Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Hati yang Terkunci

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 April 2022 08:49 8:49 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 April 2022 08:47
Bagikan
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bagikan

Pada hati manusia terdapat kunci. Hati yang terkunci membuat dirinya tersesat, rusak atau mati

Hidayatullah.com | BAYANGKAN sebuah ruangan yang terkunci rapat. Pintunya amat kokoh. Tak ada yang sanggup mendobraknya. Tak ada juga yang bisa membukanya kecuali sang pemegang kunci.

Bayangkan kembali jika orang yang kita sayangi ada di dalamnya. Kita ingin menemuinya namun tentu tak bisa.

Kita tak punya kuasa membuka pintu itu, tak punya kekuatan untuk mendobraknya. Yang bisa kita lakukan hanyalah memohon kepada sang pemegang kunci agar bersedia membukanya.

Lalu bagaimana bila kita tidak dekat dengan sang pemilik kunci? Bagaimana pula bila selama ini kita juga tak pernah mempedulikan seruan sang pemilik kunci, dan tidak juga memperhatikan larangannya? Bahkan memohon kepadanya pun kita tak sempat? Mungkinkah dia mau membukakan kunci itu untuk kita?

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Itulah perumpamaan hati manusia. Hati ibarat ruangan yang terbuka sehingga bisa menerima nasehat-nasehat kebaikan.

Namun, hati juga bisa tertutup dan terkunci rapat sehingga tak ada kebenaran yang bisa masuk ke dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat Muhammad [47] ayat 24;

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS: Muhammad [47]: 24)

Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya tentang ayat ini bahwa pada hati manusia terdapat kunci. Jika hati telah terkunci maka ia akan mati. Tak satu pun dapat masuk ke dalamnya untuk menghidupkannya kembali kecuali Allah Ta’ala.”

Ibnu Jarir mengatakan, bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ membacakan ayat di atas kepada para sahabatnya. Setelah itu, seorang pemuda dari Yaman berkata, “Bahkan hatinya memang terkunci hingga Allah sendiri yang membukanya.” 

Hati yang terkunci, menurut Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam Kitab Miftah Daris Sa’adah, tak sekadar menutup masuknya ilmu dan kebaikan dari luar, namun juga bisa membuat ilmu yang berada di dalamnya menjadi gelap. Bekasnya pun mungkin sudah tak ada. Akibatnya, apa-apa yang seharusnya membuat seseorang mendapat petunjuk kebenaran, justru menjadi sebab kesesatan.

Singkatnya, menurut Ibn Qayyim, hati yang terkunci akan membuat seseorang tersesat dan akhirnya menjadi rusak. Ketika hati sudah rusak, daya nalar pun ikut rusak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

 “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (qalb)” (HR: Bukhari dan Muslim).

Karena itu jangan heran bila kita mendapati orang-orang di sekitar kita, termasuk orang-orang yang kita sayangi, sulit sekali menerima nasehat. Meskipun kita telah mengemukakan nasehat-nasehat kebaikan kepada mereka, dengan rujukan yang jelas dan adab yang juga baik, mereka akan tetap membantahnya.

Kalau pun mereka dengarkan, tak akan masuk ke dalam hati mereka. Nasehat itu tak akan mereka laksanakan. Ini semua karena hati mereka telah terkunci.

Ketika kita mendapati keadaan seperti jni, maka hal utama yang harus kita lakukan adalah berdoa kepada Allah Ta’ala, Sang Pemegang Kunci Hati Manusia, agar bekenan membukakan pintu hati orang-orang yang kita kasihi untuk masuknya hidayah. Hanya Allah Ta’ala yang bisa membuka hatinya, bukan manusia.

Ketika kita terus berdakwah kepadanya maka hal itu semata untuk mencari keridhoan Allah Ta’ala agar Allah Ta’ala melihat kesungguhan kita dan keinginan kita yang begitu besar agar orang-orang yang kita sayangi ini terselamatkan dari kesesatan. Mudah-mudahan Allah Ta’ala akan mengabulkan doa kita.

Namun bila tidak, maka Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui akan segala sesuatu. Bukankah putra Nabi Nuh AS juga terkunci hatinya meskipun Nabi Nuh AS telah memohon kepada Allah Ta’ala agar Allah Ta’ala membukakan hati putranya untuk enerima kebenaran? Bukankah ayah Nabi Ibrahim tetap terkunci hatinya meskipun Nabi yang dijuluki “Kekasih Allah” ini memohonkan hidayah untuk ayahnya?

Tetaplah berdoa, berupaya, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.*/Mahladi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hatihati yang tekuncihidayahqalb
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 5 Film Palestina yang Wajib Anda Tonton di Netflix
Tulisan selanjutnya Kepala Kuil Dasna Devi: 50% Orang Hindu Masuk Islam jika Muslim Menjadi Perdana Menteri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli

Berita
14 Juni 2026 08:21
Pasokan Avtur Saudi ke Eropa Melebihi Sebelum Penutupan Selat Hormuz
Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

Terbaru

  • Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi
  • Tak Hanyut Oleh Banjir: Asa Santri Aceh Tamiang Tetap Menyala
  • Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh
  • Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
  • Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli
  • UEA Bantah Laporan Transfer $3 Miliar ke Iran
  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?