahagia. Sebagaimana misal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang pernah berkata: “Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku, jika aku dipenjara berarti jadi tempatku berkhalwat dengan Allah, jika aku diusir dari kampungku maka menjadi tamasyaku, dan jika mereka membunuhku berarti aku mati syahid”.
Itulah kebahagian yang menembus batas-batas logika liberal. Artinya kebahagiaan tidak semata terindera dari fisiknya namun sampai ke lerung hatinya yang paling dalam.
Sebaliknya juga, orang yang tampak tercukupi kebutuhan duniawinya namun kebahagiaan juga sebenarnya jauh darinya.
Kiat Bahagia Dunia Akhirat
Maka yang tepat adalah menjadikan kebahagiaan itu adalah menjadi hikmah, bukan menjadi tujuan hidup di dunia. Sebab jika kebahagiaan menjadi tujuan hidup di dunia maka dia tidak akan menemui.
Jika ketemu pun hanya sementara. Sedangkan apabila menjadi hikmah hidup artinya dengan mengejar ridha Yang Maha Rahman, maka akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
Imam Al-Ghazali dalam Kimiya’us Sa’adah memberikan resep dahsyat supaya kita memperoleh kebahagiaan dunia akhirat. Yaitu:
Pertama: Ma’rifatullah (mengenal Allah)
Dengan mengenal Allah maka kita akan tau siapakah Tuhan satu-satunya yang berhak disembah dan diibadahi. Menimbulkan rasa cinta kepadanya (mahabbah), takut (khauf), sekaligus harap (raja’) kepada Dzat yang telah menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan lainnya.
Kedua: Ma’rifatunnafs (mengenal diri sendiri)
Mengenal diri juga bisa sebagai cara untuk mendekatkan diri pada Allah. Imam Ghazali kemudian mengajak kita untuk bertanya terhadap diri sendiri, diantaranya: “Aku ini siapa? dari mana, untuk apa dan mau kemana? Apa yang bisa membuatku bahagia, dan apa yang membuatku sengsara?
Ketiga: ma’rifatud dunya (mengenal dunia)
Sudah jamak deketahui bahwa dunia itu sifatnya sementara, fana, dsn menipu. Seringkali dunia datang dengan cantik rupanya sehingga dapat membuat kita terlena karenanya. Namun yang sementara ini juga menjadi jalan untuk manusia memperoleh kebahagiaan yang kekal abadi di surga-Nya dengan cara mentaatinya. Bukan dengan mengejar kebahagian dunia dengan menghalalkan segala cara.
Penulis Kimiya’us Sa’adah ini memberikan tamsil (permisalan) yang menarik; jika kita hidup hanya untuk cari makan, lalu untuk tidur, cari makan lagi, apa bedanya dengan hewan? Jika kita hidup didunia hanya untuk menipu, mendzalimi, atau “mengkriminalisasi” apa bedanya dengan setan?
Keempat: Ma’rifatul akhirah (mengenal akhirat)
Akhirat adalah tempat kita mudik ke kampung halaman kita yang sebenarnya. Sifatnya kekal dan abadi. Kalau kita mudik ke kampung halaman disaat lebaran yang sangat sebentar misalnya, kita memerlukan persiapan dan perbekalan yang cukup, maka seharunya persiapan dan perbekalan ke akhirat juga mesti lebih diperhatikan.
Itulah kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan dunia yang berdimensi akhirat. Boleh jadi raga sedang dipenjara, tapi hati serasa di surga karena semakin dekat dengan Allah.
Itulah ajaib dan menakjubkannya keadaan seorang mukmin. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist Nabi ﷺ. Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له
“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR: Muslim).*/Ali Mustofa Akbar, penulis buku