Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Raga (Mungkin) Terpenjara, Tapi Hati Bahagia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 November 2021 13:48 1:48 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 November 2021 14:30
Bagikan
bahagia
Lukisan Jalanan Banksy: Girl With Balloon
Bagikan

Hidayatullah.co | TERM bahagia memang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi insan manusia. Boleh dikata kebahagiaan menjadi hikmah penciptaan.

Sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim dalam Miftah Daris Sa’adah. “Nabi Adam dan anak cucunya akan lebih merasa arti kebahagiaan setelah mengalami ujian lelah-lelah di dunia. Namun Allah Maha Tahu dibalik semuanya,” kata Ibnul Qayyim.

Ada orang yang rela mengorbankan segalanya demi meraih kebahagiaan itu. Saking menariknya, para filsuf zaman old hingga akademisi zaman now berusaha sekuat tenaga merumuskan hakikat dari kebahagiaan beserta bagaimana cara meraihnya.

Sebut saja Kirene di masa aristipos sekitar 300 tahun sebelum masehi, begitu pun Sang filsuf kondang Aristoteles mencoba merenda makna. Di masa kini, seorang ilmuwan bernama Adrian White (2007) dari Universitas di Leicester, Inggris juga berusaha merumuskannya.

Uniknya jika sebelumnya parameter kebahagiaan dilihat secara personal, Adrian merilis indikator kebahagiaan dengan ukuran rata-rata sebuah negara. Hingga muncul nama-nama Negara seperti Denmark bertengger di urutan teratas sebagai negara paling bahagia di dunia sementara Berundi di posisi buncit, Indonesia menempati posisi negara nomor 64 negara terbahagia di jagat raya.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Hasil penelitian Endah Puspita dari UII Jogja (2018), menulis bahwa hingga pada tahun 2015 terdapat sekitar 660.000 jurnal yang meneliti term kebahagiaan. Namun sayang dari sebagian besar penelitian menggunakan parameter kebahagiaan yang bersifat sementara, fana, tidak abadi yakni sebatas kebahagiaan duniawi.
Indikatornya seperti tercapainya kebutuhan badani alias jasmani di sebuah negara.

Padahal kebahagiaan hakiki adalah kebahagian duniawi yang berdimensi ukhrawi. Artinya kebahagiaan yang didapat di dunia dalam rangka mengejar tujuan utamanya yakni kenahagiaan ukhrawi.

Pun kebahagiaan bukanlah semata terjaminnya hasrat badani. Boleh jadi orang yang badannya terpenjara tapi tetep bahagia. Sebagaimana misal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang pernah berkata: “Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku, jika aku dipenjara berarti jadi tempatku berkhalwat dengan Allah, jika aku diusir dari kampungku maka menjadi tamasyaku, dan jika mereka membunuhku berarti aku mati syahid”.

Itulah kebahagian yang menembus batas-batas logika liberal. Artinya kebahagiaan tidak semata terindera dari fisiknya namun sampai ke lerung hatinya yang paling dalam.

Sebaliknya juga, orang yang tampak tercukupi kebutuhan duniawinya namun kebahagiaan juga sebenarnya jauh darinya.

Kiat Bahagia Dunia Akhirat

Maka yang tepat adalah menjadikan kebahagiaan itu adalah menjadi hikmah, bukan menjadi tujuan hidup di dunia. Sebab jika kebahagiaan menjadi tujuan hidup di dunia maka dia tidak akan menemui.

Jika ketemu pun hanya sementara. Sedangkan apabila menjadi hikmah hidup artinya dengan mengejar ridha Yang Maha Rahman, maka akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.

Imam Al-Ghazali dalam Kimiya’us Sa’adah memberikan resep dahsyat supaya kita memperoleh kebahagiaan dunia akhirat. Yaitu:

Pertama: Ma’rifatullah (mengenal Allah)

Dengan mengenal Allah maka kita akan tau siapakah Tuhan satu-satunya yang berhak disembah dan diibadahi. Menimbulkan rasa cinta kepadanya (mahabbah), takut (khauf), sekaligus harap (raja’) kepada Dzat yang telah menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan lainnya.

Kedua: Ma’rifatunnafs (mengenal diri sendiri)

Mengenal diri juga bisa sebagai cara untuk mendekatkan diri pada Allah. Imam Ghazali kemudian mengajak kita untuk bertanya terhadap diri sendiri, diantaranya: “Aku ini siapa? dari mana, untuk apa dan mau kemana? Apa yang bisa membuatku bahagia, dan apa yang membuatku sengsara?

Ketiga: ma’rifatud dunya (mengenal dunia)

Sudah jamak deketahui bahwa dunia itu sifatnya sementara, fana, dsn menipu. Seringkali dunia datang dengan cantik rupanya sehingga dapat membuat kita terlena karenanya. Namun yang sementara ini juga menjadi jalan untuk manusia memperoleh kebahagiaan yang kekal abadi di surga-Nya dengan cara mentaatinya. Bukan dengan mengejar kebahagian dunia dengan menghalalkan segala cara.

Penulis Kimiya’us Sa’adah ini memberikan tamsil (permisalan) yang menarik; jika kita hidup hanya untuk cari makan, lalu untuk tidur, cari makan lagi, apa bedanya dengan hewan? Jika kita hidup didunia hanya untuk menipu, mendzalimi, atau “mengkriminalisasi” apa bedanya dengan setan?

Keempat: Ma’rifatul akhirah (mengenal akhirat)

Akhirat adalah tempat kita mudik ke kampung halaman kita yang sebenarnya. Sifatnya kekal dan abadi. Kalau kita mudik ke kampung halaman disaat lebaran yang sangat sebentar misalnya, kita memerlukan persiapan dan perbekalan yang cukup, maka seharunya persiapan dan perbekalan ke akhirat juga mesti lebih diperhatikan.

Itulah kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan dunia yang berdimensi akhirat. Boleh jadi raga sedang dipenjara, tapi hati serasa di surga karena semakin dekat dengan Allah.

Itulah ajaib dan menakjubkannya keadaan seorang mukmin. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist Nabi ﷺ. Dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

عجبًا لأمرِ المؤمنِ . إن أمرَه كلَّه خيرٌ . وليس ذاك لأحدٍ إلا للمؤمنِ . إن أصابته سراءُ شكرَ . فكان خيرًا له . وإن أصابته ضراءُ صبر . فكان خيرًا له

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR: Muslim).*/Ali Mustofa Akbar, penulis buku

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bahagia dunia-akhiratkebahagiaan dalam Islamkunci kebahagiaan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya bonus demografi Sambut Bonus Demografi, Ketum MUI Serukan Sikap Washatiyah
Tulisan selanjutnya Terkuak 31 Ribu PNS Terima Bansos, Menko PMK: Harus Dikembalikan, Akui Ada Kesalahan Input Data

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?